Gambar Adab Traveling Pesan Nabi di Lembah Tsamud dakwah.id

Adab Traveling: Pesan Nabi di Lembah Tsamud

Terakhir diperbarui pada ·

Penting bagi setiap muslim untuk memahami adab traveling. Melalui kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Lembah Tsamud, artikel ini akan mengungkap adab-adab atau etika yang sepatutkan kita lakukan ketika melewati tempat-tempat yang pernah diazab.

Bagi kebanyakan orang, traveling adalah tentang panorama, cerita ringan yang berkesan, dan kenangan yang menyenangkan. Umumnya, wisatawan datang untuk memotret pemandangan, menikmati arsitektur kuno, atau sekadar mengisi galeri kamera dengan gambar yang indah.

Namun, dalam salah satu perjalanan penting dalam sirah Nabi shalallallahu alaihi wasallam, kita menemukan pelajaran yang sangat berbeda tentang makna sebuah perjalanan melintasi tempat bersejarah.

Sebelum sampai pada pelajaran itu, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu peristiwa dalam Sirah Nabawiyah yang melatarbelakanginya.

Perjalanan Menuju Tabuk: Latar Belakang Adab Traveling Nabi

Peristiwa ini terjadi pada tahun 9 Hijriah ketika Nabi shalallallahu alaihi wasallam memimpin sebuah ekspedisi besar menuju Tabuk, sebuah wilayah di utara Jazirah Arab yang berbatasan dengan wilayah kekuasaan Romawi.

Saat itu, beredar kabar bahwa pasukan Romawi sedang mempersiapkan kekuatan militer besar untuk menghadapi kaum muslimin.

Nabi shalallallahu alaihi wasallam tidak menunggu ancaman itu datang ke Madinah. Beliau memilih langkah strategis: menghadapi potensi ancaman sebelum ia membesar. Maka beliau memerintahkan kaum muslimin bersiap untuk perjalanan panjang menuju Tabuk.

Ekspedisi ini dikenal dalam sejarah sebagai Jaisy al-Usrah, yang artinya pasukan dalam masa kesulitan. Julukan itu bukan tanpa alasan.

Artikel Fikih: Berapa Jarak Minimal Perjalanan Boleh Qashar Shalat bagi Musafir?

Perjalanan ini berlangsung di tengah panas musim yang sangat terik. Jarak yang harus ditempuh sangat jauh, hampir seribu kilometer dari Madinah. Persediaan air terbatas, kendaraan tidak cukup untuk semua orang, dan kondisi ekonomi Madinah saat itu juga tidak sedang lapang.

Sebagian sahabat bahkan harus bergantian menaiki satu unta untuk beberapa orang. Banyak yang berjalan kaki berhari-hari di padang pasir yang membakar. Al-Quran sendiri mengabadikan beratnya perjalanan ini,

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ

Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit.(QS. At-Taubah: 117)

Di tengah semua kesulitan itu, pasukan muslim terus bergerak menuju utara. Dalam perjalanan panjang itulah mereka melewati sebuah wilayah sunyi yang menyimpan sejarah kelam: Al-Hijr, negeri kaum Tsamud, yang memberikan pelajaran mendalam bagi kita tentang adab traveling saat melewati situs bersejarah.

Singgah di Al-Hijr: Etika Perjalanan di Tempat yang Pernah Diazab

Wilayah al-Hijr terletak di antara Madinah dan Tabuk. Tempat itu dikenal dengan gunung-gunung batu besar yang dipahat menjadi rumah-rumah megah. Sebagian bangunannya bahkan masih berdiri hingga hari ini.

Ketika pasukan muslim sampai di sana, mereka melihat bekas-bekas kota kuno yang luar biasa. Dinding batu yang diukir rapi, pintu-pintu besar yang terpahat langsung dari gunung, dan ruang-ruang yang tampak seperti istana batu. Sebagian sahabat mungkin melihatnya dengan rasa takjub. Kota itu tampak seperti bukti kecanggihan sebuah peradaban kuno.

Akan tetapi bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam, tempat itu bukan sekadar situs arkeologi. Tempat itu adalah bekas negeri kaum Tsamud, sebuah bangsa yang pernah hidup dalam kemakmuran, namun kemudian dihancurkan oleh azab Allah setelah mereka menolak dakwah Nabi Shalih ‘alaihissalam.

Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak memandang tempat itu dengan kekaguman. Beliau memandangnya dengan rasa takut. Bagi kebanyakan orang hari ini, Madain Shaleh (al-Hijr) adalah mahakarya seni pahat batu yang eksotis. Padahal, di balik keindahannya, al-Hjir adalah monumen kesombongan.

Di sanalah kaum Tsamud menantang Allah, menyembelih unta mukjizat, dan merasa aman di balik megahnya gunung-gunung yang mereka pahat. Nabi shallallahu alaihi wasallam ingin para sahabat memahami bahwa keindahan yang terlihat di hadapan mereka bukanlah simbol kejayaan, melainkan sisa-sisa dari sebuah kehancuran peradaban.

Ketegasan Nabi di Tanah yang Terhina

Di saat sebagian sahabat mengambil air dari sumur di wilayah itu untuk diminum dan membuat adonan roti, Nabi shallallahu alaihi wasallam segera memberikan instruksi yang sangat tegas.

Beliau memerintahkan agar air tersebut dibuang dan adonan roti yang sudah dibuat tidak boleh dimakan, melainkan diberikan kepada unta. Instruksi itu tampak keras, terlebih karena mereka sedang dalam perjalanan yang penuh kesulitan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang mengajarkan sebuah prinsip penting: tempat yang pernah menjadi lokasi turunnya murka Allah tidak boleh diperlakukan seperti tempat biasa. Ada jejak sejarah spiritual yang harus dihormati.

Dalam kitab Zad al-Maad, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mencatat beberapa poin penting dari perjalanan Tabuk sebagai berikut.

1.   Mempercepat Langkah (Al-Isra’)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak berhenti untuk sekadar mengagumi arsitektur pahatan gunung yang luar biasa di al-Hijr. Beliau justru mempercepat perjalanannya.

Ini menunjukkan bahwa tempat yang pernah menjadi saksi murka Allah bukanlah tempat untuk bersantai, berpiknik, atau berlama-lama tanpa tujuan yang dibenarkan syariat.

2.   Menutup Diri dan Menundukkan Pandangan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ber-taqannu’ (menutup kepala/wajah dengan pakaiannya).

Ini adalah simbol rasa takut dan pengagungan kepada Allah. Sebuah pengingat bahwa siapa pun kita tidak aman dari murka-Nya, jika melakukan pembangkangan yang sama seperti kaum terdahulu.

3.   Memasuki dengan Tangis dan Iktibar

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

‌لَا ‌تَدْخُلُوا ‌عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ، لَا يُصِيبُكُمْ مَا أَصَابَهُمْ.

Janganlah kalian memasuki tempat orang-orang yang mengazab dirinya sendiri ini, kecuali dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak bisa menangis maka janganlah masuk, agar kalian tidak ditimpa musibah seperti yang menimpa mereka.” (HR. Al-Bukhari No. 423; HR. Muslim No. 2980)

Menangis di sini bukanlah sekadar emosi sedih, melainkan bentuk iktibar, yaitu pelajaran bagi hati bahwa kekuatan setangguh apa pun jika melawan penciptanya, akan berakhir hancur.

Materi Kultum Ramadhan: Begini Taubat Abu Bakar Ash-Shiddiq

Hari ini, wilayah al-Hijr (Madain Shaleh/Hegra,terletak di Provinsi al-Ula, Arab Saudi) menjadi destinasi wisata estetik favorit para turis mancanegara. Tahun 2008, al-Hijr resmi menjadi Warisan Dunia UNESCO.

Banyak orang datang untuk memotret keindahan pahatan batu kaum Tsamud. Padahal kontrasnya sangat tajam. Nabi shallallahu alaihi wasallam memasuki tempat itu dengan rasa takut dan tangisan. Sebagian orang memasukinya dengan tawa dan gaya paling modis.

Nabi shallallahu alaihi wasallam ingin segera melewatinya. Sebagian orang justru berlama-lama demi konten.

Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam saja merasa ngeri melihat bekas azab Allah, maka seorang mukmin seharusnya tidak merasa nyaman berada di sana.

Penutup: Menerapan Adab Traveling yang Menghidupkan Hati

Dalam kitab Fiqh Sirah Nabawiyah-nya, Syaikh Ramdhan al-Buthy menegaskan, “Tidak diragukan, Allah subhanahu wataala membiarkan peninggalan itu di bumi sebagai pelajaran bagi orang yang memiliki mata hati dan akal. Oleh karena itu, keliru jika seseorang melewatinya dengan lalai, hanya terpukau pada bentuk bangunan dan ukirannya, tanpa menangkap ibrahnya.”

Beliau juga memakruhkan jalan-jalan tanpa niat iktibar dan berdoa memohon afiyah kepada Allah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa traveling dalam Islam bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi perjalanan kesadaran. Situs-situs seperti al-Hijr mengingatkan bahwa sebuah peradaban bisa memiliki teknologi hebat, arsitektur luar biasa, dan kekuatan besar, namun tetap runtuh karena kesombongan terhadap Allah.

Karena itu, jika seorang muslim mengunjungi tempat bersejarah, terutama bekas negeri yang diazab, ia datang bukan sebagai turis yang mencari hiburan. Ia datang sebagai seorang hamba yang sedang membaca peringatan dari sejarah. Dengan menjaga adab traveling, kita memastikan bahwa setiap langkah kaki kita mendatangkan pahala dan menjauhkan kita dari kelalaian hati.

Jika hati kita tidak mampu menangis melihat kehancuran sebuah bangsa karena dosa mereka, setidaknya, jagalah adab: jangan tertawa riang gembira di atas tanah yang pernah menjadi saksi murka Allah.

Sungguh, dunia ini penuh dengan puing-puing peradaban yang sombong. Saat kita berkunjung ke tempat-tempat yang sejarahnya adalah sejarah pembangkangan dan azab, hendaknya hati kita lebih aktif daripada kamera kita. Jangan masuk sebagai turis yang asing, tapi masuklah sebagai hamba yang gemetar akan kebesaran-Nya. (M. Faishal Fadhli/dakwah.id)

Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq.

Referensi

Al-Jauziyah, Ibnul Qayim. Zād al-Maād fī Hadyi Khayr al-Ibād. Mu’asasah ar-Risalah. 1406 H.

Al-Khamis, Utsman. Kunūz as-Sīrah. Kuwait: Syirkah Maktabah wa Tasjilat Imam Dzahabi. 2008.

Al-Mubārakfūrī, Ṣafiyyur-Raḥmān. Ar-Raḥīq al-Makhtūm. Wizarah Awqad wa Syu’un Islamiyah, Daulah Qathar. 2006.

Az-Zaid, Zaid Abdul Karim. Fiqhus Sirah. Dar at-Tadamuriyah. 1424 H.

Al-Buthy. Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir. 1991 M/1411 H.

Baca juga artikel menarik lainnya karya M. Faishal Fadhli atau artikel Adab terbaru:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading