materi khutbah jumat menjaga lisan di era digital dakwah.id

Materi Khutbah Jumat: Menjaga Lisan di Era Digital

Terakhir diperbarui pada ·

Khutbah Jumat berjudul Menjaga Lisan di Era Digital yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Faishal Fadhli ini membahas fenomena umum perkataan kasar dan fitnah di media sosial serta mengingatkan umat Islam tentang pentingnya menjaga lisan sebagai anugerah besar dari Allah.

Materi khutbah ini menyajikan empat poin utama: bagaimana perkataan dapat membuka pintu kebaikan, bagaimana lisan dapat menentukan nasib seseorang di Surga atau Neraka, perlunya meneladani kehati-hatian para ulama dalam berbicara, dan manfaat belajar diam sebagai bentuk kebijaksanaan. Secara keseluruhan, teks ini menggarisbawahi bahwa mengendalikan ucapan—baik lisan maupun tulisan di platform digital—adalah bagian integral dari ketakwaan.


Materi Khutbah Jumat
Menjaga Lisan di Era Digital

Pemateri: Ustadz Muhammad Faishal Fadhli

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Di zaman sekarang, kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan: kata-kata keji, caci maki, sumpah-serapah, umpat-mengumpat, bahkan fitnah, seolah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Media sosial dipenuhi dengan komentar kasar. Ruang publik sering bergema dengan suara-suara hinaan. Bahkan dalam pergaulan anak-anak muda, ucapan kotor dianggap gaul, keren, dan kekinian. Lebih ironisnya lagi, sebagian orang merasa bangga ketika lisannya mampu menyakiti orang lain. Seakan-akan, semakin kasar ucapannya, semakin tinggi harga dirinya.

Padahal, lisan adalah anugerah besar dari Allah subhanahu wataala. Dengannya, manusia bisa menyampaikan doa, kasih sayang, ilmu, dan kebenaran. Namun, lisan yang tidak dijaga justru bisa menjadi sumber kehancuran.

Menjaga Lisan Meningkatkan Ketakwaan

Maasyarial muslimin rahimakumullah

Dalam kesempatan khutbah pertama pada Jumat siang ini, kita akan membahas empat poin utama yang menunjukkan bagaimana menjaga lisan dapat meningkatkan ketaqwaan.

Pertama: Perkataan Bisa Membuka Pintu-Pintu Kebaikan

Kata-kata adalah energi. Dengan satu ucapan, kita bisa menumbuhkan semangat orang lain, mendamaikan dua orang yang berselisih, atau menanamkan benih-benih harapan di dalam hati yang gundah. Bahkan, ucapan yang baik bernilai sedekah yang sangat dianjurkan.

Allah subhanahu wataala berfirman sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran Surat al-Baqarah: 83,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.”

Ucapan yang baik bukan hanya menyenangkan hati orang lain, tetapi juga mendekatkan kita pada ridha Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan dzikir-dzikir ringan namun besar pahalanya. Beliau bersabda dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim yang artinya, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil azhim.”

Dzikir, doa, dan kata-kata lembut adalah pintu kebaikan yang terbuka luas melalui lisan.

Maasyarial muslimin rahimakumullah

Kedua: Perkataan Bisa Mengantarkan Seseorang ke Surga atau Menjerumuskan ke Neraka

Satu kalimat dapat menjadi penentu nasib akhir manusia. Kalimat syahadat adalah contoh paling jelas: ucapan itu membedakan antara iman dan kufur, antara surga dan neraka.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, dalam hadits riwayat al-Bukhari,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan satu kalimat yang diridhai oleh Allah tanpa ia menyadarinya, namun dengan sebab kalimat itu, Allah mengangkat derajatnya beberapa tingkat.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, dalam hadits sahih riwayat Imam at-Tirmidzi,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian mengucapkan satu kalimat yang mengandung keridaan Allah, ia tidak menyangka bahwa kalimat itu akan membawa pengaruh sejauh itu. Maka Allah azza wa jalla menetapkan keridaan-Nya baginya hingga hari ia berjumpa dengan-Nya.”

Allah subhanahu wataala juga mengingatkan keras tentang bahaya ghibah, dalam al-Quran Surat al-Hujurat ayat 12,

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ucapan buruk tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga menjadi dosa besar yang sangat menjijikkan. Selain itu, orang yang suka menggunjing atau mencela, maka di akhirat kelak akan kehilangan tabungan pahala.

Baca juga: Trend Menyebarkan Berita Dusta di Era Sosial Media

Sungguh mengherankan orang yang di malam hari rajin shalat Tahajud, lalu setelah shalat fajar pun berzikir dan membaca al-Quran, tapi pada siang harinya, ia membuang-membuang pahalanya itu dan ditransfer kepada orang yang ia bicarakan aibnya.

Maka, biasakanlah untuk selalu melatih diri dalam mengontrol lisan. Saat tergoda untuk jatuh pada ghibah, ingatlah pesan Imam Syafi’i rahimahullah, “Orang lain juga punya lisan, dan kamu pun punya kekurangan.”

Maasyarial muslimin rahimakumullah

Ketiga: Para Ulama Sangat Berhati-Hati dalam Menjaga Lisan

Orang berilmu lebih menyadari bahaya lisan daripada orang awam. Para ulama mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lisan, “Jika engkau ingin berbicara, maka pikirkanlah. Jika jelas ada maslahatnya, bicaralah. Jika tidak, diam lebih baik bagimu.”

