materi khutbah idul fitri terbaru menjadi pemimpin yang baik dakwah.id

Khutbah Idul Fitri 2022: Menjadi Pemimpin yang Baik

Khutbah Idul Fitri 2022
Menjadi Pemimpin yang Baik

Pemateri: Miftahul Ihsan, Lc.

*) Link download file PDF materi khutbah untuk print ada di akhir tulisan.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمّ صَلِّ عَلَى نَبِيّنَا مُحَمّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْيسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللهِ، لَقَدْ قَالَ الله تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah,

Kualitas seorang pemimpin akan kelihatan ketika krisis terjadi. Sebagaimana pelaut yang andal tidak lahir dari laut yang tenang, akan tetapi lahir dari ombak yang besar. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian terkait kualitas pemimpin.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رعيته

“Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

“Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya.”

وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ألا

Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.

فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal-hal yang dipimpinnya.” (HR. Muslim No. 1829)

Potret Pemimpin yang Baik

Seorang pemimpin memikul tanggung jawab yang begitu besar. Dia akan mempertanggungjawabkan seluruh ursan kepemimpinannya.

Oleh sebab itu, menjadi pemimpin yang baik bukanlah perkara yang mudah. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sadar bahwa di pundaknya tergantung amanah kepempiinan atas rakyatnya.

Kesadaran tersebut menjadi modal utama bagi seorang pemimpin untuk terus berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan kepemimpinan dengan baik. Dia akan menghindari segala hal yang akan memberatkan hisabnya di akhirat.

Sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah,

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mulanyaadalah salah seorang nabi. Ia pernah berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala Allah sebagaimana termaktub dalam al-Quran surat Shad ayat 35.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.’”

Allah subhanahu wata’ala pun mengabulkan doanya. Jadilah ia seorang nabi sekaligus raja, pemimpin yang rakyatnya tidak hanya manusia, jin dan binatang pun Allah subhanahu wata’ala tundukkan di hadapan nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman adalah potret pemimpin yang baik. Kekuasaannya yang begitu besar, tidak menjadikannya sebagai sosok pemimpin yang zalim, semena-mena, dan menindas rakyatnya. Bahkan, tidak ada kekuasaan yang lebih besar dari kekuasaan Nabi Sulaiman sepeninggal beliau. Ini adalah janji dari Allah.

Akan tetapi, meski nabi Sulaiman Allah subhanahu wata’ala anugerahi dengan kekuasaan yang sangat besar, ia tetap paham betul akan tanggung jawab akhirat.

Nabi Sulaiman sadar betul bahwa setiap butir kezaliman yang ia lakukan selama menjadi raja, pasti Allah subhanahu wata’ala akan meminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Mari sejenak merenungi kisah nabi Sulaiman dan semut yang termaktub dalam al-Quran berikut ini.

Ketika nabi Sulaiman dan rombongannya sedang melintasi sebuah jalan, seekor semut yang melihat kedatangan Nabi Sulaiman langsung menginstruksikan kepada kawanannya,

يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 18)

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Wahai Rabbku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’” (QS. An-Naml: 18-19)

Begitulah pemimpin yang baik. Ia akan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan kepada dirinya.

Sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah,

Pemimpin yang baik itu memiliki dua amanah besar. Pertama, menjaga agama Islam agar tetap tegak; kedua, menjaga kelestarian alam dunia ini sesuai dengan tuntunan agama agar berbuah maslahat bagi kehidupan manusia dan makhluk alam semesta.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah pertama. Sosok pemimpin yang baik. Beliau mengerahkan pasukan untuk menjaga agama Allah ketika saat itu terdapat sekelompok manusia yang mencoba memporak-porandakan masyarakat muslim dengan perilaku kemurtadan.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, banyak dari kabilah-kabilah Arab yang murtad. Ada yang murtad karena enggan menunaikan zakat, ada pula murtad karena lebih mengikuti Nabi palsu dari pada nabi Muhammad.

Sebagai sosok pemimpin yang baik, khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq sadar betul bahwa suasana politik yang terjadi saat itu sangat mengancam tegaknya agama Islam.

Pembangkangan oknum-oknum kaum muslimin saat itu yang berupa tidak mau menunaikan zakat wajib, dan melepaskan ketaatan kepada Rasulullah karena lebih memilih mengikuti nabi palsu tentu akan berpotensi merobohkan tegaknya Islam.

Maka, dengan tegas dan penuh kebijaksanaan, khalifah mengambil tindakan tegas dan terukur dalam persoalan tersebut.

Inilah potret-potret para pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memahami hakikat sabda nabi: “Kullukum rā’in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra’īyatihi” (Setiap kalian pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya).

Allah Tidak Menyukai Pemimpin Zalim

Sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah,

Pemimpin yang dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang baik. Sedangkan pemimpin yang zalim, adalah pemimpin yang dibenci oleh Allah.

Firaun adalah sosok pemimpin zalim yang paling sering Allah sebutkan di dalam al-Quran. Potret kezaliman, kesemena-menaan, menolak wahyu, dan melakukan persekongkolan untuk merusak dakwah dan para penyeru kebenaran, hampir semua kezaliman pernah dipraktikkan oleh Firaun saat itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat membenci pemimpin yang zalim. Kebencian tersebut beliau wujudkan dengan doa keburukan bagi pemimpin yang zalim.

Ketika Rasulullah sedang bersama istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Aisyah mendengar beliau berdoa,

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ.

“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku dan mereka menyesengsarakan mereka, maka sengsarakan mereka. Sedangkan barang siapa yang mengurusi urusan mereka dan berlaku baik kepada mereka, maka rahmatilah mereka.” (HR. Muslim No. 1828)

Bertolak belakang dengan pemimpin yang baik yang akan mendapat ridha dan cinta Allah, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang sangat dibenci oleh Allah, bahkan Allah sangat murka kepada mereka.

Kemurkaan Allah kepada pemimpin yang zalim dapat kita identifikasi dari beberapa hadits berikut.

Pemimpin Zalim Dibenci oleh Allah Ta’ala

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. At-Tirmidzi No. 1329)

Allah Menelantarkan Pemimpin Zalim pada Hari Kiamat

Sebuah riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim No. 107)

Allah Tempatkan Pemimpin Zalim di Neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ‌رَاعٍ ‌غَشَّ ‌رَعِيَّتَهُ إِلَّا وَهُوَ فِي النَّارِ

Tidak ada seorang pemimpin pun yang menipu rakyatnya, kecuali kelak tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani, Mu’jam al-Kabir No. 533)

Ulama Harus Tegas Mengingatkan Pemimpin Jika Berbuat Zalim

Sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah,

Ulama harus tegas mengingatkan pemimpin jika ia berbuat zalim kepada rakyatnya. Meskipun, terkadang ketegasan tersebut berbuah pahit bagi ulama. Namun, hal itu tetap harus dilakukan demi terciptanya baldatun thayyibun wa rabbun ghafur, negeri makmur yang diliputi ridha dan rahmat Allah.

Imam An-Nawawi, sosok ulama panutan dalam mazhab Hanafi, maliki, Syafi’i, dan mazhab Hanbali, adalah contoh ulama yang tegas mengingatkan pemimpin dalam kebijakannya yang menyengsarakan rakyat.

Suatu ketika, sultan Zahir Bebras mengumpulkan para ulama Damaskus dan meminta fatwa mereka agar dilegalkan memungut pajak dari rakyat untuk kepentingan jihad di jalan Allah.

Semua ulama ketika itu menyetujuinya kecuali imam an-Nawawi. Sultan Zahir Bebras tidak mendapatkan “tanda tangan persetujuan” imam An-Nawawi. Lantas dipanggillah imam an-Nawawi ke istana untuk ditanya alasan penolakannya.

Imam An-Nawawi berkata, “Saya mengetahui bahwa Sultan dahulu adalah hamba sahaya dari Amir Banduqdar, saat itu Sultan tak mempunyai apa–apa. Lalu Allah memberikan kekayaan dan memberi kekuasaan sebagai Raja. Saya dengar sekarang Anda juga memiliki seribu orang hamba sahaya. Setiap hamba mempunyai pakaian kebesaran dari emas.

“Selain itu, Anda pun memiliki 200 orang jariah (budak perempuan), setiap jariah mempunyai perhiasan. Apabila Anda telah nafkahkan itu semua, dan hamba itu hanya memakai kain wol saja sebagai gantinya, demikian pula para jariah hanya memakai pakaian tanpa perhiasan, maka saya berfatwa boleh memungut biaya dari rakyat.”

Inilah kejelian seorang Imam Nawawi. Beliau tidak ingin membiarkan para pemimpin hidup dalam limpahan harta, berfoya-foya dengan berbagai fasilitas.

Sedangkan di saat yang sama, pemimpin-pemimpin tersebut menerapkan pajak dan pungutan-pungutan yang menyengsarakan rakyat. Padahal rakyat saat itu sedang dalam kondisi kesusahan. Krisis terjadi di mana-mana sebagai dampak perang melawan Tartar.

Sidang jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah,

Oleh karena itu tidak ada jalan selamat bagi seorang pemimpin dalam kepemimpinannya melainkan menjadi sosok pemimpin yang baik.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasulnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang adil dan bijaksana dalam kepemimpinannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Selama para pemimpin berlaku taat kepada Allah dan rasul-Nya, berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah, allah akan menjauhkan dirinya dari sifat-sifat kezaliman. Jadilah ia seorang pemimpin yang baik di hadapan Allah, juga di hadapan rakyatnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, berbuat baik dan memberi kepada karib kerabat, melarang perbuatan keji dan mungkar dan tindakan melampaui batas. Agar kalian menjadi orang yang ingat.” (QS. An-Nahl: 90)

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisa’: 58)

Demikian materi khutbah Idul Fitri tentang pemimpin yang baik yang dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini.

Kita semua berharap agar Allah menjadikan kita sebagai pemimpin yang baik. Pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin yang takut dengan azab Allah. Pemimpin yang adil dan bijaksana terhadap seluruh rakyatnya. Pemimpin yang mampu menyatukan rakyat dalam naungan ridha Allah.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

اَللّهُمّ صَلِّ عَلَى نَبِيّنَا مُحَمّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللهِ، لَقَدْ قَالَ الله تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ علَىَ عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظّالِمِيْنَ.

اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا قَبْلَ اْلَمْوتِ تَوْيَةً وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَبَعْدَ الْمَوْتِ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِنا شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِنا شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

والحمد لله رب العالمين

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ، قِيَامَنَا وَقِيَامَكُمْ

Download PDF materi Khutbah Idul Fitri di sini:

Semoga bermanfaat!

Pilihan materi khutbah Idul Fitri lainnya dapat Anda temukan di sini:

Topik Terkait

Sodiq Fajar

Bibliofil. Pemred dakwah.id

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: