Materi khutbah Jumat dakwah.id kali ini fokus pada topik Lima Solusi Mengatasi Futur atau melemahnya semangat beribadah. Khutbah Jumat singkat ini menjelaskan bahwa futur adalah kondisi manusiawi yang ditandai dengan penurunan semangat dan kemalasan dalam ketaatan setelah sebelumnya rajin.
Futur dapat berwujud hilangnya kekhusyukan, pengabaian dosa, atau kesibukan duniawi yang berlebihan.
Untuk mengatasi gejala tersebut, naskah khutbah Jumat ini menawarkan lima bekal utama, yaitu: menjaga niat yang lurus; melakukan amal kecil yang istiqamah; berada di lingkungan yang baik; melakukan variasi amal saleh; dan memperbanyak doa-doa peneguh hati. Tujuannya adalah memastikan bahwa ketika semangat melemah, seorang mukmin tetap berada dalam koridor sunnah dan mampu bangkit kembali.
Materi Khutbah Jumat
Lima Solusi Mengatasi Futur
Pemateri: Ustadz Muhammad Faishal Fadhli
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Gejala Futur dan Bahayanya
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Setiap insan beriman pasti pernah mengalami masa futur. Adakalanya rasa malas, jenuh, dan bosan, muncul secara mendadak dan melemahkan tekad dalam menjalankan ketaatan.
Apa pengertian futur? Futur adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami penurunan semangat beribadah setelah sebelumnya rajin dan disiplin.
Gejala futur adalah ketika hati menjadi berat, tubuh menjadi malas, padahal sebelumnya merasakan manisnya iman dan menikmati khusyuknya ibadah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad no. 6765, Ibnu Hibban no. 1513, dan al-Bazzar,
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ.
“Sesungguhnya setiap amal itu memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat ada masa futur (kendur). Maka, barang siapa masa futurnya masih dalam sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung. Namun, barang siapa masa futurnya menjauhi sunnahku, maka sungguh ia telah binasa.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Lafal syirrah (شِرَّة) dalam hadits ini, maksudnya adalah puncak semangat, gairah, atau kekuatan ketika seorang hamba beramal. Adapun fatrah (فترة) maksudnya adalah kendor, melemah, atau berkurangnya semangat dalam amal.
Hadits ini menginformasikan bahwa futur itu manusiawi. Maka, yang terpenting bukanlah menghindari futur sepenuhnya, tetapi memastikan diri, saat masa futur itu datang kita tetap berada dalam koridor sunnah; tidak sampai meninggalkan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Tentunya, kita semua pernah merasakan masa-masa “onfire” semangat ibadah yang begitu menggebu. Hati terasa ringan saat melangkah menuju masjid, lisan tak pernah lelah menyebut nama Allah, dan air mata mudah mengalir saat membaca ayat-ayat-Nya.
Namun, ada pula masa ketika semangat itu tak lagi menyala, tubuh terasa sulit untuk bangkit, dan hati seperti beku dari rasa khusyuk. Inilah hakikat futur—kemunduran, bahkan kehilangan semangat beribadah.
Materi Khutbah Jumat: Tips Mengatasi Hati Galau
Futur bisa datang dengan bentuk yang beragam. Terkadang hadir dalam bentuk rasa malas dan lalai. Fenomena futur juga tampak ketika hati menjadi keras, tak lagi tersentuh oleh nasihat dan ayat-ayat Allah, seakan-akan cahaya hidayah tidak mampu lagi menyinarinya.
Tak jarang, futur menampakkan dirinya lewat kelalaian terhadap dosa. Kita mulai menyepelekan kesalahan kecil, lalu terbiasa melakukannya tanpa merasa bersalah. Amanah dan tanggung jawab terasa ringan untuk diabaikan, spirit dakwah memudar, dan ukhuwah yang dulu erat pun mulai merenggang.
Lebih dari itu, futur sering menjebak kita dalam kesibukan dunia. Pikiran dipenuhi urusan pekerjaan, harta, dan kesenangan, hingga melalaikan diri dari amal saleh.
Ketika sedang futur, lidah pun terbiasa banyak bicara yang sia-sia, perdebatan yang tidak perlu, atau sekadar membicarakan kejayaan masa lalu tanpa pernah benar-benar bergerak menuju masa depan.
Dan fenomena terburuk dari masa futur adalah padamnya api iman—rasa cemburu terhadap larangan Allah mulai pudar, waktu terbuang percuma tanpa arah yang jelas, dan jiwa tak lagi siap berkomitmen pada sesuatu yang serius. Hidup menjadi semrawut, tanpa tatanan, penuh alasan untuk menunda pekerjaan.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Ada kalanya futur itu datang saat kita berinteraksi dengan al-Quran. Di awal terasa ringan membuka mushaf setiap hari, membaca dengan penuh semangat, namun seiring waktu, semangat itu meredup hingga mushaf pun jarang tersentuh.
Ada pula jenis futur yang lain, yaitu futur dalam menghadiri majelis ilmu. Pada mulanya hati bergetar setiap kali duduk di taman-taman surga, merasakan sejuknya kebersamaan dengan para penuntut ilmu. Tapi perlahan, langkah menuju majelis menjadi berat, bahkan tergantikan dengan kesibukan dunia yang tak ada habisnya.
Futur juga kerap terjadi dalam shalat berjamaah. Di satu masa kita rajin menjaga shalat di masjid, namun pada masa lain, suara adzan seakan menjadi panggilan yang mendistraksi kesenangan. Nas-alullahl-’afiyah.
Baca juga: Rasa Futur dan Solusi Mengatasinya
Jamaah yang dimuliakan Allah
Demikianlah gejala dan fenomena futur yang perlahan menggerogoti jiwa, merampas waktu, dan memadamkan spirit ketakwaan. Fenomena ini wajar terjadi pada manusia. Pertama, karena iman itu bersifat fluktuatif, bisa bertambah dan bisa juga berkurang.
Dan kedua, karena hanya malaikat yang tidak pernah merasakan futur. Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Anbiya: 20,
يُسَبِّحُوۡنَ الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُوۡنَ
“Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang.”
Inilah kondisi keimanan para malaikat yang stabil. Mereka adalah para makhluk yang dicipta dari cahaya dan tidak diberi hawa nafsu.
Lain halnya dengan manusia yang sepanjang hidupnya akan terus berjuang mengatasi berbagai problem. Sebelum sampai ke garis finis kehidupan, yaitu kematian, kondisi jiwa manusia akan terus mengalami pasang surut keimanan.
Bekal Menghadapi Masa Futur
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Setelah kita menyadari gejala futur dan bahayanya, kini saatnya mencari jalan keluar. Sebab futur bukanlah akhir, melainkan ujian yang mengingatkan kita bahwa iman harus dijaga dengan usaha, kesungguhan, dan pertolongan Allah.
Karena itu, marilah kita mengkaji bersama kiat-kiat menghadapi futur, agar kita mampu bangkit dengan hati yang lebih kokoh dan semangat yang lebih tulus di jalan-Nya.
Bekal Pertama: Niat yang Lurus
Masa futur sering datang karena salah dalam menata hati. Akibatnya, shalat hanya sebatas rutinitas, membaca Quran tanpa tadabur, berzikir tanpa makna.
Ibadah yang hanya digerakkan oleh suasana, termotivasi oleh hasrat ingin dipuji, maka semangatnya akan cepat padam. Tetapi, bila niat lurus hanya karena Allah subhanahu wata’ala, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna. Oleh sebab itu, penting untuk selalu memperbarui niat.
Bekal Kedua: Amal Kecil yang Istiqamah
Istiqamah dengan amalan kecil yang berkesinambungan adalah di antara bekal menghadapi masa futur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat al-Bukhari no. 5523 dan Muslim no. 783,
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.”
Jika memang sedang futur, jangan berhenti sama sekali. Jika tidak mampu satu juz, bacalah paling tidak satu halaman. Jika qiyamul lail terasa berat, dirikan dua rakaat ringan. Langkah kecil tetap lebih baik daripada berhenti total.
Jangan pernah meremehkan amal kecil yang dilakukan secara istiqamah. Meski kecil, tapi dapat menumbuhkan kekuatan rohani, meneguhkan hati, dan menjaga kita dari rasa jenuh. Maka teruslah berpegang pada amal sederhana yang bisa dijaga setiap hari, entah itu dzikir, shalat sunnah, atau sedekah, walau sedikit bilangannya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Bekal Ketiga: Lingkungan yang Baik
Hati itu lemah, mudah goyah, mudah terbolak-balik. Jika dikelilingi orang lalai, hati pun akan lalai. Namun, jika duduk di majelis ilmu, berteman dengan orang-orang saleh, insyaallah semangat kita kembali hidup dan kualitas ruhiyah ikut meningkat.
Betapa pentingnya memilih lingkungan yang baik. Karena iman itu mudah sekali terpengaruh oleh suasana. Lingkungan yang baik adalah benteng dari futur, sekaligus bahan bakar yang menyalakan kembali semangat ibadah.
Bekal Keempat: Variasi Amal Saleh
Islam itu luas. Jika satu amal terasa berat, jangan berhenti, tapi alihkan ke amal lain. Dengan begitu, semangat kembali hidup, ibadah tidak monoton, dan lebih terasa seperti sebuah perjalanan yang penuh warna.
Tilawah al-Quran bisa diganti dengan dzikir atau mendengar audio ceramah. Shalat sunnah bisa diganti dengan sedekah, silaturahim, dan tafakur. Iktikaf, berdiam diri di masjid, bisa diganti dengan menolong orang lain. Semuanya diridhai Allah.
Khutbah Jumat Singkat: Cara Membangkitkan Semangat Beramal
Bekal Kelima: Doa-doa Peneguh Hati
Kemudianbekal menghadapi masa futur kelima, membaca doa peneguh hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar kita senantiasa berlindung kepada Allah, satu-satunya Dzat yang mampu meneguhkan hati di atas iman dan amal saleh.
Ada beberapa doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca, khususnya saat badai futur melanda jiwa. Di antaranya,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam agama, dan kemantapan dalam meniti petunjuk.”
Doa ini mencerminkan kebutuhan manusia akan kekuatan batin. Bukan hanya teguh sesaat, tapi Istiqamah sepanjang jalan, dengan tekad yang kuat untuk terus berada di jalan kebenaran.
Ada juga doa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepada-Mu.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Demikianlah meteri khutbah Jumat dengan tema “Bekal Menghadapi Masa Futur” yang khatib sampaikan. Lima bekal yang bisa menolong kita mengatasi masa futur dalam ibadah tersebut adalah: niat yang lurus, amal kecil yang Istiqamah, lingkungan yang baik, variasi amal saleh, serta doa-doa peneguh hati.
Dengan menjaga kelima-limanya, insyaallah, kita akan mampu bertahan dalam ketaatan, hingga bertemu Allah dalam keadaan husnulkhatimah.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُخْتَارُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ.
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، اَللَّهُ تَعَالَى قَالَ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَانْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ﴾
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ingatlah, seorang mukmin yang cerdas bukanlah yang tidak pernah jatuh, melainkan yang ketika terjatuh segera bangkit, kembali kepada Allah dengan taubat dan amal shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat al-Hakim no. 5,
إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian.”
Maka mintalah kepada Allah agar selalu memperbarui iman dalam hati kita, agar semangat ibadah tidak padam, dan agar kita tetap istiqamah hingga akhir hayat.
Doa Penutup Khutbah
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُسْتَقِيْمِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالشَّهَادَةِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِين، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا، وَمُؤَيِّدًا وَظَهِيرًا. اللَّهُمَّ فَرِّجْ كُرُوبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Lima Solusi Mengatasi Futur
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?