Menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat. Khutbah Jumat ini mengajak jamaah memulainya dari lisan dan jari: tabayun sebelum percaya dan menyebarkan.

Materi Khutbah Jumat: Menjaga Keamanan Bersama, Dimulai dari Lisan dan Jari Kita

Terakhir diperbarui pada ·

Materi Khutbah Jumat:
Menjaga Keamanan Bersama, Dimulai dari Lisan dan Jari Kita
Pemateri: Ustadz Fairuz An Nafidz

Mukadimah Khutbah Jumat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، امْتَنَّ عَلَى عِبَادِهِ بِالْأَمْنِ وَالِاسْتِقْرَارِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، حَذَّرَ أُمَّتَهُ مِنَ الْفِتَنِ وَالْإِرْجَافِ وَالْإِشَاعَاتِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Khutbah Pertama

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita begitu banyak nikmat, termasuk nikmat yang paling sering kita lupakan sebab terlalu sering kita rasakan setiap hari, yaitu nikmat keamanan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman.

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab hanya dengan takwa itulah, kita dapat meraih keselamatan dunia dan akhirat.

Keamanan Adalah Nikmat yang Agung

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Coba kita renungkan sejenak perjalanan hidup kita hari ini. Kita bisa berangkat ke masjid dengan tenang, tanpa rasa was-was akan keselamatan di jalan. Para pedagang bisa membuka lapak dan berdagang seperti biasa. Anak-anak kita bisa berangkat sekolah, bermain, dan pulang ke rumah dengan selamat. Keluarga kita bisa berkumpul, beribadah, dan menjalani kehidupan sosial tanpa dibayangi ketakutan.

Semua itu terasa biasa, bahkan sering kita anggap sudah semestinya terjadi begitu saja. Padahal, semua itu adalah buah dari nikmat keamanan yang setiap hari kita rasakan, dan yang setiap hari pula sepatutnya kita syukuri dengan ikut menjaga keamanan itu sendiri.

Allah subhanahu wata’ala mengingatkan kita tentang nikmat ini dalam Surah Quraisy ayat 4. Allah berfirman:

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍࣖ ۝٤

“(Allah) yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.”

Dua nikmat ini, yaitu kecukupan makanan dan rasa aman, disebutkan Allah secara berdampingan, karena keduanya adalah fondasi bagi manusia untuk bisa menjalani kehidupan dengan tenang.

Sebagaimana Allah kisahkan dalam Surah al-Baqarah ayat 126, saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang pertama kali ke kota Makkah dan berdoa, hal pertama yang beliau minta bukanlah kekayaan atau kekuasaan, melainkan keamanan. Allah mengabadikan doa itu di dalam al-Quran:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman…'”

Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa keamanan adalah kebutuhan paling mendasar, yang harus terpenuhi sebelum kebutuhan-kebutuhan lain bisa dijalani dengan baik.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi hadits nomor 2346 dan Imam Ibnu Majah hadits nomor 4141, dari ‘Ubaidullah bin Mihshan al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.”

Coba kita bayangkan, hanya dengan tiga hal sederhana ini, Rasulullah menyebutnya setara dengan memiliki seluruh dunia. Maka sepatutnya kita bersyukur atas nikmat ini, dan sepatutnya kita ikut menjaga keamanan yang selama ini kita nikmati.

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Singkat: Mensyukuri Nikmat Aman

Menjaga Keamanan Adalah Tanggung Jawab Bersama

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Menjaga keamanan sering kita anggap sebagai tugas aparat keamanan semata, tugas pemerintah, atau tugas tokoh masyarakat. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru sebab memang mereka memiliki tanggung jawab besar dalam hal ini.

Namun, menjaga keamanan sesungguhnya adalah tanggung jawab bersama. Ia menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat dalam menjalankan tugasnya, serta tanggung jawab tokoh masyarakat dalam membina lingkungannya.

Ia juga menjadi tanggung jawab kepala keluarga dalam menjaga rumah tangganya, dan tanggung jawab setiap individu dalam menjaga sikap serta perilakunya sehari-hari.

Bentuk tanggung jawab yang bisa kita lakukan secara langsung sebenarnya sederhana: tidak membuat keributan, tidak memprovokasi, tidak menuduh orang lain tanpa dasar yang jelas, dan tidak memperburuk situasi. Salah satu bentuk tanggung jawab yang paling sering luput dari perhatian kita adalah kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Menjaga Keamanan Dimulai dari Cara Kita Menerima dan Menyebarkan Berita

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Dahulu, sebuah kabar berpindah dari mulut ke mulut, butuh waktu berhari-hari untuk sampai dari satu kampung ke kampung lain. Sekarang, sebuah pesan bisa berpindah dari satu telepon ke ribuan telepon hanya dalam hitungan detik. Kita mungkin pernah menerima pesan berantai di grup percakapan yang tidak jelas sumbernya. Kita mungkin pernah melihat video lama yang disebarkan seolah-olah kejadian baru. Kita mungkin pernah membaca judul berita yang terkesan menakutkan, padahal isinya jauh berbeda dari judulnya. Semua itu bisa kita terima dan kita teruskan hanya dalam hitungan detik, tanpa sempat kita pikirkan dulu benar atau tidaknya.

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi derasnya arus informasi ini? Islam telah mengajarkan jawabannya sejak berabad-abad silam. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sikap meneliti dan memastikan kebenaran suatu berita inilah yang dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah tabayun. Tabayun bukan berarti kita harus mencurigai semua orang atau berprasangka buruk kepada siapa pun yang menyampaikan kabar. Tabayun juga bukan berarti kita menjadi pribadi yang serba curiga. Tabayun hanya mengajarkan satu hal sederhana: memastikan dulu sebelum kita percaya, dan memastikan dulu sebelum kita sebarkan.

Baca artikel terkait: Menjadi Raja Najasyi: Raja Habasyah yang Teliti Informasi

Bahkan, Islam mengingatkan kita agar tidak mudah menjadi penyambung lidah bagi setiap kabar yang kita dengar, sekalipun kita tidak bermaksud untuk berdusta. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam mukadimah kitab _Shahih_-nya, hadits nomor 5, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.”

Hadits ini mengingatkan kita bahwa kita tidak harus menjadi pembuat kabar bohong untuk ikut menyebabkan kerusakan. Cukup dengan sembarangan meneruskan berita yang belum jelas, kita sudah bisa menjadi bagian dari masalah itu sendiri, meskipun kita tidak bermaksud berdusta.

Baca artikel terkait: Bentengi Diri dari Berita Hoaks dengan Prinsip Ilmu Hadits

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini sangat relevan bagi kita. Setiap pesan yang kita terima, sebelum kita teruskan kepada orang lain, sepatutnya kita saring dahulu kebenarannya. Sikap kehati-hatian semacam ini adalah salah satu wujud nyata dalam menjaga keamanan, sebab satu kabar yang keliru bisa memicu keresahan yang sebenarnya bisa kita cegah sejak awal.

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Mari kita renungkan apa yang bisa terjadi ketika sebuah informasi yang belum jelas kebenarannya kita sebarkan begitu saja.

Ia bisa mencemarkan kehormatan seseorang yang sebenarnya tidak bersalah.

Ia bisa menimbulkan prasangka buruk di antara tetangga yang tadinya hidup rukun.

Ia bisa merusak hubungan keluarga dan pertemanan yang telah terjalin bertahun-tahun.

Ia bisa memicu pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Bahkan, ia bisa menimbulkan kepanikan yang mengganggu ketenteraman satu wilayah, hanya karena satu pesan yang belum tentu benar.

Dari sini kita bisa memahami bahwa menjaga keamanan sesungguhnya juga berkaitan erat dengan bagaimana kita menjaga informasi yang keluar dari tangan kita sendiri.

Bentuk Nyata Menjaga Keamanan di Era Digital

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Lantas, apa yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bentuk nyata dalam menjaga keamanan di lingkungan kita?

Yang pertama dan paling utama, jangan mudah percaya pada sebuah kabar hanya karena ia datang dari orang yang kita kenal. Periksa dahulu kebenarannya, baru kita yakini. Begitu pula ketika hendak menyebarkan, pastikan dahulu sumbernya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, sebab belum tentu semua yang kita terima layak untuk kita teruskan.

Hendaknya kita juga tidak tergoda untuk menyebarkan sesuatu hanya karena terasa menarik atau mengejutkan, sebab sesuatu yang menarik belum tentu benar adanya. Jika ada persoalan yang tidak kita pahami dengan baik, lebih baik kita bertanya kepada orang yang memiliki ilmu atau kewenangan atas persoalan tersebut, daripada kita menyimpulkan sendiri lalu menyebarkannya kepada orang lain. Dan jika sebuah informasi tidak jelas kebenarannya, serta tidak ada manfaatnya untuk disebarkan, maka sikap yang paling bijak adalah meninggalkannya begitu saja.

Nasihat-nasihat ini terlihat sederhana. Namun, apabila diamalkan oleh banyak orang secara bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi ketenteraman kita semua.

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Tips Menangkal Informasi Hoaks

_Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,_

Kita mungkin tidak memiliki kewenangan untuk menjaga keamanan sebuah daerah, sebagaimana yang dimiliki aparat keamanan. Namun kita memiliki kendali penuh atas apa yang keluar dari mulut kita, dan apa yang kita sebarkan melalui tangan kita. Dari situlah menjaga keamanan yang sesungguhnya bisa kita mulai.

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Menjaga Lisan di Era Digital

Kita mungkin tidak sanggup menjaga keamanan negeri ini dengan kekuatan besar, tetapi kita bisa ikut menjaganya dengan tidak menambah keresahan. Cukup dengan memastikan informasi yang didapat sebelum membicarakan, dan berpikir dulu sebelum menyebarkan.

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga negeri kita dalam keamanan dan ketenteraman, serta menjadikan kita semua sebagai bagian dari orang-orang yang ikut menjaga keamanan itu, bukan orang-orang yang menambah keresahan di dalamnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ

اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْإِيْغُوْرَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي الصِّيْنِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِيْ سُوْرِيَا

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ

وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjaga Keamanan Bersama, Dimulai dari Lisan dan Jari Kita
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading