hadits kisah azab wanita ini palsu dakwah.id

Hadits Kisah Azab Wanita ini Palsu, Waspada!

Hadits kisah azab wanita tentang ancaman bagi wanita yang tidak mengenakan hijab atau jilbab banyak berseliweran di beranda media. Rata-rata kisah tersebut mengatasnamakan Rasulullah atau ahlul bait beliau semisal Fatimah radhiyallahu anha dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.

Seorang muslim tentu tidak boleh asal memercayai sebuah riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menimbang banyaknya hoaks yang bertebaran di mana-mana. Khususnya di masa kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang ini. Berikut kisahnya.

Matan Hadits Kisah Azab Wanita

Disebutkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengisahkan,

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَفَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَوَجَدْنَاهُ يَبْكِي بُكَاءً شَدِيدًا، فَقُلْتُ: فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الَّذِي أَبْكَاكَ؟

 قَالَ: يَا عَلِيُّ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إلَى السَّمَاءِ رَأَيْتُ نِسَاءً مِنْ أُمَّتِي يُعَذَّبْنَ بِأَنْوَاعِ الْعَذَابِ فَبَكَيْتُ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ عَذَابِهِنَّ، رَأَيْتُ امْرَأَةً مُعَلَّقَةً بِشَعْرِهَا يَغْلِي دِمَاغُهَا، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً مُعَلَّقَةً بِلِسَانِهَا وَالْحَمِيمُ يُصَبُّ فِي حَلْقِهَا،

وَرَأَيْتُ امْرَأَةً قَدْ شُدَّ رِجْلَاهَا إلَى ثَدْيَيْهَا وَيَدَاهَا إلَى نَاصِيَتِهَا وَقَدْ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهَا الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبَ، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً مُعَلَّقَةً بِثَدْيَيْهَا، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً رَأْسُهَا بِرَأْسِ خِنْزِيرٍ وَبَدَنُهَا بَدَنَ حِمَارٍ وَعَلَيْهَا أَلْفُ أَلْفُ لَوْنٍ مِنْ الْعَذَابِ،

وَرَأَيْتُ امْرَأَةً عَلَى صُوْرَةِ الْكَلْبِ وَالنَّارُ تَدْخُلُ مِنْ فِيهَا وَتَخْرُجُ مِنْ دُبُرِهَا وَالْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ رَأْسَهَا بِمَقَامِعَ مِنْ نَارٍ، فَقَامَتْ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ– رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا–وَقَالَتْ:

يَا حَبِيبِي وَقُرَّةَ عَيْنِي مَا كَانَ أَعْمَالُ هَؤُلَاءِ حَتَّى وَقَعَ عَلَيْهِنَّ هَذَا الْعَذَابُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ–صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: 

يَا بُنَيَّةُ أَمَّا الْمُعَلَّقَةُ بِشَعْرِهَا فَإِنَّهَا كَانَتْ لَا تُغَطِّي شَعْرَهَا مِنْ الرِّجَالِ، وَأَمَّا الْمُعَلَّقَةُ بِلِسَانِهَا فَإِنَّهَا كَانَتْ تُؤْذِي زَوْجَهَا، وَأَمَّا الْمُعَلَّقَةُ بِثَدْيَيْهَا فَإِنَّهَا كَانَتْ تُؤْذِي فِرَاشَ زَوْجِهَا، وَأَمَّا الَّتِي شُدَّ رِجْلَاهَا إلَى ثَدْيَيْهَا وَيَدَاهَا إلَى نَاصِيَتِهَا وَقَدْ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهَا الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبَ فَإِنَّهَا كَانَتْ لَا تَغْتَسِلُ مِنْ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ وَتَسْتَهْزِئُ بِالصَّلَاةِ،

وَأَمَّا الَّتِي رَأْسُهَا رَأْسُ خِنْزِيرٍ وَبَدَنُهَا بَدَنُ حِمَارٍ فَإِنَّهَا كَانَتْ نَمَّامَةً كَذَّابَةً، وَأَمَّا الَّتِي عَلَى صُورَةِ الْكَلْبِ وَالنَّارُ تَدْخُلُ مِنْ فِيهَا وَتَخْرُجُ مِنْ دُبُرِهَا فَإِنَّهَا كَانَتْ مَنَّانَةً حَسَّادَةً. يَا بُنَيَّةُ الْوَيْلُ لِامْرَأَةٍ تَعْصِي زَوْجَهَا

Aku dan Fatimah radhiyallahu ‘anha masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami mendapati beliau menangis dengan amat sangat.

Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis?’ Tanyaku.

Beliau menjawab, ‘Wahai Ali, di malam isra mikraj, aku melihat kaum wanita dari umatku akan diazab dengan berbagai macam azab. Aku pun menangis karena melihat dahsyatnya azab bagi mereka.

Aku melihat ada wanita yang tergantung dengan rambutnya dalam keadaan otaknya mendidih. Aku juga melihat ada wanita yang tergantung dengan lidahnya sendiri dalam keadaan air mendidih dituangkan ke tenggorokannya.

Aku melihat ada wanita yang kakinya diikatkan ke payudaranya dan tangannya ke ubun-ubunnya dalam keadaan ia dikerubungi banyak ular dan kalajengking. Aku juga melihat wanita yang tergantung dengan kedua payudaranya.

Aku juga melihat ada wanita yang berkepala babi dan bertubuh keledai dengan sejuta jenis azab. Aku juga melihat wanita dengan rupa anjing dalam keadaan api menyembur dari mulut dan lubang duburnya sementara para malaikat memukuli kepalanya dengan cambuk dari api.’

Fatimah radhiyallahu ‘anha pun berdiri dan bertanya,

Wahai kekasihku dan penyejuk mataku, apa saja yang telah mereka perbuat sehingga tertimpa azab seperti itu?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

Wahai putriku, adapun wanita yang tergantung dengan rambutnya maka ia adalah wanita yang tidak menutup rambutnya dari kaum lelaki. Wanita yang tergantung dengan lidahnya, ia adalah wanita yang gemar menyinggung suaminya.

Wanita yang tergantung dengan payudaranya, ia adalah wanita yang menyakiti tempat tidur suaminya (tidak mau menuruti kemauan suaminya untuk berhubungan).

Wanita yang kakinya diikatkan ke payudaranya dan tangannya ke ubun-ubunnya dalam keadaan ia dikerubungi banyak ular dan kalajengking, ia adalah wanita yang tidak mandi setelah junub dan haid serta meremehkan shalat.

Wanita yang berkepala babi dan bertubuh keledai, ia adalah wanita pendusta yang gemar mengadu domba. Wanita dengan rupa anjing dalam keadaan api menyembur dari mulut dan lubang duburnya, ia adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya dan suka hasad. Wahai putriku, amat celakalah wanita yang durhaka terhadap suaminya.”

Takhrij Hadits kisah Azab Wanita

Hadits azab wanita ini dicantumkan oleh al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah dalam al-Kabair (1/177–178) dan Ibnu Hajar al-Haytami rahimahullah dalam az-Zawajir an Iqtirafi al-Kabair (2/9).

Baik adz-Dzahabi maupun al-Haytami rahimahumallah tidak memberikan penilaian terhadap hadits ini, tidak meriwayatkannya dengan sanad, serta tidak mencantumkan sumbernya diriwayatkan oleh siapa.

Ini menyelisihi kebiasaan kedua ulama besar tersebut dalam masing-masing kitab mereka yang umumnya menyebutkan sumber dan menilai hadits yang mereka cantumkan. Minimal menyebut sumber periwayatannya meski tidak memberi penilaian.

Ironisnya, hadits di atas tidak ditemukan dan didapati dalam berbagai kitab hadits dan riwayat Ahlusunah, baik redaksi maupun matannya.

Justru hadits di atas ditemukan di beberapa kitab referensi masyhur milik Syiah Rafidhah yang sedari dulu terkenal gemar berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam, kebenciannya terhadap sahabat radhiyallahu anhum, dan mengultuskan ahli bait Nabi radhiyallahu anhum.

Ternyata Kisah Azab Wanita itu Bersumber dari kitab hadits Syiah

Hadits kisah azab wanita ini terdapat dalam kitab mereka, Uyunu Akhbari ar-Ridha (2/9) karya Ibnu Babawaih al-Qumy dan Biharu al-Anwar (8/319) karya al-Majlisi ar-Rafidhi dengan sanad dari,

عَلِيٍّ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْوَرَّاقِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللهِ عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ الْعَظِيمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْحَسَنِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ الِّرضَا عَنْ آبَائِهِ عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ

“Ali bin Abdullah al-Warraq, dari Muhammad bin Abi Abdillah, dari Sahl bin Ziyad, dari Abdul Azhim bin Abdullah al-Hasani, dari Muhammad bin Ali ar-Ridha, dari ayah dan kakek-kakeknya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.”

Sejatinya, tidak didapatinya hadits ini dalam kitab-kitab riwayat Ahlusunah sudah cukup dan memadai untuk menganggap palsu hadits ini.

Jika suatu riwayat tidak didapati sumber sanadnya dari kitab-kitab Sunni, maka akan disebut sebagai hadits “laa ashla lahu”, yaitu hadits yang tidak ada asalnya. Apatah lagi, jika ternyata didapati dalam referensi Syiah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar radhiyallahu anhu menjelaskan,

فَالتَّشَيُّعُ فِي عُرْفِ الْمُتَقَدِّمِينَ هُوَ اعْتِقَادُ تَفْضِيلُ عَلِيٍّ عَلَى عُثْمَانَ، وَأَنَّ عَلِيًّا كَانَ مُصِيبًا فِي حُرُوبِهِ وَأَنَّ مُخَالِفَهُ مُخْطِئٌ مَعَ تَقْدِيمِ الشَّيْخَيْنِ وَتَفْضِيلِهِمَا، وَرُبَّمَا اعْتَقَدَ بَعْضُهُمْ أَنَّ عَلِيًّا أَفْضَلُ الْخَلْقِ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَإِذَا كَانَ مُعْتَقِدٌ ذَلِكَ وَرَعًا دَيِّنًا صَادِقًا مُجْتَهِدًا فَلَا تُرَدُّ رِوَايَتُهُ بِهَذَا، لَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ غَيْرَ دَاعِيَةٍ، وَأَمَّا التَّشَيُّعُ فِي عُرْفِ الْمُتَأَخِّرِينَ فَهُوَ الرَّفْضُ الْمَحَضُّ فَلَا تُقْبَلُ رِوَايَةُ الرَّافِضِيِّ الْغَالِيِّ وَلَا كَرَامَةً

Tasyayyu’(penisbatan pada Syiah) menurut pengertian ulama mutaqaddimin (terdahulu): keyakinan bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, Ali adalah pihak yang benar dalam beberapa peperangannya (Jamal dan Shiffin), serta siapa saja yang menyelisihi Ali adalah salah. Biarpun demikian, mereka tetap mengutamakan dan mendahulukan kedudukan Syaikhain (Abu Bakar dan Umar).

Sebagian mereka ada juga yang menganggap Ali adalah sebaik-baik makhluk setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jika ada perawi yang berkeyakinan seperti itu, tetapi ia wara’, religius, jujur, serta semata berdasarkan ijtihad (pendapat yang diyakininya) maka tidak ditolak riwayatnya karena hal itu. Apatah lagi jika ia bukan seorang dai yang mengajak kepada keyakinan yang ia anut.

Adapun tasyayyu menurut pengertian ulama muta’akhkhirin (belakangan): penolakan total (terhadap ketiga Khulafaur Rasyidin). Untuk itu, riwayat seorang Rafidhah ekstrem seperti ini tidak boleh diterima sedikit pun.” (Tahdzibu at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Haytami, I/94)

Al-Majlisi dan Ibnu Babawaih al-Qumy termasuk tipe kedua, yakni tasyayyu’ menurut pengertian ulama mutaakhkhirin. Sebab, keduanya merupakan tokoh dan dai Syiah yang menyeru kepada Aqidah rafdh, yaitu menolak Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu anhum sebagai khalifah; mengafirkan sahabat radhiyallahu anhum; dan berbagai Aqidah sesat Syiah lainnya.

Dapat dipastikan riwayat yang berasal dari kedua orang tersebut tidak boleh diterima sedikit pun.

Adz-Dzahabi rahimahullah menegaskan,

Ibnu Babawaih Muhammad bin Ali bin al-Husain al-Qumy, seorang pemuka (Syiah) Imamiyah; Abu Jafar Muhammad bin al-Allamah Ali bin al-Husain bin Musa bin Babawaih al-Qumy, pengarang berbagai karya yang beredar di kalangan Rafidhah.” (Siyar Alam an-Nubala’, adz-Dzahabi, 16/304)

Siapa saja yang mendalami Syiah, khususnya Rafidhah Imamiyah, pasti tidak asing dengan kitab Bihar al-Anwar karangan al-Majlisi dan Uyunu Akhbari ar-Ridha karya Ibnu Babawaih yang kandungannya penuh dengan berbagai Aqidah kufur dan menyimpang kaum Rafidhah dari Aqidah Islam.

Telaah kritis sanad hadits kisah azab wanita

Meski demikian, kita akan telaah sanad di atas menurut ilmu hadits yang berlaku di kalangan Ahlusunah. Sanad hadits tersebut berhenti pada Muhammad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim, dari ayah dan kakeknya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Yakni, berhenti pada Muhammad putra Ali ar-Ridha.

Terkait periwayatan dari Ali ar-Ridha, al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan,

عَليّ بن مُوسَى الرِّضَا وَهُوَ عَليُّ بْنِ مُوسَى بْنِ جَعْفَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَليٍّ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَليِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَبُو الْحَسَنِ مِنْ سَادَاتِ أَهْلِ الْبَيْتِ وَعُقَلَائِهِمْ وَجُلَّةِ الْهَاشِمِيِّينَ وَنُبَلَائِهِمْ يَجِبْ أَن يُعْتَبَرَ حَدِيثُهُ إِذَا رَوَى عَنْهُ غَيْرُ أَوْلَادِهِ وَشِيعَتِهِ وَأَبِي الصَّلْتِ خَاصَّةً فَإِنَّ الْأَخْبَارَ الَّتِي رُوِيَتْ عَنْهُ وَتَبَيَّنَ بَوَاطِيلُ إِنَّمَا الذَّنْبُ فِيهَا لِأَبِي الصَّلْتِ وَلِأَوْلَادِهِ وَشِيعَتِهِ لِأَنَّهُ فِي نَفْسِهِ كَانَ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يَكْذِبَ

Ali bin Musa ar-Ridha, lengkapnya adalah Ali bin Musa bin Jafar bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Abu Hasan.

Termasuk pemuka dan cendekiawan ahli bait, serta tokoh dan pembesar Bani Hasyim. Haditsnya wajib diterima selama orang yang meriwayatkan darinya bukan anak-anaknya, Syiah (pengikut fanatik)-nya, dan Abu ash-Shalt secara khusus.

Hal itu disebabkan berbagai hadits batil yang diriwayatkan darinya merupakan kejahatan Abu Shalt, anak-anak ar-Ridha, serta Syiah-nya. Karena ia sendiri terlalu mulia jika harus berbohong.” (Ats-Tsiqat, Ibnu Hibban, 8/456)

Dan sanad di atas adalah riwayat Ali bin Musa ar-Ridha rahimahullah yang diriwayatkan oleh anaknya sendiri, yaitu Muhammad. Maka ucapan Ibnu Hibban ini berlaku atasnya: riwayat ini adalah riwayat bohong.

Bahkan al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah sendiri menyebut adanya kalangan tertentu yang sengaja berdusta dan membuat hadits palsu atas nama ar-Ridha rahimahullah.

Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan tatkala mengomentari ucapan Ibnu Thahir rahimahullah yang menyebut ar-Ridha rahimahumullah meriwayatkan berbagai riwayat ganjil dari ayahnya,

إِنَّمَا الشَّأنُ فِي ثُبُوتِ السَّنَدِ وَإِلَّا فَالرَّجُلُ قَدْ كُذِّبَ عَلَيْهِ وَوُضِعَ عَلَيْهِ نَسْخَةٌ سَائِرَةٌ كَمَا كُذِّبَ عَلَى جَدِّهِ جَعْفَرَ الصَّادِقِ

Masalahnya adalah tentang konsistensi sanad (kepada beliau). Sebab, lelaki ini adakalanya namanya dipakai untuk berdusta dan ada sebuah naskah riwayat beredar yang dipalsukan atas nama beliau, sebagaimana kedustaan yang dibuat-buat atas nama kakeknya yaitu Jakfar ash-Shadiq rahimahullah.” (Mizanu al-Itidal, adz-Dzahabi, 3/158)

Maksud perkataan adz-Dzahabi di atas, adz-Dzahabi hendak membela Ali ar-Ridha dari tuduhan tersebut bahwa riwayat itu sejatinya bukan berasal dari ar-Ridha, tetapi dari orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu atas namanya.

Hal itu disebabkan Ali ar-Ridha sering meriwayatkan hadits dari ayahnya, Musa al-Kadzhim, dan kakeknya, Ja’far ash-Shadiq rahimahumallah. Maka kedustaan atas nama ar-Ridha berbanding lurus dengan kedustaan atas nama Ja’far jika ar-Ridha meriwayatkan dengan bentuk “dari ayah dan kakeknya”, persis seperti hadits yang tengah kita bahas ini.

Keganjilan Matan Hadits Kisah Azab Wanita

Juga terdapat keganjilan dari sisi matan, yaitu ucapan Fatimah radhiyallahu anha kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

Wahai kekasihku dan penyejuk mataku, apa sajakah yang telah mereka perbuat sehingga tertimpa adzab seperti itu?”

Ucapan ini cenderung berlebihan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melihat status Fatimah radhiyallahu anha sebagai putri beliau. Bahkan kita tidak menemukan satu riwayat pun, di mana sahabat maupun istri beliau memanggil dengan sebutan seperti itu secara langsung karena adab mereka kepada beliau.

Ucapan Fatimah radhiyallahu anha tersebut persis seperti kisah yang dibuat-buat, seolah-olah untuk menggambarkan keakraban Fatimah radhiyallahu anha kepada ayahnya secara berlebihan.

Hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan kaum Syiah. Tidak aneh, riwayat seperti ini ada dan diriwayatkan dalam referensi utama kaum Syiah sekelas Ibnu Babawaih (yang juga pengarang kitab Ma Laa Yadhurruhu al-Faqih) dan al-Majlisi dalam Biharu al-Anwar-nya.

Ini semua sudah cukup meyakinkan kita akan kepalsuan riwayat ini dan keharaman menyebarluaskannya. Wallahu alam.

Catatan Penting

Isi kandungannya membuat kita takjub karena secara rinci memuat azab atas dosa-dosa yang sering kaum wanita lakukan pada masa kini. Terlebih, memiliki kaitan dengan hijab dan ketaatan terhadap suami.

Tentu tidak mustahil Allah mengazab dengan cara sebagaimana kandungan hadits kisah azab wanita tersebut. Akan tetapi, karena ini perkara gaib maka tidak pantas hal itu diyakini, kecuali dengan dasar yang dibenarkan oleh syariat Islam.

Hal tersebut semakin besar tatkala azab itu disampaikan dengan membawa-bawa nama Nabi shallallahu alaihi wasallam, padahal berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah salah satu dosa besar.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan,

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya dusta atas namaku tidak seperti dusta atas nama orang lain. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari No. 1291; Muslim No. 933 dari al-Mughirah bin Syu’bah)

Oleh sebab itu, siapa pun tidak layak menyebar kisah azab wanita di atas, kecuali dengan menyertakan status kepalsuannya.

Jika tidak, sama saja dengan menyebarkan hoaks alias berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallamdan ahli bait beliau radhiyallahu anhum. Ditambah dengan berbicara mengenai azab neraka yang sifatnya gaib dan hanya Allah subhanahu wataala yang mengetahuinya.

Itu merupakan sifat lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Seseorang tidak halal berbicara dan meyakini sesuatu yang gaib, kecuali dengan ilmu yang berasal dari al-Quran dan Sunah.

Faedah Pembahasan Ini

Pada asalnya pencantuman al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah terhadap riwayat tersebut, hal keliru. Apatah lagi beliau rahimahullah tidak menjelaskan statusnya sama sekali. Semoga Allah merahmati beliau.

Karena memang kitab al-Kabair yang beliau tulis sejatinya bukan untuk tujuan ilmiah, melainkan motivasi agar menjauhi dosa-dosa besar (At-Tarhib) sehingga membuat beliau tidak terlalu menaruh perhatian terhadap kualitas riwayat dalam kitab tersebut.

Hal ini lumrah terjadi. Sebagian ahli hadits adakalanya memiliki sikap tersendiri dalam meriwayatkan hadits, di mana mereka membedakan sikap dalam memperlakukan hadits-hadits ahkam (hukum) dengan perlakuan terhadap hadits-hadits targhib dan fadhail (motivasi dan keutamaan), selama tidak mengandung konsekuensi hukum.

Perlakuan terhadap hadits-hadits targhib dan fadhail lebih ringan. Oleh sebab itu, kadang kala sebagian ulama menyertakan beberapa riwayat lemah, riwayat Israiliyat, dan bahkan riwayat dari mimpi dalam kitab-kitab mereka yang sifatnya motivasi.

Bukan untuk dijadikan dasar pengambilan hukum dan Aqidah. Namun, sekedar untuk iktibar (mengambil pelajaran) guna memotivasi pembaca agar semakin semangat berbuat kebaikan atau menjauhi larangan yang dimaksud. Bukan untuk diyakini.

Mungkin inilah yang membuat Imam adz-Dzahabi tidak sempat memeriksanya hingga akhirnya beliau “terjatuh” dalam hal ini. Dalam kitab al-Kabair sendiri, terdapat beberapa riwayat yang sumber periwayatannya tidak dijelaskan oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah, baik itu riwayat dari Nabi maupun selain beliau.

Hal tersebut yang menginspirasi al-Allamah al-Haytami rahimahullah untuk menulis kitab az-Zawajir. Hal ini disampaikan al-Haytami rahimahullah dalam mukadimah kitab az-Zawajir.

Demikian juga al-Haytami rahimahullah yang tidak mengomentari hadits kisah azab wanita tersebut. Sebab hadits itu murni beliau nukil dari al-Kabair. Bukan dari hasil periwayatan atau pencarian beliau sendiri. Al-Haytami rahimahullah berkomentar setelah membawakan hadits tersebut,

مَا ذَكَرَهُ ذَلِكَ الْإِمَامُ وَالْعُهْدَةُ عَلَيْهِ

Demikianlah yang disebut oleh Imam (Adz-Dzahabi) dan jaminan kesahihannya, tanggung jawab beliau.” (Az-Zawajir, Ibnu Hajar al-Haytami, 2/79)

Al-Haytami rahimahullah pun tidak mengomentarinya. Bisa jadi, beliau sendiri belum menemukan sumbernya dan berprasangka baik kepada Imam adz-Dzahabi rahimahullah atas sikap diamnya terhadap riwayat tersebut dan pencantumannya dalam kitab al-Kabair.

Semoga Allah mengampuni dan merahmati al-Imam adz-Dzahabi, al-Allamah al-Haytami, dan kita semua rahimanallah. Wallahu alam bish shawab. (Fathan Abu Uswah/dakwah.id)

Baca juga artikel Tabayun atau artikel menarik lainnya karya Fathan Abu Uswah.

Penulis: Fathan Abu Uswah
Editor: Ahmad Robith

Topik Terkait

Fathan Abu Uswah

Penikmat Ilmu Syar'i

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.