Gambar Keagungan dan Keutamaan Surat Al-Isra` dakwah.id

Keagungan dan Keutamaan Surat Al-Isra`

Terakhir diperbarui pada ·

Di antara surat-surat al-Quran, Surat al-Isra` menempati tempat yang istimewa. Sejak awal fase dakwah, ia menjadi bacaan rutin Nabi dan pegangan para sahabat karena isinya penuh penguatan, tanda-tanda kekuasaan Allah, dan pelajaran tentang akidah. Jika demikian yang dilakukan Nabi dan para sahabat, lantas, apa keutamaan Surat al-Isra` itu? Temukan jawabannya pada artikel berikut.

Surat al-Isra` adalah surat yang ke-17 menurut urutan surat-surat dalam mushaf al-Quran, didahului oleh Surat an-Nahl dan disusul oleh Surat al-Kahfi. Ia memiliki nama lain, yaitu Surat Bani Israil.

Adapun secara urut-urutan turunnya, Surat al-Isra` adalah surat yang turun pada urutan ke-50. Surat al-Isra` diturunkan setelah Surat al-Qashash dan sebelum Surat Yunus. (Al-Fairuz Abadi, Bashairu Dzawi At-Tamyiz fi Lathaif Al-Kitab Al-Aziz, Juz I hlm. 98)

Berdasar hadits Imam al-Bukhari dari riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, mayoritas ulama tafsir menyimpulkan bahwa Surat al-Isra` termasuk kategori surat Makkiyah. Surat Makkiyah adalah surat al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebelum beliau hijrah ke Madinah. Inilah pendapat yang lebih kuat dan lebih benar.

Sebagian ulama tafsir menyatakan bahwa status ke-makkiyah-an Surat al-Isra` adalah perkara yang telah disepakati (ijma’) oleh seluruh ulama.

Di antara ulama tafsir yang menegaskan hal itu adalah

  1. Imam Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Andalusi (w. 745 H) dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith,
  2. Majduddin Al-Fairuzabadi dalam Bashair Dzawi at-Tamyiz fi Lathaif al-Kitab al-Aziz, dan
  3. Burhanuddin Ibrahim bin Umar Al-Biqa’i (w. 885 H) dalam Mashaid an-Nazhar lil-Isyraf ala Maqashid as-Suwar.

Keagungan dan Keutamaan Surat Al-Isra`

Berikut ini keagungann dan keutamaan Surat al-Isra` yang kami rangkumkan dari berbagai sumber.

1.   Rasulullah rutin membaca Surat al-Isra` setiap malam sebelum beranjak tidur.

Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ.

Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah beliau tidak tidur malam sampai beliau selesai membaca Surat Bani Israil dan Surat az-Zumar.” (HR. At-Tirmidzi no. 2920)

Dalam riwayat yang lain,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: مَا يُرِيدُ أَنْ يُفْطِرَ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: مَا يُرِيدُ أَنْ يَصُومَ. وَكَانَ يَقْرَأُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ بِبَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرِ.

Kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah beliau banyak melakukan shaum sunah sampai kami berkomentar, ‘Beliau tidak ingin makan (tidak shaum). Dalam kesempatan lain, beliau sering tidak shaum sampai kami berkomentar, ‘Beliau tidak ingin shaum.

Kebiasaan beliau lainnya adalah setiap malam beliau membaca Surat Bani Israil dan Surat az-Zumar. (H.R. Ahmad no. 24388 dan 24433; H.R. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10480. Sanadnya dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hajar al-Asqalani)

Baca juga: Keterkaitan Islam dan Baitulmaqdis Sejak Awal Dakwah Nabi di Makkah

Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, ath-Thabarani, al-Baihaqi, dan lainnya meriwayatkan,

عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ الْمُسَبِّحَاتِ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ، وَقَالَ: إِنَّ فِيهِنَّ آيَةً أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ.

Dari Irbadh bin Sariyah bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa membaca surat-surat yang diawali dengan tasbih (antara lain Surat al-Isra`, penerj.) sebelum beliau tidur. Beliau bersabda, “Di dalam surat-surat tersebut terdapat sebuah ayat yang lebih utama dari 1000 ayat.” (HR. Ahmad no. 17160, Abu Daud no. 5057, At-Tirmidzi no. 2921, dan An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10459. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharib)

2.   Surat al-Isra` termasuk wahyu al-Quran yang diturunkan pada awal-awal masa dakwah Islam di Mekkah;

3.   Surat al-Isra` menjadi menu yang senantiasa dibaca, dipelajari, dipahami, dihafalkan, dan diamalkan oleh para sahabat as-Sabiqun al-Awwalun.

Keutamaan Surat al-Isra` kedua dan ketiga ini sebagaimana ditegaskan oleh hadits sahih berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْكَهْفُ وَمَرْيَمُ وَطه وَالْأَنْبِيَاءُ هُنَّ مِنَ الْعِتَاقِ الْأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلَادِي.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu ia berkata, “Surat Bani Israil, al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan al-Anbiya merupakan bagian dari al-itaq al-uwal (surat-surat yang pertama kali diturunkan), dan surat-surat tersebut termasuk tiladi (surat-surat yang pertama kali aku hafalkan).” (HR. Al-Bukhari no. 4739)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menjelaskan bahwa kata ‘itaaq adalah bentuk jamak dari kata tunggal ‘atiiq, yang artinya tua, lama, atau kuno. Adapun kata tilaad bermakna kepemilikan lama. Maksudnya adalah surat-surat yang sejak lama dihafal oleh Ibnu Mas’ud.

Maka, makna dari pernyataan Ibnu Mas’ud tersebut adalah Surat al-Isra`, al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan al-Anbiya’ merupakan bagian dari surat-surat al-Quran yang pertama kali dipelajari dan dihafal oleh Ibnu Mas’ud.

Surat-surat tersebut memiliki keutamaan tersendiri karena mengandung kisah-kisah dan berita-berita tentang para nabi, rasul, dan umat terdahulu. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bari bi-Syarh Shahih al-Bukhari, Juz VIII hlm. 452)

4.   Al-Isra merupakan satu-satunya surat dalam al-Quran yang memuat kisah isra’ dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha.

5.   Al-Isra merupakan salah satu dari surat-surat musabbihat.

Musabbihat adalah surat-surat yang diawali dengan lafal tasbih. Surat-surat yang diawali dengan tasbih ada tujuh, yaitu (1) al-Isra`, (2) al-Hadid, (3) al-Hasyr, (4) ash-Shaff, (5) al-Jumu’ah, (6) at-Taghabun, dan (7) al-A’la.

Dalam urutan mushaf al-Quran, Surat al-Isra` merupakan surat musabbihat yang pertama. Dengan demikian, Surat al-Isra` adalah surat pertama kelompok musabbihat.

 No.Nama Surat MusabbihatNo. Urut SuratJumlah AyatJuz
1Al-Isra`1711115
2Al-Hadid572927
3Al-Hasyr592428
4Ash-Shaff611428
5Al-Jumu’ah621128
6At-Taghabun641828
7Al-A’la871930

6.   Surat al-Isra merupakan Surat al-Quran yang paling banyak menyebutkan lafal “al-Quran”.

Keutamaan Surat al-Isra` keenam ini sebagaimana dalam Fayiz bin As-Sarih, Maalim as-Suwar, hlm. 114.

Dr. Ahmad bin Ismail Naufal, dosen tafsir Universitas Yordania, menjelaskan bahwa lafal “al-Qur-ân” disebutkan sebanyak 58 kali di dalam mushaf al-Quran. Lafal “Qur-ânan” disebutkan sebanyak 10 kali dalam mushaf al-Quran. Lafal “Qur-ânahu” disebutkan sebanyak 2 kali dalam mushaf al-Quran.

Jika ditotal, lafal “al-Qur-ân” dan pecahan katanya disebutkan sebanyak 70 kali dalam mushaf al-Quran.

Jumlah penyebutan lafal “al-Qur-ân” dalam surat-surat al-Quran adalah sebagai berikut:

No.Jumlah Penyebutan lafal “Al-Qur-ânNama Surat
18 kalial-Isra`
24 kalian-Naml dan al-Qamar
33 kaliYunus dan al-Hijr
42 kaliThaha, al-Furqan, Yasin, Qaf, dan al-Muzammil
51 kalial-Baqarah, an-Nisa’, al-Maidah, al-An’am, al-A’raf, at-Taubah, Yusuf, an-Nahl, al-Kahfi, al-Qashash, ar-Rum, Saba’, Shad, az-Zumar, Fushshilat, az-Zukhruf, al-Ahqaf, Muhammad, ar-Rahman, al-Waqi’ah, al-Hasyr, al-Insan, al-Insyiqaq, dan al-Buruj.

Surat al-Isra` menyebutkan lafal “Al-Qur-ân” sebanyak delapan kali, yaitu dalam ayat ke-9, 41, 45, 46, 60, 82, 88, dan 89. Selain itu, Surat al-Isra` menyebutkan lafal “Qur-ân al-Fajri” sebanyak dua kali, yaitu dalam ayat 78. (Ismail bin Ahmad Naufal, Tafsiru Surat Al-Isra`, hlm. 89—94)

7.   Surat Al-Isra mengandung ayat ‘izzah, yaitu ayat tentang kekuasaan, keperkasaan, dan kedigdayaan Allah Ta’ala.

Keutamaan Surat al-Isra` ketujuh ini sebagaimana dalam Fayiz As-Sarih, Maalim As-Suwar, hlm. 114.

Imam Ahmad dalam musadnya no. 15625, dan ath-Thabarani dalam al-Mujam al-Kabir meriwayatkan,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسِ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِذَا تَعَزَّ {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ} [الإسراء: 111] إِلَى آخِرِ السُّورَةِ.

Dari Mu’adz bin Anas al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila beliau mengharapkan pertolongan dengan kekuasaan Allah, beliau membaca ayat, “Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya!’”

Baca juga: Membaca Surat Ini Ketika Shalat Bernilai Mengikuti Sunnah Rasul

Dalam riwayat Ath-Thabarani dengan lafal,

آيَةُ الْعِزَّةِ: {وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا} [الإسراء: 111]

“Ayat tentang izzah Allah adalah firman-Nya, ‘Katakanlah,‘Segala puji bagi Allah yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya!’” (Al-Isra` [17]: 111)

Maqashid Surat Al-Isra`

Imam Burhanuddin al-Biqa’i, Muhammad Thahir bin Asyur, Prof. Dr. Muhammad Sayyid ath-Thanthawi (mantan rektor Universitas al-Azhar Mesir), Sayyid Qutub, Prof. Dr. Ibrahim bin Sulaiman al-Lahim, Fayiz bin Sayyaf as-Sarih, dan sejumlah ulama tafsir kontemporer lainnya menyebutkan bahwa Surat al-Isra` diturunkan Allah Ta’ala dengan memiliki sejumlah maqashid (tujuan-tujuan agung).

Menurut kajian mereka, maqashid Surat al-Isra` yang terpenting adalah sebagai berikut:

  1. Menanamkan dasar-dasar akidah Islam yang berdiri di atas landasan tauhid.
  2. Membersihkan akidah dari hal-hal yang mencemarinya atau merusaknya.
  3. Membahas tentang diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sikap orang-orang kafir terhadapnya.
  4. Menjelaskan sebagian kewajiban dan larangan syariat yang berfungsi sebagai pengarah perilaku pribadi dan masyarakat. (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz VI hlm. 428—430)

Syaikh Fayiz bin Sayyaf as-Sarih menulis, “Tujuan surat ini adalah meneguhkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan meninggikan kedudukannya, menampakkan mukjizatnya, dan menjelaskan kesudahan baik perjuangannya.” (Fayiz as-Sarih, Maalim as-Suwar, hlm. 113)

Dr. Misy’al bin Abdul Aziz al-Falahi menulis, “Tujuan surat ini adalah memberikan sorotan kepada pengusung risalah (Muhammad shallallahu alaihi wasallam) dan manhaj dakwah.” (Misy’al al-Falahi, al-Kharithah al-Quraniyyah, hlm. 136)

Senada dengan kedua ulama tersebut, para ulama tafsir yang tergabung dalam proyek Markaz Tafsir lid-Dirasat Al-Qur’aniyah, Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Quran Al-Karim, hlm. 282, menyimpulkan, “Tujuan surat ini adalah Allah Taala meneguhkan Rasul-Nya dan mendukungnya dengan tanda-tanda kekuasaan yang nyata. Ia juga memberinya kabar gembira berupa kemenangan dan keteguhan.” Wallahu a’lam bish-shawab. (Yasir Abdul Barr/dakwah.id)

Penulis: Yasir Abdul Barr
Editor: Ahmad Robith

Artikel Ilmu & Dakwah terbaru:

Topik Terkait

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading