materi khutbah jumat tetanggamu pintu surgamu dakwah.id

Materi Khutbah Jumat: Tetanggamu Pintu Surgamu

Terakhir diperbarui pada ·

Teks Khutbah Jumat Singkat
Tetanggamu Pintu Surgamu

Pemateri: Ustadz Hafizh Nizham

Mukadimah Khutbah Jumat

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْغَفَّارِ، ٱلْوَاحِدِ ٱلْقَهَّارِ، مُصَرِّفِ ٱلْأُمُوْرِ وَمُقَدِّرِ ٱلْأَقْدَارِ، أَوْصَى بِٱلْإِحْسَانِ إِلَى ٱلْجَارِ، وَوَفَّقَ مَنِ ٱجْتَبَاهُ لِيَكُوْنَ مِنَ ٱلْأَخْيَارِ. وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَسَيِّدِ ٱلْأَبْرَارِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ ٱلْمُبَرَّئِيْنَ مِنَ ٱلشَّوَائِبِ وَٱلْأَكْدَارِ. أَمَّا بَعْدُ.

فَإِنَّ أَصْدَقَ ٱلْحَدِيْثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَأَحْسَنَ ٱلْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ ٱلْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا. وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي ٱلنَّارِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Tahukah kita, bahwa ada satu perkara yang terus-menerus diwasiatkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang saking pentingnya perkara tersebut hingga Malaikat Jibril menyampaikan wasiat kepada Nabi tidak hanya sekali-dua kali, tetapi berulang kali.

Jika Malaikat Jibril sampai berulang-ulang menyampaikan wasiat tentang suatu perkara kepada Nabi, maka itu bukan perkara yang kecil, tapi sesuatu yang sangat besar. Sampai malaikat paling mulia di langit senantiasa menyampaikannya berulang-ulang.

Lantas wasiat apa yang Malaikat Jibril sampaikan kepada Nabi? Apakah supaya Nabi shalat malam sebanyak 1.000 rakaat? Atau agar Nabi berpuasa satu tahun full? Tidak. Karena ternyata wasiat itu adalah tentang berbuat baik kepada tetangga.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, dalam hadits sahih riwayat Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, hadits nomor 1942,

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ.

Tidak henti-hentinya Jibril berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris.”

Tetanggamu adalah Pintu Surgamu

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Inilah mengapa Allah menjadikan tetangga itu sebagai salah satu pintu menuju surganya Allah yang seluas langit dan bumi.

Sebaliknya, kalau ada orang yang suka mengganggu tetangganya, meskipun ia seorang ahli ibadah yang sujudnya lama kepada Allah, maka neraka jauh lebih layak untuk tempat kembalinya.

Karena amalan yang banyak bisa menjadi sangat ringan nilainya ketika seseorang berbuat buruk kepada tetangganya sendiri saking tingginya kedudukan hak bertetangga di sisi Allah.

Baca juga: Buah Jatuh di Jalan Umum, Bagaimana Hukum Mengambil dan Memakannya?

Imam al-Bukhari, dalam Adab al-Mufrad nomor hadits 119, meriwayatkan sebuah hadits yang sangat menggugah.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan. Ia gemar shalat malam, senang berpuasa, mengerjakan (berbagai kebaikan), dan berhimpun sedekahnya. Hanya saja, ia suka mengganggu tetangganya dengan lisannya?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab,

لَا خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ.

Tidak ada kebaikan darinya, tempatnya adalah berada di neraka.”

Sahabat yang lain bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan yang shalat (sebatas yang wajib), sedekahnya hanya beberapa potong keju, tetapi ia tidak pernah menyakiti orang lain?”

Nabi pun menjawab,

هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Dia seorang dari penduduk surga.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Allah menurunkan ayat dari langit ketujuh tentang urusan tetangga.

Allah berfirman dalam al-Quran Surat an-Nisa ayat 36,

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh.”

Dalam ayat yang barusan khatib bacakan, setelah Allah memerintahkan tentang perkara tauhid, Allah juga memerintahkan untuk memuliakan tetangga.

Menariknya, Allah tidak hanya menyebut tetangga dekat, tetapi juga tetangga yang jauh. Para ulama kemudian membahas luasnya cakupan tetangga sampai 40 rumah dari setiap arah dari rumah kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ajaran Islam memperluas makna tetangga hingga sampai puluhan rumah dan tidak tetangga samping kanan dan kiri kita saja?

Karena dalam Islam, kesalehan tidak boleh berhenti di atas sajadah, kualitas kebaikan seseorang bukan hanya dari ibadahnya, tetapi juga dari bagaimana tetangganya merasakan kebaikannya.

Ibunda Aisyah radhiyallahu anhuma memberi teladan kepada kita dalam bertetangga. Ketika Aisyah teramat menjaga ikatan baik hubungan dengan seluruh tetangganya, Aisyah melindungi nama baik mereka, hingga Aisyah berinteraksi dengan perilaku terbaiknya.

Pada suatu waktu, Aisyah memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai hadiah, tapi hadiah yang sedang ia miliki hanya satu. Sementara Aisyah ingin memberikan hadiah kepada seluruh tetangganya.

Maka Aisyah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai dua tetangga. Kepada siapa hadiahku ini diberikan?”

Nabi menjawab, sebagaimana yang terabadikan dalam Shahih al-Bukhari, hadits nomo 2140,

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا.

Yang paling dekat daun pintu rumahnya denganmu.”

Antara Iman dan Tetangga

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Rasulullah pernah membuat kaget para sahabat dengan sumpah beliau.

Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya hadits nomor 5670 meriwayatkan: Abu Syuraih mengisahkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suatu ketika bersabda, “Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman.”

Beliau ditanya, “Siapakah gerangan, wahai Rasulullah?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman karena perbuatannya.”

Bukankah iman itu seharusnya identik dengan ibadah kita, seperti membaca al-Quran, shalat, puasa, tetapi mengapa di sini justru Nabi mengaitkan iman dengan sesuatu yang bernama tetangga? Apa hubungannya iman dengan tetangga?

Karena dalam Islam, iman bukan hanya apa yang terjadi antara seorang hamba dengan Allah. Tujuan iman juga bukan hanya membuat seseorang rajin beribadah tetapi dalam urusan bertetangga ia berantakan.

Iman itu membuat seseorang baik hubungan antara dirinya dengan Rabbnya, atau hablun minallah, dan baik antara dirinya dengan manusia lainnya, atau hablun minannas.

Karenanya, para salaf shalih itu sangat memperhatikan perkara tetangga.

Dikisahkan bahwa Said bin al-Ash itu bukan hanya seorang yang taat kepada Allah, tetapi dia juga sangat baik kepada tetangganya.

Sampai-sampai tetangganya ketika hendak menjual rumahnya seharga seratus ribu dirham, ia berkata kepada para pembeli,

Untuk harga rumahnya, kita sudah sepakat. Tetapi berapa harga yang kalian berikan untuk bertetangga dengan Said bin al-Ash?”

Para pembeli itu terheran-heran, “Apakah hubungan bertetangga dengan Said juga harus kami beli?”

Ia berkata, “Bagaimana mungkin tidak? Ini adalah tetangga yang jika engkau tidak terlihat, ia akan menanyakan kabarmu. Jika ia bertemu denganmu, ia menyambutmu dengan hangat.

Jika engkau pergi, ia menjaga kehormatan dan hak-hakmu. Jika engkau datang, ia memuliakanmu. Jika engkau membutuhkan sesuatu, ia membantu memenuhi kebutuhanmu.

Bahkan sebelum engkau meminta, ia telah lebih dahulu menawarkan bantuan. Dan jika musibah menimpamu, ia menjadi orang pertama yang meringankan bebanmu.”

Jangan Sakiti Tetanggamu

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Jangan sakiti tetanggamu. Karena berbuat kezaliman pada tetangga, dosanya akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat daripada berbuat kezaliman pada orang yang tak dikenal.

Dan berbuat baik kepada tetangga, pahalanya pun akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat daripada berbuat baik kepada orang yang tak dikenal.

Artikel Adab: Menunda Bayar Hutang, Apa Akibatnya?

Imam Ahmad dalam Musnad-nya, hadits nomor 23854 dengan sanad hasan, dan Imam al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, hadits nomor 103, meriwayatkan bahwa Miqdad bin al-Aswad berkisah, “Pada suatu hari Nabi bertanya kepada para sahabatnya,‘Apa pendapat kalian tentang perzinaan?’

Para sahabat menjawab, ‘Ia sesuatu yang (amat buruk sampai) diharamkan berulang-ulang oleh Allah dan rasul-Nya, selamanya haram sampai hari kiamat.’

Maka Nabi bersabda, ‘Sungguh, jika seseorang berzina dengan sepuluh wanita, maka dosanya itu lebih ringan bila dibandingkan zina yang dia lakukan dengan wanita dari tetangganya.’

Nabi kembali bertanya, ‘Apa pendapat kalian tentang pencurian?’

Para sahabat serentak menjawab, ‘Ia sesuatu yang telah diharamkan berulang-ulang oleh Allah dan rasul-Nya, maka (hukumnya jelas) haram.’

Maka Nabi menimpali, ‘Sungguh, jika seseorang mencuri harta dari sepuluh rumah orang lain, maka dosanya itu lebih ringan bila dibandingkan dengan mencuri isi rumah tetangganya.’”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan adab-adab dalam bertetangga sebagaimana berikut:

“Mengucapkan salam, menjenguk tetangga yang sakit, melayat atau takziah ketika tetangga mendapatkan musibah, mengucapkan selamat jika tetangga mendapati kebahagiaan.

Selain itu, ikut senang saat tetangga mendapatkan nikmat, meminta maaf jika berbuat salah, berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi pasangan tetangga yang bukan mahram.

Kemudian, Menjaga rumah tetangga jika ia pergi, berupaya bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga, dan berusaha mengajarkan perkara agama atau ilmu dunia yang tetangga tidak ketahui.”

Demikian materi khutbah Jumat dengan tema “Tetanggamu Pintu Surgamu” pada siang ini. Semoga tetangga menjadi pintu surga kita, bukan malah sebaliknya—menjadi pintu neraka bagi kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اِنَّ اللَّهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الْكُفْرَ وَالْكَافِرِيْنَ، وَدَمِّرِ اَللَّهُمَّ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلِ اَللَّهُمَّ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوْا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Tetanggamu Pintu Surgamu
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading