Sebab lemahnya Iman dalam Diri Seorang Muslim yang Wajib Anda Ketahui

690

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Ada banyak hal yang jika dilakukan oleh seorang yang beriman, itu akan berakibat melemahkan iman yang telah ada dalam diri. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menyebutkan beberapa sebab lemahnya iman, antara lain,

 

Jauh dari Nuansa Iman

Jauhnya seorang mukmin dari nuansa iman dalam durasi waktu yang cukup panjang dapat menjadi sebab lemahnya iman. Allah berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Nuansa iman yang paling mudah didapat adalah dengan banyak bergaul dengan ikhwah fillah, teman beriman yang senang menasehati dan menyemangati dalam ketaatan. Ketika seorang mukmin jauh dari pergaulan dengan ikhwah fillah baik karena sedang safar dalam waktu yang lama, pindah rumah sehingga pindah ke lingkungan yang jauh dari nuansa iman, dan semisalnya, maka sedikit-demi sedikit nuansa iman dalam dirinya akan meredup.

Baca Juga: Cabang Iman Dan Cabang Kekufuran Dalam Akidah Ahlu Sunnah

Oleh sebab itu, keberadaan ikhwah fillah di dekat seorang mukmin adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Al-Hasan al-Bashri mengatakan,

إخواننا أحب إلينا من أهلينا وأولادنا، لأن أهلينا يذكرونا الدنيا وأخواننا يذكرونا الآخرة

“Ikhwah kami lebih kami cintai dari keluarga kami. Sebab keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia, sedangkang ikhwah kami mengingatkan kami kepada akhirat.” (Qutul Qulub, Abu Thalib al-Makki, 2/367)

 

Jauh dari Keteladanan yang Baik dan Jauh dari Thalabul Ilmi

Seorang mukmin yang belajar ilmu kepada seorang guru yang shalih akan terkumpul pada dirinya ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan keimanan yang kuat. Maka tatkala orang mukmin tersebut berpisah dari gurunya dalam waktu tertentu, itu dapat menimbulkan kerasnya hati dan menjadi sebab lemahnya iman.

Seperti itulah yang dirasakan para sahabat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Mereka kehilangan sosok panutan terbaik sepanjang zaman. Rasa kehilangan itu membekaskan kelemahan hati dan penyusutan iman pada diri para sahabat.

Demikian pula, ketika seorang mukmin jauh dari aktivitas thalabul ilmi dan interaksi dengan kitab-kitab turats, maka itu akan menjadikan iman seorang mukmin melemah. Sebab, interaksi dengan ilmu syar’i akan membuahkan keimanan pada diri seseorang.

 

Tenggelam dalam Kesibukan Duniawi

Kesibukan duniawi telah banyak membuat lalai pribadi-pribadi insan beriman. Bahkan, kesibukan duniawi telah berhasil memaksa hati untuk tunduk menjadi budak dunia. Kesibukan terhadap dunia telah menjadi sebab lemahnya iman.

إِنَّ اللهَ قَالَ: إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَلَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ، لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِ ثَانٍ، وَلَوْ كَانَ لَهُ وَادِيَانِ، لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِمَا ثَالِثٌ، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، ثُمَّ يَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kami turunkan (keberadaan) harta untuk menegakkan shalat dan membayar zakat. Seandainya anak keturunan Adam memiliki satu danau harta niscaya dia ingin memilik dua, jika dia memiliki dua danau niscaya ingin memiliki tiga danau. Dan tidaklah anak Adam akan puas kecuali setelah dipenuhi tenggorokannya oleh tanah, lalu Allah mengampuni siapa saja yang bertaubat.” (Musnad Imam Ahmad, 36/237 No. 21906)

Baca Juga: Trend Mengikuti Tradisi Non Muslim: Pintu Kehancuran Generasi Islam

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya agar tidak berlebihan dalam ambil bagian dalam urusan dunia sehingga menyibukkan dirinya kemudian lalai dengan Rabb-Nya.

Rasulullah bersabda,

إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ مَا كَانَ فِي الدُّنْيَا مِثْلُ زَادِ الرَّاكِبِ

 

Sibuk dengan Urusan Harta, Istri, dan Anak

Sibuk dengan urusan harta, istri, dan anak sangat berpotensi menjadi sebab lemahnya iman.

Allah berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wajalla berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14)

Baca Juga: Penyesatan Opini: Pekerjaan Iblis Sejak Jaman Nabi Adam

Ayat di atas bermakna bahwa apabila cinta terhadap wanita (istri), anak, dan harta didahulukan daripada ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, maka rasa cinta tersebut akan mendatangkan cela bagi dirinya. Namun jika rasa cintanya kepada hal-hal tersebut dibangun di atas aturan syar’i dan untuk ketaatan kepada Allah, maka ini adalah perbuatan terpuji.

 

Panjang Angan-angan

Obsesi untuk menguasai apa yang ada di dunia, angan-angan yang terlampau jauh melebihi kemampuan yang dimiliki menjadi sala satu sebab lemahnya iman seorang Muslim.

Allah berfirman,

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3)

Ali bin Abi Thalib berkata,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اثْنَتَانِ: اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ، فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى: فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ: فَيُنْسِي الْآخِرَةَ

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan yang terjadi pada diri kalian ada dua; mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran, panjang angan-angan akan melalaikan diri dari akhirat.” (Qashrul Amal, Ibnu Abi Dunya, 50)

 

Porsi Makan, Tidur, dan Perkataan yang Berlebihan

Porsi makan yang berlebihan itu ternyata dapat menumpulkan akal dan memberatkan badan dari ketaatan. Sedangkan berlebihan dalam berbicara itu akan merapuhkan hati. Berlebihan dalam bergaul akan menyibukkan diri dengan manusia sehingga waktu untuk berkhalwat dengan Allah menjadi terkikis dan kesempatan muhasabah menjadi berkurang. Sementara berlebihan dalam tertawa dapat mematikan hati. Tindakan-tindakan berlebihan tersebut menjadi salah satu sebab lemahnya iman seorang Muslim.

Rasulullah bersabda,

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”  (HR. Ibnu Majah No. 4193; Shahih al-Jami’ No. 7435) wallahu a’lam. [Shodiq/dakwah.id]