Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Keutamaan Sahur bagi Orang yang Ingin Puasa — Hadits Puasa #10

567

Keutamaan Sahur bagi Orang yang Ingin Puasa — Hadits Puasa #10

 

عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sahurlah, karena sungguh dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Al-Bukhari No. 1923; HR. Muslim No. 1095)

 

Hadits di atas adalah dalil perintah sahur bagi orang yang ingin puasa. Karena di dalam sahur terdapat banyak kebaikan dan berkah baik sifatnya duniawi maupun ukhrawi.

Penyebutan adanya janji mendapat berkah dalam hadits di atas membawa pesan imbauan sekaligus motivasi untuk sahur bagi orang yang ingin puasa.

As-Sahur (dengan huruf sa yang berharakat fathah) artinya makanan yang disantap di waktu sahur; waktu di akhir malam. Sedangkan as-Suhur (dengan huruf sa yang berharakat dhammah) artinya perbuatannya; makan sahur.

Baca juga: Makan atau Minum Karena Lupa Saat Puasa — Hadits Puasa #9

Kata perintah (al-Amru) dalam teks hadits di atas adalah perintah anjuran (Amr Istihbab), bukan perintah kewajiban (Amr Ijab). Ini adalah pendapat ijmak ulama.

Dalilnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat pernah melaksanakan puasa Wishal. Puasa Wishal adalah puasa siang dan malam yang dilakukan selama dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka.

 

6 Berkah Sahur bagi Orang yang Ingin Puasa

Setidaknya ada 6 berkah sahur bagi orang yang ingin puasa. Antara lain:

BERKAH SAHUR PERTAMA

Sahur bagi orang yang ingin puasa dapat menguatkan fisik untuk beribadah dan melaksanakan amalan ketaatan di siang hari seperti shalat, membaca al-Quran, zikir, dan lainnya. Karena orang yang lapar biasanya menjadi malas beribadah dan melaksanakan amalan harian.

BERKAH SAHUR KEDUA

Sahur bagi orang yang ingin puasa dapat menjadi penyebab tumbuh dan meningkatnya semangat dalam melaksanakan puasa. Seolah puasa terasa ringan untuk dilaksanakan hingga selesai. Dan ia pun akan berusaha memanfaatkan waktu selama puasa semaksimal mungkin untuk melakukan amalan kebaikan.

Baca juga: 4 Cara Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan, Mana yang Disepakati Para Ulama?

BERKAH SAHUR KETIGA

Sahur bagi orang yang ingin puasa adalah bentuk ittiba’ as-Sunnah; mengikuti sunnah Rasul.

Jika orang yang hendak sahur benar-benar meluruskan niatnya dalam rangka mengikuti sunnah Nabi, maka sahurnya menjadi ibadah bagi dirinya. Dia akan mendapat pahala karena niatnya tersebut.

Pun demikian, jika sahurnya dia niatkan agar menguatkan badan untuk melaksanakan puasa, maka ia akan mendapatkan apa yang ia niatkan.

BERKAH SAHUR KEEMPAT

Sahur bagi orang yang ingin puasa membantunya untuk mendapat kesempatan bangun di penghujung malam, di mana waktu tersebut adalah bagian dari waktu mustajab untuk berzikir, doa, dan shalat.

BERKAH SAHUR KELIMA

Sahur bagi orang yang ingin puasa adalah sebentuk penyelisihan terhadap kebiasaan kaum Ahli Kitab. Sebab, setiap muslim dituntut untuk menjauhi tasyabuh dengan mereka.

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ

Dari Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sekat pemisah antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim No. 1096)

BERKAH SAHUR KEENAM

Sahur bagi orang yang ingin puasa memberi kesempatan untuk dapat melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid tepat waktu. Oleh karena itu, di masjid mana pun, ketika bulan Ramadhan, jamaah shalat Subuh terlihat lebih banyak dibanding bulan-bulan lainnya. Karena mereka termotivasi bangun sebelum Subuh untuk makan sahur.

Baca juga: Asal-Usul Istilah Ramadhan dalam Kalender Qamariyah

Menu sahur selayaknya minimal setara dengan makanan dan minuman yang biasa disantap pada hari-hari biasanya. Tidak harus mengkhususkan sahur dengan menu makanan tertentu, meskipun ada keutamaan sahur dengan kurma.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Sebaik-baik menu sahur seorang mukmin adalah kurma.” (HR. Abu Daud No. 2345; HR. Ibnu Hibban, 8/253; HR. Al-Baihaqi, 4/236. Sanad hadits ini shahih)

Termasuk bagian dari adab orang yang puasa adalah tidak berlebihan ketika makan sahur. Cukup mengisi perut dengan kadar normalnya saja.

 عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ»

Dari Miqdam bin Ma’di Karib, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah anak Adam memenuhi bejana yang lebih jelek daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika itu tidak mungkin dia lakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmizi)

Baca juga: Wajib Memisahkan Pemakaman Muslim dari Pemakaman non-Muslim

Oleh karena itu, makan sahur orang yang ingin puasa jangan terlalu membuat kenyang. Karena jika ia kekenyangan makan sahur, maka waktunya akan terbuang sia-sia hingga datang waktu Zuhur. Sebab makan terlalu banyak dapat menyebabkan kemalasan dan pesimis.

Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (“Sebaik-baik menu sahur seorang mukmin adalah kurma.”) memberi isyarat terhadap pemahaman ini. Karena ditinjau dari komposisinya, kurma termasuk jenis makanan yang nyaman di perut, mudah dicerna, dan sangat bergizi.

Kondisi perut yang kekenyangan sehingga membuat dia selalu begadang di malam hari dan tidur di sepanjang siang hari, tentu orangnya akan kehilangan tujuan utama yang sangat mulia dari ibadah puasa. Wallahu a’lam [Sodiq Fajar/dakwah.id]

 

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلُّهُ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ الشِّرْكِ كُلُّهُ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. وَجَنِّبْنَا مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأهْوَاءِ، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu seluruh kebaikan, baik yang kami ketahui atau pun yang tidak kami ketahui. Dan kami berlindung kepada-Mu dari semua bentuk syirik baik yang kami ketahui atau pun yang belum kami ketahui. Dan jauhkan kami dari akhlak yang munkar, ampuni kami Ya Allah, ampuni kedua orang tua kami, dan ampuni seluruh kaum muslimin.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Penerjemah: Sodiq Fajar