Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Hadiah Untuk Guru Dari Wali Murid Apakah Boleh Diterima?

5,420

Pertanyaan
Ustadz, saya seorang wali siswa di sebuah sekolah dasar islam terpadu. Saya merasa perlu berterima kasih kepada guru kelas anak saya, karena perubahan drastis yang terjadi pada anak saya. Anak saya jadi rajin beribadah dan bersemangat meringankan pekerjaan ringan saya. Bolehkah saya memberikan cindera mata atau hadiah untuk guru tersebut?
(Anwar-Sukoharjo)

 

Jawaban

Para ulama menetapkan hukum memberi/menerima hadiah atau cindera mata-berupa apapun-(termasuk hadiah untuk guru dari wali murid) dengan mengqiyaskannya pada hukum memberi/menerima hadiah bagi amil zakat. Para ulama sepakat akan keharamannya. Hadiah itu akan mengakibatkan hadirnya rasa yang lain sehingga seseorang dapat berlaku tidak adil kepada yang telah memberinya hadiah. Akan melebihkannya. Oleh karenanya, syariat hendak menuntaskan pangkal keburukan dari akarnya.

Jika seseorang bermuamalah dengan salah satu lembaga, lantas orang itu memberikan hadiah pada mudirnya (direktur) atau kepada pekerjanya, haram bagi mereka menerimanya.

Sebab ketika Nabi mengutus Abdullah bin Latbiyah untuk menarik zakat, saat datang ia berkata, “Ini dihadiahkan kepadaku, dan ini untuk kalian,” maka Nabi shalallahu alaihi wasallam berdiri dan berkhutbah, “Apa yang ada di benak seseorang dari kalian yang kami utus untuk mengerjakan suatu amal, saat dia datang dia berkata, ‘Ini buat kalian sedangkan yang ini dihadiahkan kepadaku.’ Kenapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah ayah dan ibunya lalu melihat, “Apakah ia mendapatkan hadiah itu atau tidak?”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Jika ini diperbolehkan sama juga ini membuka pintu risywah. Apa pun namanya: hadiah, cindera mata, tali asih atau yang lain.

Prinsip yang dipegang oleh para ahli fikih, barangsiapa mengerjakan suatu tugas, baik umum maupun khusus, haram baginya menerima hadiah, mukafaah, atau bentuk pemuliaan atau pekerjaan itu dari pihak lain sementara ia telah menerima upah dari pihak yang mempekerjaannya. Kecuali jika dia diizinkan oleh atasannya.

Dalil Tambahan

Imam Ahmad, al-Bayhaqi, dan ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,

هَدَايَا العُمَّالِ غُلُوْلٌ

 “Hadiah bagi para amil adalah ghulul.” (Hadits dinyatakan shahih oleh al-Albani, Irwa’ul Ghalil, 8/246)

Al-Munawi menjelaskan, “Maksudnya, jika seorang amil utusan imam atau naibnya diberi hadiah lalu dia menerimanya, maka itu adalah bentuk pengkhianatannya terhadap kaum muslimin. Ini berlaku untuk siapa saja, bukan khusus untuknya.” (Faidhul Qadir Syarah al-Jami’ ash-Shaghir, 6/353).

Imam Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi,

مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Barangsiapa yang kami tugaskan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan kami telah memberinya upah, maka apa yang diambilnya dari selebihnya adalah ghulul (pengkhianatan).”(Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib,1/191)

Fatwa ulama

Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan, “Nabi shalallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa hak-hak yang karenanya seseorang beramal, itulah yang menyebabkannya mendapatkan hadiah. Sekiranya dia tinggal berdiam diri di rumah, tentu ia tidak mendapatkan apa pun. Dia tidak boleh menghalalkannya hanya karena hadiah itu telah datang padanya. Sesungguhnya hadiah itu datang kepadanya karena ia mengerjakan suatu hak.” (Fathul Bari, 12/394).

Imam An-Nawawi berkata, “hadits ini menerangkan bahwa hadiah untuk amil itu haram.”

Beliau juga berkata, “Nabi juga menjelaskan, sebab pengharamannya adalah karena kekuasaan. Hadiah yang diberikan karena kekuasaan atau jabatan seseorang. Berbeda dengan hadiah untuk selain amil. Hukumnya adalah sunnah.

Juga, “Yang sudah terlanjur diambil, hendaklah dikembalikan, jika tidak memungkinkan, maka serahkan ke baitul mal.”

Al-Kamal bin al-Hamam al-Hanafi berkata, ‘penetapan ‘illah oleh Nabi dalam hadits di atas adalah dalil pengharaman hadiah yang disebabkan oleh jabatan.” (Fathul Qadir, 7/272)

Imam asy-Syaukani berkata, “Di situ ada dalil bahwa tidak halal bagi seorang amil mengambil lebih dari yang telah ditetapkan untuknya sebagai upah atas pekerjaannya. Apa yang diambilnya selebihnya itu termasuk ghulul.” (Naylul Authar, 6/459).

Ibnu Taimiyah berkata, “Apa yang diambil oleh para Amil dan juga selain Amil dari harta kaum muslimin adalah ghulul.”

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Hadiah untuk para pekerja adalah ghulul, yakni apabila pekerja tersebut merupakan pekerja dalam pemerintahan lalu seseorang memberinya hadiah sehubungan dengan pekerjaannya. Maka ini adalah ghulul. Tidak halal baginya mengambil sesuatu pun darinya.

Solusi Masalah Hadiah Untuk Guru Dari Wali Murid

Jika wali sisiwa tetap ingin memberikan hadiah untuk guru seyogianya ia mengalamatkannya kepada kepala sekolah dengan menyebut bahwa itu sebagai hadiah untuk guru yang dimaksud.

Setelah kepala sekolah menerimanya, dialah yang mesti melihat, apakah guru tersebut benar-benar berprestasi sehingga layak mendapatkan penghargaan selain gaji yang diterimanya setiap bulan.

Di sini kepala sekolah wajib melihat dan memperhatikan kaidah, “Kebijakan pemimpin harus ditimbang dengan azas maslahat.”

Para guru, dengan rahmat Allah, akan rela dan tidak merasa terzalimi jika guru lain mendapatkan penghargaan lantaran prestasinya. Wallahu a’lam. [dakwah.id]

 

Dijawab oleh KH. Imtihan asy-Syafi’i
Direktur Ma’had ‘Aly An-Nuur Liddirasat al-Islamiyah, Solo
Pengasuh Majalah Fikih Islam Hujjah

Artikel Konsultasi Sebelumnya:
Sisa Donasi Dana Acara Tabligh Akbar Harus Dikemanakan?
Syahadat Orang Kafir di Akhir Hayat, Apakah Sah Secara Syariat?