Kehati-hatian para ulama dalam menjaga lisan merupakan teladan agung bagi umat. Mereka menyadari bahwa puncak dari ilmu bukanlah banyak berbicara, melainkan kemampuan menahan diri dari kata-kata yang sia-sia atau bahkan berbahaya.

Ilmu sejati melahirkan kewaspadaan; semakin dalam pengetahuan seorang ulama, semakin besar rasa takutnya untuk berbicara tanpa timbangan syariat. Mereka sangat memahami bahwa setiap huruf yang terucap akan dihisab, sebagaimana firman Allah subhanahu wataala,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” Al-Quran, Surat Qaf ayat 18.

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kata akan tercatat, baik maupun buruk. Maka menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian penting dari ketaqwaan. Maka tidak mengherankan bila para ulama terdahulu lebih memilih diam dalam perkara yang belum jelas, daripada mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah, kesalahpahaman, atau menyakiti hati sesama.

Diamnya mereka bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan rohani, sekaligus syi’ar ketinggian adab.

Dari sikap inilah kita belajar bahwa menjaga lisan adalah bagian tak terpisahkan dari amanah ilmu. Sebab, ilmu tanpa kendali lisan hanya akan melahirkan kesombongan. Sementara ilmu yang dibarengi kehati-hatian dalam berbicara, akan menumbuhkan ketenangan, kebijaksanaan, dan ketaqwaan.

Maasyarial muslimin rahimakumullah

Keempat: Belajar Diam Itu Baik

Diam dalam Islam bukan berarti pasif, tetapi tanda kebijaksanaan. Tidak semua hal harus direspons dengan kata-kata. Kadang diam lebih berharga daripada ribuan ucapan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim yang artinya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.”

Dalam kitab Minhajul Qashidin disebutkan bahwa Abu Darda` radhiyallahu anhu berkata, “Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Diam mengajarkan kita kesabaran, menghindarkan dari pertengkaran, serta menjaga hati agar tetap bersih. Orang yang mampu menahan lisannya dari perkataan sia-sia, biasanya lebih disegani dan dihormati.

Umar bin Khatthab menasihatkan kita semua, “Man katsura kalamuhu, katsura saqathuhu.” Orang yang banyak bicaranya, banyak pula kesalahannya. Maka dari itu, di antara sifat seorang mukmin sejati, bicaranya adalah zikir, diamnya adalah tafakur. Dalam kata ia menebar cahaya. Dalam hening ia merawat jiwa.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Demikianlah khutbah Jumat pada siang hari ini. Mudah-mudahan bisa menjadi bekal kita semua untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

Menjaga Lisan di Era Digital

Di era digital, lisan tidak lagi sebatas ucapan, melainkan juga tulisan, status, komentar, dan postingan di media sosial.  Ironisnya, kini kita menyaksikan betapa banyak umat Islam yang justru menggunakan media sosial untuk ghibah, namimah, bahkan mengadu domba para ulama.

Facebook, WhatsApp, dan platform lainnya sering dipenuhi dengan narasi saling menyalahkan, mencari-cari keburukan kelompok lain, dan menyudutkan tokoh agama yang berbeda golongan.

Fenomena ini jelas berbahaya sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan, dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.”

Khutbah Jumat Singkat: Kekuatan dalam Kelembutan

Lebih dari itu, Allah subhanahu wataala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik daripada mereka yang merendahkan. Dan janganlah perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain. Sebab, boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Hujurat [49]: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa di sisi Allah, orang yang dicela bisa jadi lebih mulia daripada orang yang mencela. Karena itu, budaya saling merendahkan dan mencari kesalahan, sangat dilarang dalam Islam. Dan ini bukan perkara sepele. Sebab jika diremehkan dan dianggap wajar, umat akan terjerumus dalam jurang perpecahan yang memperlemah ukhuwah.

Maka, menjaga lisan dan menahan jemari untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti adalah bagian dari ketaqwaan. Marilah kita pastikan: baik lisan maupun tulisan kita di media sosial sebagai ladang dakwah dan kebaikan, bukan arena fitnah dan adu domba.

Sebab, hanya dengan persatuan, kejernihan hati, dan kehati-hatian dalam berbicara, kaum muslimin akan kembali kuat dan bermartabat… di hadapan Allah subhanahu wataala dan di hadapan semua manusia.

Doa Penutup Khutbah

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ، وَجَنِّبْنَا سُوءَ الْأَقْوَالِ وَالأَفْعَالِ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ، وَقُلُوبَنَا مُعَلَّقَةً بِحُبِّكَ، وَأَعْيُنَنَا دَامِعَةً مِنْ خَشْيَتِكَ.
اَللَّهُمَّ نَقِّنَا مِنَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَاحْفَظْنَا مِنْ فِتَنِ التَّفَارُقِ وَالتَّشَاتُمِ.
اَللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا نَاطِقَةً بِذِكْرِكَ، وَصَمْتَنَا غَارِقًا فِي تَفَكُّرِ جَمَالِكَ، وَقُلُوبَنَا مُنِيرَةً بِنُورِ هِدَايَتِكَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ كُلَّ نَفَسٍ نَتَنَفَّسُهُ طَاعَةً، وَكُلَّ لَحْظَةٍ نَسْكُنُهَا قُرْبَةً، وَكُلَّ كَلِمَةٍ نَنْطِقُهَا بَابًا إِلَى رِضْوَانِكَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.

اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِين، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا، وَمُؤَيِّدًا وَظَهِيرًا، اللَّهُمَّ فَرِّجْ كُرُوبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjaga Lisan di Era Digital
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading