Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Khutbah Idul Fitri: Amal Shalih Bertambah, Kuatkan Hidayah

978

Khutbah Idul Fitri

Amal Shalih Bertambah, Kuatkan Hidayah

Ustadz Ali Imran Abu Hanien, S.Pd
Pengajar di Pesantren Darus Sunnah al-Atsary, Bekasi

 

Download PDF

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِيْنُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا () يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ ولِلّٰهِ الْحَمْدُ …

Mengawali khutbah Idul Fitri ini, terlebih dahulu marilah kita memuji kebesaran Allah dengan mengucapkan, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”.

Segala ungkapan puji dan syukur kita lantunkan hanya kepada Allah, Pengatur, dan Penguasa alam semesta. Atas berkat rahmat Allah lah, sehingga pada hari ini kita dapat menjalankan perintah agama, yaitu melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah di tempat ini.

Kemudian, kita sampaikan shalawat dan salam kepada pemimpin para Rasul dan penutup para Nabi, Muhammad shallalhu ‘alaihi wasallam yang telah diutus Allah ‘azza wajalla sebagai uswah hasanah, teladan hidup terbaik bagi manusia.

Shalawat dan salam juga kita sampaikan pada keluarga beliau, para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in serta seluruh kaum Muslimin yang istiqamah berpegang teguh pada ajaran Islam hingga hari kiamat.

Sebagai Muslim, kita ridha Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah ‘azza wajalla. Semoga, kita semua yang telah menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan melaksanakan shalat Idul Fitri pada hari ini, mendapatkan ampunan Allah dan terbebas dari dosa.

Kita mohon kepada Allah ‘azza wajalla agar berkenan menjadikan ibadah Ramadhan kita sebagai saksi yang kelak meringankan di yaumul akhir; dan menjadikan kita semua berhak mendapatkan syafaat-Nya, ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna bagi pemiliknya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd

Idul Fitri adalah hari kebahagiaan umat Islam di penjuru bumi, takbir berkumandang dari relung hati membesarkan Dzat Yang Mahatinggi, sebagai bukti syukur atas nikmat yang diberi. Hari ini terlihat wajah umat Islam berseri-seri dengan datangnya Idul Fitri setelah melaksanakan puasa setiap hari  hingga satu bulan penuh dengan mengharap wajah Ilahi Rabbi dan melakukan amal shalih sebagai bekal diri, serta mengakhiri bulan berkah ini dengan menunaikan zakat fitri.

 

Allahu Akba,r Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd

Gema takbir bersahutan memenuhi ruang angkasa, mengagungkan Rabb Yang Mahakuasa, dan menjadi penenang bagi hati yang terluka, bahwa hanya Allah tempat bergantung seluruh umat manusia. Dan itu merupakan bentuk hidayah Allah ‘azza wajalla agar kita semua mensyukuri setiap apa yang diberikan pada kita.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata hidayah disandingkan dengan takbir. Susunan ini menjelaskan kepada kita bahwa begitu pentingnya nikmat hidayah atas manusia yang mesti dijaga dengan sekuat tenaga. Bahkan sudah semestinya kita meminta hidayah dari sisi Allah ‘azza wajalla, karena nikmat hidayah itu hanya Allah yang dapat memberikannya sementara seorang hamba hanya menjadi wasilah untuk mengantarkan pada hidayah-Nya.

Dan di dalam setiap shalat, kita pun memohon  kepada Dzat Pemilik Rahmat untuk memberikan hidayah agar teguh di jalan kebenaran yang menjadikan selamat di dunia dan akhirat sebagaimana disebutkan dalam satu ayat pada surat pertama dalam Al-Quran,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ () صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fātihah: 6)

 

Begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan satu doa,

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau biasa berdoa:

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan.” (HR. Muslim no. 2721, At-Tirmidzi No. 3489, Ibnu Majah No. 3105, Ibnu Hibban No. 900 dan yang lainnya).

Begitu banyak kata hidayah disebutkan dalam al-Quran, yang terkadang Allah menyebutkan dengan lafal doa dan terkadang pula disandingkan dengan para Rasul yang dijadikan teladan dalam segala aspek kehidupan terutama dalam mempertahankan nikmat hidayah,

Allah ‘azza wajalla berfirman,

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).’ Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.” (QS. Al-An’ām: 90)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil hamd.

Bahkan kalimat yang pertama kali terucap dari lisan penduduk Surga kelak di akhirat adalah kalimat syukur atas hidayah, sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla,

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْانْهٰرُۚ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُ ۚ لَقَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّۗ وَنُوْدُوْٓا اَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.’ Diserukan kepada mereka, ‘Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-A’rāf: 43)

Dari ayat-ayat tersebut kita bisa memahami bahwa hidayah adalah nikmat yang istimewa dan luar biasa, dan bahkan itu merupakan sebab bagi seorang hamba dapat merasakan manisnya iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) Barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim)

Dan sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang sebelum kita yang merasakan nikmatnya hidayah, mereka mampu bertahan meskipun ujian demi ujian mereka rasakan, bahkan terkadang nyawa pun menjadi taruhan.

Sebagaimana sahabat Bilal Ibnu Rabah yang sanggup bertahan saat ujian. Ia disiksa oleh majikannya di tengah terik panas matahari. Diseret di hamparan padang pasir dan ditarik dengan kudanya. Bahkan batu besar pun ditindih di atas tubuhnya, sehingga menyebabkan darah bercucuran dari tubuhnya serta dipaksa untuk murtad dari agamanya dan meninggalkan keyakinannya.

Namun semua itu justru menguatkannya dalam keimanan dan keyakinannya bahkan saat dikatakan kepadanya, ‘irtad.. irtad..’ (murtadlah kau), dijawab dengan penuh ketegasan dan kesadaran dari hatinya dengan satu kata, yaitu ‘ahad.. ahad..’ (Allah yang Maha Esa).

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hingga pada akhirnya bilal dibebaskan oleh sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Saat beliau ditanya oleh para sahabat, “Apa yang dirasakan saat siksaan demi siksaan beliau terima?”

Dijawab oleh Bilal, “Meskipun berat siksaan dan darah bercucuran itu semua tidaklah aku rasakan, yang aku rasakan adalah manisnya iman. Karena yang ada pada benakku adalah kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga itu semua membuat aku teguh dalam kebenaran.”

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Begitu juga kita pernah mendengar bagaimana kisah keluarga Amar bin Yasir. Di mana beliau melihat bapaknya dibunuh di depan mata kepalanya oleh orang kafir Quraisy, dengan siksaan dan pembunuhan secara sadis.

Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, beliau ditarik oleh empat ekor kuda dengan tali yang diikatkan pada empat anggota tubuh beliau. Kemudian ditarik oleh kuda tersebut dengan arah yang berlawanan. Sungguh kita bisa bayangkan bagaimana yang terjadi? Betapa pedihnya cobaan Ammar bin Yasir melihat bapaknya disiksa seperti itu.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Begitu pun ibunda Yasir mengalami siksaan yang tidak kalah pedihnya. Namun semua itu tidak melunturkan iman dan hidayah yang telah tertancap di dalam hati sanubarinya. Itulah sebagian kisah yang menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus kita teguh dan istiqamah menjaga nikmat hidayah ini.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Apalagi kita hidup di zaman penuh dengan fitnah. Zaman di mana kebenaran dianggap kesalahan, dan kesalahan dianggap kebenaran. kebaikan dianggap keburukan. Keburukan dianggap sebagai kebaikan. Bahkan, banyak di antara umat manusia yang terjerumus pada jurang kemurtadan. Na’udzu billah min dzalik.

Salah satu cara untuk kita menjaga nikmat hidayah ini adalah dengan bersegera melakukan amal shalih tanpa harus menundanya selama kita masih bisa melakukannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi harinya beriman dan di sorenya telah menjadi kafir. Atau sorenya masih beriman dan pagi harinya telah menjadi kafir. Mereka menjual agamanya dengan gemerlap dunia.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, kita diperintahkan untuk memperbanyak amal shalih agar terhindar dari segala fitnah.

Maka, Ramadhan adalah momentum yang paling istimewa untuk melakukan amal shalih di hadapan Allah ‘azza wajalla.  Oleh karenanya, Ramadhan merupakan bulan tarbiyah bagi kita semua untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah ‘azza wajalla.

Namun, Ramadhan tahun ini telah pergi meninggalkan kita. Mari kita tetap lestarikan amalan-amalan yang telah kita lakukan pada bulan Ramadhan untuk kita lakukan pada bulan-bulan berikutnya, sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk melakukan puasa enam hari pada bulan Syawal agar momen Ramadhan tetap dapat kita pada bulan-bulan yang lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barang siapa yang puasa Ramadhan kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari Syawal maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Semoga Allah berkenan menerima segala amal ibadah kita pada bulan Ramadhan tahun ini, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang akan datang.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَي وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ الْمُجْتَبَى وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ بِهُدَاهُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Kepada para pemimpin negeri ini, semoga Allah memberi kita semua kelembutan hidayah-Nya, ketahuilah, bahwa negeri ini adalah anugerah Allah ‘azza wajalla. Tidak ada satu inci pun tanah yang terhampar di negeri ini kecuali itu adalah milik-Nya. maka, tingkat kebaikan dan kemakmuran negeri ini adalah sejauh mana kita menjalankan syariat Islam di bumi milik Allah ini.

Negeri ini pun adalah warisan para pahlawan dan mujahid fi sabilillah, yang telah mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan. Teriakan takbir mereka masih nyaring terdengar dari lorong-lorong sejarah. Jangan sekali-kali khianati pengorbanan mereka.

Kepada para pemuda harapan umat dan bangsa, perkuat diri, pantaskan diri memikul amanah perjuangan, ketahuilah bahwa keshalihan itu indah, karena ia adalah perjuangan dan anugerah Ilahi, kejar dan raihlah agar Anda berada pada kafilah para pejuang.

Untuk Anda para muslimah sejati, terimalah salam hormat dan penghargaan kami atas iffah dan ketegaran Anda di atas agama ini, tetaplah di atas jalan yang mulia ini.

 

Wahai para Mujahidah sejati, jadilah wanita pilihan,

Jadikan jiwamu selembut dan setegar Khadijah,

Cerdasmu bagaikan Aisyah,

Keteguhanmu seperti Nusaibah,

Setiamu bagaikan Fatimah,

Dan cita-citamu adalah cita-cita Asiah yang doanya abadi dalam kitab Ilahi:

رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Ya Allah, bangunkan untukku sebuah rumah di surga

 

Kepada para guru-guru kami tercinta, para ustadz dan pembimbing jiwa kami, kepadamulah, melalui pertolongan Allah ‘azza wajalla, bergantung kejayaan umat ini. Mari kita membangun dan terus memperbaiki diri. Jangan kita terlalaikan dengan padatnya kegiatan rutinitas harian, meski itu adalah aktivitas dakwah sekalipun.

Janganlah jadikan hari-hari kalian bagaikan lilin; menerangi sekitarnya, namun kemudian meleleh dan habis.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

 اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Kepada para pejuang di jalan Allah, tataplah ke depan. Gembiralah atas amanah ini. Karena pilihan Allah jatuh pada Anda untuk menikmati perjuangan ini. Jagalah hati agar terus dalam pengawasan Allah ‘azza wajalla dan ukhuwah yang sejati. Hindarkan diri dari setiap bibit perpecahan. Semoga Allah selalu bersama kita.

Akhirnya, marilah kita tundukkan jiwa menengadahkan tangan seraya hati meminta kepada Allah Ta’ala, pemilik dan penggenggam alam semesta.

Di hari penuh rahmat Allah ini, di mana kebahagiaan memenuhi dada kita, keharuan menyelimuti hati kita, mari kita tundukkan jiwa dan raga seraya memohon dan berdoa kepada Rabb yang Kuasa-Nya tiada batas. Rabb yang Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

 

Alhamdulillah, segala puji bagimu Ya Allah, atas anugerah kehidupan, atas nikmat kesehatan, atas iman yang dan hidayah.

Atas segala karunia yang mengucur deras tiada terputus.

Ya Allah, hari ini, di tempat ini kami berkumpul, kami hamba-hamba-Mu yang penuh noda dan dosa ini menengadahkan jiwa mengharap limpahan kasih dan sayangmu.

Wahai Rabb kami yang Maha Pengampun, sungguh Engkau mencintai ampunan dan permohonan ampun, maka ampunilah kami dari segala dosa dan kesalahan.

Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami. Tak ada yang berhak disembah melainkan Engkau. Engkaulah Pencipta kami, dan kami pun akan selalu menepati janji terhadapmu semampu kami. Kami berlindung pada-Mu dari buruknya apa yang kami kerjakan. Kami akui segala nikmat yang Engkau karuniakan pada kami, walau kami akui pula segala dosa dan salah kami pada-Mu. Ampunilah diri kami Ya Allah, karena tiada yang dapat mengampuni semua dosa itu melainkan Engkau.

 

Ya Allah, Ya Rabbana, Ya Allah, Wa Ilahana

Engkau Maha Tahu akan segala apa pun juga. Tidak ada yang dapat bersembunyi dari pengawasan-Mu.

Bersihkanlah jiwa-jiwa kami dengan embun rahmat-Mu, bersihkanlah dengan salju putih kasih-Mu, hingga jiwa ini kembali putih bersih bagai kain putih yang terbersih.

Wahai Rabb kami yang Maha Perkasa, Wahai Rabb kami yang Maha Bijaksana.

Jagalah negeri kami dan setiap negeri kaum muslimin dari setiap mara bahaya, dari setiap fitnah dan bencana. Janganlah Engkau timpakan hukuman pada kami karena dosa-dosa kami.

Ya Allah, Rabb Yang Maha Penyayang.

Sayangilah kami dan para orang tua kami. Ampuni dan kasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi dan menyayangi kami. Berikan kami kesempatan untuk berbakti pada mereka dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan kumpulkan kami dan mereka nanti dalam limpahan rahmat, kasih, dan sayang-Mu di dalam keabadian surga-Mu.

Wahai Rabb kami, Engkau Maha Mengetahui derita saudara-saudara kami di berbagai belahan bumi-Mu. Engkau Maha Mengetahui, Ya Ilaahana, bahwa di tengah desingan peluru dan dentuman bom yang menggelegar, mereka tetap menyebut-Mu, mereka tetap menyembah-Mu, mereka tetap menggelorakan seruan Laa ilaaha illallah.

Ya Allah, Rabb para mustadh’afin, Penolong orang-orang tertindas, segerakan pertolongan-Mu pada hamba-hamba-Mu yang beriman di Palestina. Anugerahkan ajaibnya kekuasaan-Mu buat para saudara kami di Suriah. Enyahkan tirani kaum sesat yang zalim dari negeri Syam yang mulia.

Ya Allah, Ya Rabbana, tidak mungkin lepas dalam pengawasan-Mu, dan tidak mungkin hilang dari pengetahuan-Mu yang tiada berbatas apa yang diderita oleh saudara kami di Burma, dengan kelembutan-Mu Ya Allah, tolonglah mereka. Basuhlah setiap luka mereka dengan kasih dan sayang-Mu. Runtuhkan segala angkara murka dan kezaliman dari negeri tumpah darah mereka. Hanya Engkaulah harapan kami, Ya Rabb.

Duhai Rabb kami yang Maha penyayang, sayangilah para ustadz kami, para guru kami, lindungilah mereka selalu dari segala mara bahaya, tuntunlah langkah mereka selalu di atas kebenaran. Ampuni segenap khilaf mereka. Berikanlah cahaya-Mu yang dengannya mereka membimbing kami.

Allahumma Ya Allah, sungguh kami hanyalah hamba-hamba-Mu, anak dari hamba-hamba-Mu, ubun-ubun kami di tangan-Mu, berlaku pada kami setiap ketentuan-Mu dan adil bagi kami putusan-Mu, Ya Allah kami mohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seorang hamba-Mu, atau Engkau simpan dalam perbendaharaan ilmu ghaib-Mu, agar Engkau menjadikan al-Quran penyejuk jiwa kami, cahaya dalam dada kami, pengusir kesedihan kami, dan dengannya berlalu segala gundah-gulana kami.

Wahai Allah yang menggenggam hati hamba-hamba-Nya, satukan hati ini dalam ketaatan kepada-Mu, himpunkan dalam cinta sejati karena-Mu, hilangkan segala benci dari jiwa-jiwa beriman atas saudara-saudaranya, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara karena-Mu dan hanya untuk-Mu.

Ya Allah Rabb yang Maha Pemaaf, hiasi hati kami dengan kelapangan, kuatkan jiwa kami untuk memberi maaf pada setiap saudara kami yang bersalah, karena Engkau Maha Mengetahui Ya Allah dosa dan kesalahan kami pada-Mu.

Ya Allah karuniakanlah pada keluarga dan anak-anak kami keshalihan yang menyejukkan pandangan kami, hiasilah mereka dengan al-Quran di dada-dada mereka, satukanlah kami di dunia-Mu ini dalam ketaatan, dan himpunkan kami dalam Surgamu yang kekal abadi. [dakwah.id]

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Download PDF