materi khutbah idul adha membangun peradaban dari keluarga dakwah.id

Khutbah Idul Adha: Membangun Peradaban dari Keluarga

Terakhir diperbarui pada · 1,020 views

Khutbah Idul Adha 1445 H
Membangun Peradaban dari Keluarga

Pemateri: Ustadz Naufal Masunika
Ketua Yayasan Griya Keluarga Sakinah

اللّهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ،

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ،

اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى الله عَزَّ وَجَلَّ والتَّمَسُّكِ بِهَذَا الدِّينِ تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

اَلله اَكْبَرُ اَلله اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ،

لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ،

اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, perlindungan, pengampunan dan ampunan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah dan curahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabat, dan semua pengikutnya hingga akhir zaman. Aamin.

Pada pagi yang cerah ini merupakan anugerah yang besar manakala Allah Ta’ala memberikan kesempatan kepada kita untuk kesekian kalinya memperingati satu dari sekian banyak hari-hari Allah yang kelak akan menjadi saksi bagi kita di yaumul akhir.

Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan adanya empat bulan haram dalam al-Quran, sebagaimana firman-Nya, dalam al-Quran surat At-Taubah ayat 36,

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan,(sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

اَلله اَكْبَرُ، اَلله اَكْبْرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،

لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ،

اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Sungguh keluasan rahmat dan ampunan Allah Ta’ala senantiasa membersamai hamba-hamba saleh yang dicintai-Nya.

Sejak bulan lalu, tepatnya pada bulan Dzulqa’dah, kita telah memasuki asyhurul hurum, yaitu bulan-bulan haram yang mulia. Seolah menjadi mukadimah sebelum kita memasuki bulan haram berikutnya, yaitu Dzulhijjah dan Muharram. Sedangkan satu bulan lagi terpisah yaitu Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadal akhir dan Sya’ban.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa bulan Dzulqa’dah merupakan bulan tapak tilas Nabi Musa ‘alaihissalam, yaitu ketika Allah menjanjikan kepada Nabi Musa untuk berbicara dengan-Nya selama 30 malam dan disempurnakan dengan 10 malam lagi, maka menjadi 40 malam.

Firman Allah, dalam al-Quran surat Al-A’raf ayat 142,

وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهٖٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.”

Tapak Tilas Kehidupan Keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

اَلله اَكْبَرُ، اَلله اَكْبْرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،

لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ،

اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Adapun bulan Dzuhijjah merupakan tapak tilas kehidupan keluarga khalilurrahman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Contoh terbaik dalam membangun peradaban umat terbaik.

Satu-satunya pribadi agung yang perilaku diri dan keluarganya kemudian dikukuhkan Allah menjadi ritual sebuah ibadah agung dalam manasik haji. Sekaligus mengingatkan kita kepada tempat dan peristiwa-peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya.

Kakbah misalnya, kiblat umat Islam dan pusat putaran Thawaf, merupakan bangunan hasil renovasi Nabi Ibrahim dan putranya Ismail ‘alaihimussalam.

Begitu pula air zamzam adalah buah dari doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan putra dan istrinya di tengah padang pasir atas perintah Allah.

Maka, sebagai jawaban doanya, Jibril turun dari langit atas perintah Allah. Lalu mengepakkan sayapnya pada telapak kaki sang bayi, dan keluarlah air zamzam yang tak pernah berhenti mengalir hingga akhir zaman. Agar kita tahu, bahwa doa seorang ayah itu mustajab.

Sedangkan Sa’i adalah ritual ibadah yang mengingatkan kita pada pengorbanan seorang ibu untuk mendapatkan air bagi putranya yang masih dalam masa penyusuan.

Beliau berlari-lari di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mendapatkan air. Setiap kali mendengar tangis sang bayi ia pun berlari-lari kecil. Di tempat yang sama Allah memerintahkan kita Sa’i dengan cara serupa sebagai refleksi dari perasaan seorang ibu dalam mengharap ridha-Nya.

Bila demikian, akankah seorang anak yang telah menunaikan ibadah haji dan umrah masih berlaku kasar kepada ibunya?

Masih adakah seorang ibu yang tega menitipkan anaknya kepada seorang asisten rumah tangga atau baby sitter-nya?

Akankah sekembalinya dari perjalanan haji dan umrah, seorang ayah masih berlaku kasar kepada istri yang telah mengandung dan melahirkan anak-anaknya?

Kemudian di Al-Jamaraat, ibadah ini mengingatkan kita saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melempari Iblis dengan kerikil setiap kali Iblis mencoba menghalangi niatnya untuk menjalankan perintah Allah. Hal ini terus dilakukan hingga jamaah haji tiba di Jumrah yang terakhir.

Selanjutnya adalah ibadah Qurban. Ibadah ini sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya. Dalam peristiwa yang terjadi pada Ibrahim dan putranya Ismail, hal ini menggambarkan bukti sebuah hubungan kesepahaman antara seorang ayah dan putranya.

Lihatlah bagaimana seorang ayah meminta pendapat anaknya untuk melakukan sesuatu yang di luar nalar manusia biasa dan sang anak yang penurut pun memenuhi permintaan ayahnya, semata karena ketaatan mereka kepada Rabbnya.

Allah Ta’ala berfirman, dalam al-Quran surat Ash-Shâffât ayat 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya,(Ibrahim) berkata,“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab,“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Uswah Hasanah (Teladan yang Baik)

اَلله اَكْبَرُ، اَلله اَكْبْرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،

لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ،

اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Sungguh keimanan yang menakjubkan. Sebuah pengorbanan paling akbar dalam sejarah manusia. Itulah rahasianya Allah Ta’ala menjadikan Nabiyullah Ibrahim alaihissalam sebagai uswah hasanah di samping Nabi yang mulia Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Dari sekian banyak deretan manusia yang mulia di kalangan para nabi dan rasul hanya dua nama tersebut yang layak menyandang gelar uswatun hasanah (teladan yang baik).

Karena itu, dalam shalat kita membaca shalawat Ibrahimiyah,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

Ya Allah, berikanlah keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan keselamatan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.”

Banyak nilai yang terkandung jika kita mau terus menggali sedalam-dalamnya peristiwa atau sejarah keduanya untuk mendulang lautan hikmah dan pelajaran.

Dua manusia mulia yang terus akan menjadi teladan sepanjang zaman sebagai potret ideal dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga.

Ada banyak doa Nabi Ibrahim yang termuat dalam al-Quran yang merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Di antara yang luar biasa fenomenal dan menyentuh adalah doa Nabi Ibrahim alaihisalam ketika meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya di Makkah, lembah yang di kala itu tandus, tanpa ada air maupun tumbuhan.

Beliau berdoa kepada Allah, sebagaimana dalam al-Quran surat Ibrahim ayat 37,

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Doa seorang suami sekaligus ayah yang visioner. Dari mulai menempatkan mereka di dekat Baitullah yang mulia, yakni Kakbah, agar kelak anak keturunannya senantiasa menegakkan shalat. Bukan sebuah rumah atau tempat yang hanya mengandalkan tampilan fisik dan berbagai fasilitasnya.

Kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar anak keturunannya memiliki akhlak yang mulia sehingga siapa pun orang yang dijumpainya akan memiliki kecenderungan kepadanya. Bahkan orang yang memusuhinya sekalipun tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang buruk kepadanya.

Akhlak yang mulia dan pengakuan sosial ini di antara bagian yang dibutuhkan dalam membangun peradaban kehidupan masyarakat. Selaras dengan visi keluarga muslim, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam al-Quran surat  Al-Furqan ayat 74,

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata,‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’”

Keturunan yang menyejukkan pandangan mata baru akan hadir, manakala bapak ibunya tampil sebagai pribadi-pribadi penuh kedamaian, menyenangkan, dan menebarkan keselamatan.

Setelah menjadi penyenang hati, baru kemudian menjadi inspirasi dan imam bagi orang-orang yang bertakwa. Pemimpin terbaik dan istimewa di tengah masyarakat yang bertakwa.

Bukan pemimpin yang terbaik dari yang terburuk, atau pemimpin terbaik di tengah masyarakat yang buruk, tapi harapan dan cita-cita setiap muslim terhadap generasinya adalah pemimpin istimewa yang dipilih masyarakat bertakwa.

Dari keluarga inilah cikal bakal peradaban manusia sebagaimana Allah Ta’ala kehendaki. Inilah teladan terbaik dalam membangun peradaban manusia yang sesungguhnya.

Kenapa Keluarga Begitu Berarti?

اَلله اَكْبَرُ، اَلله اَكْبْرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،

لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ،

اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Setiap tahun ingatan kita semua tertuju pada sebuah momentum kebesaran paling agung dalam sejarah manusia. Dan itulah hari-hari Allah.

Maka di penghujung khotbah ini marilah kita bersama-sama mengambil ibrah dari semua peristiwa besar dan penting dalam sejarah umat manusia:

Kenapa keluarga itu begitu berarti?

Karena Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk mengemban amanah sebagai khalifah dan melakukan ishlah atau perbaikan di muka bumi ini. Amanah yang langit, bumi, dan gunung-gunung pun sebenarnya enggan untuk mengambilnya.

Dan peradaban itu dimulai dari keluarga. Allah subhanahu wataala berfirman, QS. Al-Baqarah: 30,

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat,‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata,‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman,‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ

KHUTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أْجْمَعِيْنَ

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Marilah kita akhiri khutbah Idul Adha ini dengan berdoa kepada Allah, semoga berkumpulnya kita hari ini dan di tempat ini mendapatkan rahmat dan ridha-Nya.

Mudah-mudahan kita diberi kekuatan dalam ketaatan, khusyuk, dan yakin sehingga kita terjauhkan dari maksiat, murka, serta musibah dunia dan akhirat.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَناَ آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ. وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّعِيْمَ الْمُقِيْمَ الَّذِيْ لَنَا يَحُوْلُ وَلَا يَزُوْلُ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّعِيْمَ يَوْمَ الْعِيْلَةِ وَالْأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ. اللَّهُمَّ إِنَّا عَاِئذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ لَنَا فِيْ عَاقِبَةِ الْأُمْوْرِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ مَا تُعْطِيْنَا مِنَ الْخَيْرِ رِضْوَانَكَ وَالدَّرَجَاتُ العُلَى مِنْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الَلَّهُمَّ أَسْعِدْ فِي هَذَا الْعِيْدِ قُلُوْبَنَا وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

وَصَلَّ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Download PDF Materi Khutbah Idul Adha
Membangun Peradaban dari Keluarga
di sini

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading