Gambar Featured dakwah.id Karhutla dan Kepedulian Umat Islam terhadap Lingkungan.jpg

Materi Khutbah Jumat: Karhutla dan Kepedulian Umat Islam terhadap Lingkungan

Terakhir diperbarui pada ·

Materi Khutbah Jumat:
Karhutla dan Kepedulian Umat Islam terhadap Lingkungan

Pemateri: Ustadz Adib Fattah Suntoro, M.Ag.

Mukadimah Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا، وَجَعَلَ الْإِنْسَانَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ، وَأَمَرَهُ بِالْإِصْلَاحِ وَنَهَاهُ عَنِ الْإِفْسَادِ فِيهَا

وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا، إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya kita wujudkan dalam ibadah di masjid, tetapi juga dalam sikap dan perbuatan kita ketika menjalani kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan satu persoalan yang dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali kita abaikan, yaitu kepedulian terhadap lingkungan.

Asap Karhutla yang Ditanggung Banyak Orang

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Pernahkah kita membayangkan hidup di tengah asap tebal yang menutupi langit, udara yang membuat sesak napas, dan lingkungan yang tidak lagi aman bagi anak-anak kita? Itulah yang dialami sebagian saudara kita di Kalimantan dan sekitarnya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Seberapa parah kondisi di sana? Laporan data yang ada menunjukkan, pada 13 Oktober 2026, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tercatat mencapai 4.055, jauh melampaui ambang kategori berbahaya, yakni 300.

Sehari kemudian, konsentrasi partikel halus PM2.5 dilaporkan mencapai 2.512 mikrogram per meter kubik. Ini artinya, kondisi udara di sana sudah pada tahap yang sangat berbahaya.

Lebih memprihatinkan lagi, dampak karhutla tidak berhenti di wilayah yang terbakar. Asapnya terbawa angin, melintasi batas negara, hingga mengganggu kehidupan masyarakat di negeri tetangga. Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina turut terdampak pencemaran udara akibat asap karhutla di Kalimantan.

Bayangkan, ketika hutan dibakar demi kepentingan segelintir orang, tetapi jutaan manusia harus ikut menghirup asapnya. Masyarakat yang tidak tahu-menahu ikut menanggung akibatnya, bahkan sampai ke negeri tetangga.

Kerusakan Lingkungan Bukan Hanya Karhutla

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Persoalan kerusakan lingkungan tentu tidak hanya kebakaran hutan. Sampah yang menggunung, sungai yang tercemar, saluran air yang tersumbat, serta polusi yang kita hirup setiap hari, itu semua juga merupakan kerusakan lingkungan yang perlahan mengganggu bahkan mengancam kehidupan kita.

Ironisnya, sebagian kerusakan tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri. Ada yang membakar lahan demi keuntungan, membuang limbah tanpa memikirkan akibatnya, atau membuang sampah ke sungai karena merasa urusan selesai setelah sampah berpindah dari tangannya.

Padahal, sampah yang kita buang sembarangan tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat dan mungkin menjadi masalah bagi orang lain. Limbah yang dibuang ke sungai tidak lenyap begitu saja, tetapi dapat mencemari air yang digunakan masyarakat.

Hutan yang dirusak demi keuntungan sesaat dapat meninggalkan bencana yang harus ditanggung banyak orang. Inilah persoalannya: sebagian orang menikmati keuntungan, sementara orang lain menanggung kerugiannya.

Larangan Merusak Bumi dalam Islam

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam Islam, merusak lingkungan bukan perkara sepele. Allah subhanahu wata’ala dengan tegas melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi. Allah berfirman dalam Surah al-A’raf ayat 56,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

Muhammad Abu Zahrah dalam karyanya Zahratut Tafasir menjelaskan bentuk kerusakan di bumi, di antaranya,

وَإِفْسَادُهَا إِشَاعَةُ الظُّلْمِ، وَإِفْسَادُ مَا تُنْتِجُ، وَالتَّعَدِّي وَالتَّعَاوُنُ عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَقَطْعُ الْأَشْجَارِ وَحَرْقُ الثِّمَارِ

“Kerusakan di bumi meliputi penyebaran kezaliman, perusakan hasil bumi, tindakan melampaui batas, saling membantu dalam dosa dan permusuhan, menebang pepohonan, serta membakar tanaman.”

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Perhatikanlah, bagaimana Abu Zahrah memasukkan tindakan merusak tanaman dan menebang pepohonan ke dalam pembahasan kerusakan di bumi. Maka sungguh, ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak merusak tatanan kehidupan yang telah Allah ciptakan.

Bumi dengan air, udara, hutan, dan segala sumber kehidupannya merupakan nikmat yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas.

Karena itu, membuang sampah sembarangan, mencemari sumber air, dan merusak alam demi kepentingan pribadi bukan hanya menunjukkan rendahnya kesadaran lingkungan. Jika tindakan tersebut membahayakan dan merugikan orang lain, maka pantaslah itu disebut kezaliman.

Bukankah orang yang membuang sampah ke sungai turut membahayakan masyarakat yang tinggal di hilir? Bukankah orang yang merusak hutan tanpa tanggung jawab dapat memperbesar risiko bencana bagi penduduk sekitarnya? Bukankah generasi mendatang juga berhak menikmati lingkungan yang layak, sebagaimana kita menikmatinya hari ini?

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Singkat: Merawat Alam Bagian dari Iman

Amanah Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,_

Persoalan lingkungan ini juga mengingatkan kita pada kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 30,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'”

Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam dalam tafsirnya jilid 1 halaman 115 menerangkan bahwa kata khalifah dapat dimaknai sebagai pihak yang menggantikan pihak sebelumnya (al-khalifatu man qama maqama ghairihi).

Maka dalam konteks ini, beliau menjelaskan bahwa Adam dan keturunannya menjadi khalifah yang silih berganti dalam menegakkan kebenaran dan memakmurkan bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk mengelola kehidupan di bumi dengan baik, bukan merusaknya demi kepentingan pribadi.

Amanah ini mencakup banyak hal: menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan air secara bijak, tidak mencemari udara dan sungai, mengelola sampah dengan benar, serta tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Jangan sampai kita mengaku sebagai khalifah Allah, tetapi justru menjadi sumber kerusakan bagi bumi yang dititipkan kepada kita. Sebab, memakmurkan bumi bukan sekadar mengambil manfaat darinya, melainkan juga menjaga agar manfaat itu tetap dapat dirasakan oleh sesama manusia dan generasi yang akan datang.

Kita boleh memanfaatkan hasil bumi, membangun rumah, membuka lahan, dan mengembangkan usaha. Akan tetapi, semua itu harus dilakukan dengan tanggung jawab, tidak melampaui batas, dan tidak mendatangkan kerusakan yang membahayakan kehidupan.

Baca artikel terkait: Tugas Khalifah di Bumi: Larangan Israf dan Penyebab Kerusakan

Musibah Karhutla dan Peringatan agar Kembali

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Dalam ayat yang lain, Allah juga mengingatkan kita tentang kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah ar-Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Imam as-Sam’ani dalam tafsirnya jilid 4 halaman 217 menjelaskan bahwa kerusakan di bumi terjadi karena dosa dan perbuatan manusia sendiri. Allah membiarkan manusia merasakan sebagian akibat perbuatannya agar mereka kembali kepada-Nya dan bertobat.

Coba kita perhatikan keadaan di sekitar kita. Sampah dibuang sembarangan, sungai dicemari limbah, udara dipenuhi asap, dan alam dirusak demi kepentingan tertentu. Namun, ketika banjir datang, air bersih sulit didapat, dan penyakit mulai menyerang, barulah kita merasakan akibatnya.

Padahal, kerusakan itu tidak muncul begitu saja. Ada perbuatan manusia yang turut menyebabkannya.

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Bencana Alam dan Amanah Memakmurkan Bumi

Karena itu, ayat ini mengingatkan kita agar tidak sekadar mengeluh ketika bencana datang, tetapi juga berani memperbaiki perilaku kita. Saat banjir melanda, jangan hanya sibuk menyalahkan keadaan.

Saat sungai tercemar, jangan pura-pura tidak tahu siapa yang mengotorinya. Saat udara dipenuhi asap, jangan menganggapnya sebagai musibah biasa. Kita perlu mencari penyebabnya dan menghentikan perbuatan yang merusak.

Tentu, tidak setiap bencana disebabkan oleh satu faktor, dan tidak setiap musibah dapat dibebankan kepada individu tertentu. Namun, manusia tetap bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya sendiri.

Jangan sampai kita hanya sibuk berdoa agar terhindar dari banjir, tetapi tetap membuang sampah ke selokan. Jangan sampai kita memohon udara yang sehat, tetapi membiarkan pembakaran yang merugikan masyarakat.

Jangan sampai kita mengeluhkan lingkungan yang kotor, sementara tangan kita sendiri ikut mengotorinya. Doa memohon kebaikan harus berjalan bersama ikhtiar untuk mewujudkannya.

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Pelajaran dari Musibah Banjir

Menjaga Lingkungan Dimulai dari Hal Kecil

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Selain itu, kita harus menyadari bersama bahwa Islam telah mengajarkan bahwa kebersihan dan kesucian memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim hadits nomor 223, dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separuh dari iman.”

Para ulama memang banyak mengaitkan hadits ini dengan kesucian, terutama dalam ibadah. Akan tetapi, kita juga dapat menjadikannya sebagai pijakan akan pentingnya kebersihan dalam kehidupan seorang Muslim. Kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam ketika diwujudkan dengan cara yang benar dan membawa kemaslahatan.

Maka, marilah kita mulai dari hal-hal yang berada dalam jangkauan kita.

Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan boros menggunakan air. Jangan mengambil makanan secara berlebihan hingga banyak yang terbuang. Jagalah kebersihan masjid, rumah, jalan, dan tempat umum. Kurangi penggunaan barang sekali pakai jika memungkinkan. Tanamlah pohon dan rawatlah tanaman yang ada di sekitar kita.

Para pengurus masjid dapat membiasakan pemilahan sampah, mengurangi sampah plastik dalam kegiatan jamaah, dan menghemat air wudhu. Para pengasuh pesantren dapat menjadikan kebersihan dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari pendidikan akhlak santri, bukan sekadar pekerjaan piket.

Pemerintah dan pelaku usaha pun harus menjalankan tanggung jawabnya. Pengawasan terhadap pencemaran, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab merupakan bagian penting dari upaya menjaga kemaslahatan masyarakat.

Jangan menganggap remeh satu bungkus sampah yang kita buang, setetes air yang kita hemat, atau satu kebiasaan baik yang kita tanamkan kepada anak-anak. Kerusakan sering kali bermula dari tindakan kecil yang dibiarkan berulang. Sebaliknya, perubahan juga dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa, amanah, dan senantiasa berusaha menghadirkan kebaikan bagi sesama makhluk.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ

اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْبَلَايَا وَالْفِتَنِ وَالْكَوَارِثِ، وَاجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا الْأَمْنَ وَالْإِيمَانَ وَالسَّلَامَةَ وَالْإِسْلَامَ

اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِحِفْظِ نِعَمِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَجَنِّبْنَا الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ وَلَا يُفْسِدُونَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ،

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Karhutla dan Kepedulian Umat Islam terhadap Lingkungan
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Adib Fattah

Mahasiswa Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading