Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Bertobatlah Kepada Allah — Hadits Puasa #27

647

Bertobatlah Kepada Allah — Hadits Puasa #27

 

الَأَغَرَّ بْنِ يَسَارِ الْمُزَنِّي قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ، مَرَّةٍ

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzanni, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku juga bertobat kepada-Nya sehari seratus kali.” (HR. Muslim No. 2702)

Baca juga: 4 Keutamaan Puasa — Hadits Puasa #3

Hadits di atas mengisyaratkan wajibnya bertobat kepada Allah ‘azza wajalla bagi setiap manusia. Kalimat perintah yang dipakai dalam teks hadits di atas adalah kalimat perintah yang mengandung hukum wajib.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Dan bertobatlah kepada Allah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nūr: 31)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ

Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hūd: 3)

Baca juga: Fikih Prioritas: Amalan Mana yang Harus Didahulukan?

Oleh karena itu, setiap manusia wajib bertobat kepada Allah ‘azza wajalla dengan sebenar-benarnya tobat. Karena manusia sulit bebas dari kemaksiatan atau hanya memiliki sedikit ketaatan.

Tobat, seperti halnya tobat yang dilakukan karena telah melakukan kemaksiatan, juga dilakukan karena telah meninggalkan kebaikan yang diperintahkan.

Bertobat kepada Allah ‘azza wajalla wajib untuk disegerakan. Tidak boleh menunda-nunda. Karena manusia tak tahu kapan maut menghampirinya.

Sementara berbagai kejahatan berada di sekelilingnya. Kejahatan-kejahatan itu siap menjebak dirinya ke dalam kemaksiatan. Lalu menghancurkan hati. Lalu ia menjadi jauh dari Allah ‘azza wajalla. lalu imannya menjadi lemah.

Baca juga: Ilmu Islam itu Sangat Luas, Ini yang Fardhu ‘Ain untuk Dipelajari

Sebab, iman itu hanya dapat bertambah dengan menambah amal ketaatan, dan akan berkurang dengan menambah kemaksiatan.

Setiap muslim, hendaknya mengakhiri bulan Ramadhan yang dilaluinya dengan bertobat kepada Allah ‘azza wajalla. mohon ampun kepada-Nya. Komitmen untuk selalu melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi segala yang tak diridhai-Nya.

Setiap muslim, hendaknya benar-benar bisa mengenali amalan apa saja yang telah ia lewatkan di awal bulan Ramadhan. Lalu kemudian berusaha ‘membayarnya’ di akhir Ramadhan.

Baca juga: Mandi Janabah Setelah Terbit Fajar — Hadits Puasa #16

 

Bertobatlah Kepada Allah dengan Tobat Nasuha

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hamba agar tobatnya benar-benar tobat nasuha. Antara lain:

 

Syarat tobat nasuha yang pertama: Ikhlas

Agar tobatnya diterima, tobat harus dilakukan dengan niat yang tulus ikhlas karena Allah ‘azza wajalla. ia bertobat kepada Allah ‘azza wajalla dari dosa yang telah diperbuat dengan dilandasi ketaatan kepada Allah ‘azza wajalla, cinta kepada Allah ‘azza wajalla, penuh harap akan pahala dan ampunan-Nya, serta takut terhadap hukuman-Nya.

 

Syarat tobat nasuha yang kedua: Tinggalkan kemaksiatan

Tobat nasuha dilakukan dengan meninggalkan seluruh bentuk kemaksiatan yang pernah dilakukannya. Ia harus memiliki komitmen yang kuat untuk hal itu.

Jika ia telah melakukan suatu kemaksiatan, jangan pernah dekati lagi kemaksiatan itu di kemudian hari.

Jika ia telah meninggalkan perintah Allah ‘azza wajalla dan menuntut adanya qadha’, maka ia harus bersegera untuk melaksanakan qadha’ tersebut, seperti zakat, Haji, puasa Ramadhan, dan semisalnya.

Jika kemaksiatannya berkaitan dengan hak manusia, seperti utang yang belum dibayar, maka hendaknya segera dikembalikan kepada pemiliknya jika masih hidup. Jika telah meninggal, dikembalikan kepada ahli warisnya. Jika tak diketahui keberadaannya, uang tersebut disedekahkan dengan niat untuk pemiliknya.

Baca juga: Enam Jenis Ghibah yang Diperbolehkan dalam Islam

Jika kemaksiatan itu berbentuk ghibah, maka ia harus meminta keridhaan dan maaf dari orang yang telah ia ghibahi. Jika ia takut, hendaknya ia memohonkan ampun kepada orang yang telah ia ghibahi, atau ia ganti ghibahnya dengan  pujian kepadanya di majelis di mana ia telah berbuat ghibah kepadanya.

Karena, kebaikan itu dapat menghapus keburukan.

 

Syarat tobat nasuha yang ketiga: Menyesal

Di antara syarat tobat nasuha adalah menyesali perbuatan dosa yang telah ia lakukan. Disertai dengan kesungguhan untuk tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Karena jika ia mengulanginya lagi, itu hanya akan membawa dirinya pada kehinaan dan penyesalan tiada tara di hadapan Allah ‘azza wajalla kelak.

 

Syarat tobat nasuha yang keempat: Komitmen

Bertobat kepada Allah ‘azza wajalla harus disertai dengan komitmen yang kuat (‘azzam) untuk tidak mengulangi perbuatan dosa setelah ia bertobat. Selamanya. Komitmen inilah yang akan menjadi indikasi apakah ia benar-benar serius dalam bertobat ataukah tidak.

Baca juga: Keutamaan Malam Lailatul Qadar — Hadits Puasa #22

 

Syarat tobat nasuha yang kelima: Bersegera

Maksudnya, bertobat kepada Allah ‘azza wajalla harus dilakukan sesegera mungkin setelah ia sadar telah berbuat kemaksiatan dan dosa. Jangan ditunda-tunda. Karena, jika kesempatan untuk tobat bagi dirinya telah habis, maka tak akan pernah ada kata tobatnya diterima oleh Allah ‘azza wajalla.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barang siapa bertobat kepada Allah sebelum matahari terbit dari arah Barat, maka Allah akan menerima tobatnya.” (HR. Muslim No. 2703)

Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Dari Ibnu Umar, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Sungguh Allah akan menerima tobat seorang hamba (jika dilakukan) sebelum sekarat.” (HR. At-Tirmizi No. 3537; HR. Ibnu Majah No. 4253; HR. Ahmad, 10/300. Hadits ini sanadnya hasan)

Jadi, selama nyawa seseorang sampai di kerongkongan, tobatnya masih berpeluang untuk diterima oleh Allah ‘azza wajalla. wallahu a’lam [Sodiq Fajar/dakwah.id]

 

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لَا تَضُرُّهُ الْمَعْصِيَةُ وَلَا تَنْفَعُهُ الطَّاعَةُ، اُرْزُقْنَا التَّوْبَةَ إِلَيْكَ وَالْإِنَابَةَ، وَأَيْقِظْنَا يَا مَوْلَانَا مِنْ نَوْمٍ الْغَفْلَةِ، وَنَبِّهْنَا لِاغْتِنَامِ أَوْقَاتِ الْمُهْلَةِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ، وَاسْتَهْدَاكَ فَهَدَيْتَهُ، وَاسْتَنْصُرُكَ فَنَصَرْتَهُ، وَتَضَرَّعَ إِلَيْكَ فَرَحِمْتَهُ، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah, Dzat yang tidak menjadi buruk karena kemaksiatan dan tidak mendapat manfaat dari ketaatan, karuniai kami tobat dan penyesalan kepada-Mu. Bangkitkan kami, ya Allah, dari lelapnya kelalaian. Ingatkan kami agar selalu memanfaatkan waktu senggang. Ya Allah, jadikan kami golongan orang-orang yang bertawakal kepada-Mu dan Engkau penuhi tawakal kami, jadikan kami golongan orang-orang yang memohon petunjuk-Mu dan Engkau beri petunjuknya, dan golongan orang-orang yang memohon pertolonganmu dan Engkau penuhi pertolongannya, dan golongan orang-orang yang menunduk di hadapan-Mu lalu Engkau rahmati ia, dan ampuni dosa kami ya Allah, ampuni dosa kedua orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Penerjemah: Sodiq Fajar