Khutbah Jumat dakwah.id Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah dan Makna Kurban

Khutbah Jumat Singkat: Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah dan Makna Kurban

Terakhir diperbarui pada ·

Naskah khutbah Jumat yang berjudul Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah dan Makna Kurban ini menguraikan keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah serta makna mendalam dari ibadah kurban.

Penulis menekankan bahwa periode ini adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh, termasuk puasa Arafah yang dapat menghapuskan dosa. Materi khutbah Jumat terbaru ini juga mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim sebagai fondasi ketaatan dan keikhlasan dalam berkurban.

Selain aspek spiritual, materi ini juga menjelaskan tata cara penyembelihan yang sesuai syariat serta pentingnya menjaga adab terhadap hewan. Secara keseluruhan, materi ini mengajak umat Muslim untuk mengutamakan ketakwaan dan kepedulian sosial melalui kurban yang tulus.

Sebagai tambahan, terdapat panduan praktis mengenai larangan memotong kuku dan rambut bagi mereka yang hendak berkurban.

Materi Khutbah Jumat
Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah dan Makna Kurban
Pemateri: Ahmad Robith

Muqadimah Khutbah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ اُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

وَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Khutbah Pertama

Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Saat ini, kita berada di fase waktu yang sangat istimewa. Hari-hari VIP dalam kalender langit. Hari-hari terbaik. Hari-hari di mana Allah subhanahu wata’ala membentangkan karpet merah rahmat-Nya seluas-luasnya untuk kita. Inilah sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah, yang dengannya Allah bersumpah dalam al-Quran Surat al-Fajr, ayat 1—2,

وَالْفَجْرِۙ ١ وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ ٢

Demi waktu fajar, dan demi malam yang sepuluh.”

Terkait dengan betapa agungnya hari-hari ini di mata Allah, mari kita dengarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, hadits nomor 1968,

مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامُ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amal saleh lebih dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini—yakni sepuluh hari pertama Zulhijjah. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah! Kecuali seorang pria yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.'”

Masyaallah! Amal-amal kita hari ini—zikir kita, sedekah kita, puasa kita, itu semuanya lebih Allah cintai daripada amalan-amalan serupa yang dikerjakan di luar sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.

Mungkin ada di antara kita yang bertanya: ustadz, mana yang lebih utama antara sepuluh hari pertama Zulhijjah ini dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan?

Dalam Majmu’ al-Fatawa, jilid 25 halaman 287, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika ditanya dengan pertanyaan ini beliau menjawab, “Siang hari di sepuluh hari pertama Zulhijjah itu lebih utama daripada siang hari di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sedangkan malam hari pada sepuluh hari terakhir Ramadhan itu lebih utama daripada malam hari pada sepuluh hari pertama Zulhijjah.

Mengapa demikian?

Ibnul Qayyim, murid beliau, menjelaskan bahwa, karena tidak ada hari-hari yang di dalamnya amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini. Selain itu, pada siang hari Zulhijjah ini ada hari Arafah, hari raya kurban, dan hari Tarwiah. Dan karena, Rasulullah menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan banyak ibadah, dan pada malam itu terdapat Lailatulqadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Maka dari itu, jamaah sekalian, marilah kita semarakkan sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah ini dengan amal saleh, sebagaimana kita semangat menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan kita dengan ibadah.

Salah satu amalan utama pada hari-hari ini adalah puasa Arafah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat Muslim nomor 1162,

صِيَامُ ‌يَوْمِ ‌عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ.

Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa tahun yang sebelumnya, dan dosa tahun yang sesudahnya.”

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah

Adapun puncak keagungan hari-hari mulia ini adalah Yaumun Nahr, Hari Raya Kurban. Sebuah ibadah yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, al-Quran Surah al-Kautsar: 2,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)!

Syariat kurban ini tidak lepas dari kisah Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam. Berpuluh-puluh tahun beliau menanti kehadiran sang buah hati. Rambutnya telah memutih, tulangnya telah rapuh, namun keyakinannya kepada Allah tidak pernah runtuh. Ketika akhirnya Allah mengaruniakan Ismail—anak yang amat beliau cintai dan nantikan, tiba-tiba turun perintah yang menyambar hatinya, “Sembelihlah anakmu!”

Pernahkah kita menempatkan diri kita di posisi Ibrahim? Pernahkah kita membayangkan jika diperintahkan untuk mengorbankan anak yang kita cintai dan nantikan setelah bertahun-tahun?

Apakah Ibrahim protes? Tidak. Apakah Ismail memberontak? Tidak. Mereka mencontohkan puncak kepasrahan tertinggi. Karena bagi mereka, cinta kepada Allah harus diletakkan di atas segala cinta di dunia ini. Ketika pisau itu bersiap menggores leher Ismail, Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar.

Dari sinilah kita belajar, jamaah sekalian… Kurban itu bukan sekadar urusan menumpahkan darah hewan. Kurban itu ibadah hati. Allah berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 37,

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”

Makna Kurban

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah

Karena kurban adalah ibadah yang agung, maka syariat menetapkan aturan fikih agar ibadah ini sah dan diterima di sisi Allah. Perhatikan baik-baik syarat hewannya. Jangan asal beli kambing atau sapi yang murah tapi cacat.

Abu Daud dalam Sunan-nya, hadits nomor 2802, meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‌أَرْبَعٌ ‌لَا ‌تَجُوزُ ‌فِي ‌الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا، وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى.

“Empat cacat yang tidak boleh ada pada hewan kurban: Pertama, buta sebelah yang jelas butanya; kedua, sakit yang jelas sakitnya; ketiga, pincang yang jelas pincangnya; dan keempat, sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.”

Islam juga sangat menjunjung tinggi adab dan kasih sayang, bahkan kepada hewan yang akan disembelih. Larangan keras bagi kita menyiksa hewan, menajamkan pisau di depannya, atau menyembelihnya di hadapan hewan lain.

Syaddad bin Aws meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat Muslim nomor 1955,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ.

“Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh (dalam qisas/jihad), lakukanlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih hewan, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya.”

Dan bagi kita yang sudah berniat kurban tahun ini, ada sunah yang amat ditekankan sejak hilal Zulhijjah terlihat hingga hewan kita disembelih. Dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat Muslim nomor 1977,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ.

“Jika kalian melihat hilal Zulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya.” Artinya, tidak memotong kuku dan mencukur rambut hingga kurbannya disembelih. Sunah ini hanya berlaku bagi  shahibul qurban, bukan keluarganya.

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah

Mari kita jaga niat ibadah kurban kita agar senantiasa ikhlas karena Allah semata. Syekh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan Surat al-Hajj ayat 37, yang sebelumnya khatib bacakan, memberikan peringatan tegas.

Syekh as-Sa’di, dalam Tafsir as-Sa’di halaman 538, menegaskan bahwa dalam ayat ini terdapat dorongan untuk ikhlas dalam menyembelih kurban. Hendaknya tujuannya murni karena mengharap wajah Allah semata, bukan karena kebanggaan atau pamer kekayaan, bukan karena riya’, bukan karena ingin dipuji, dan bukan pula sekadar kebiasaan atau adat rutinitas semata.

Hendaknya kita menyadari bahwa kurban adalah ibadah yang sangat mulia, ia bukan sekadar tradisi. Tujuan terbesarnya adalah taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah dengan takwa dan keikhlasan.

Di sisi lain, kurban membawa nilai sosial yang amat indah. Ia menumbuhkan ruh saling menanggung beban dan menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat. Ketika daging-daging itu sampai ke dapur fakir miskin yang mungkin setahun penuh tak pernah merasakan nikmatnya makan daging, di situlah semua umat Islam menyatu dalam senyum kebahagiaan menyambut hari raya.

Mari kita bertindak! Jika hari ini ada kelapangan rezeki di diri kita, jangan tunda lagi. Sisihkan, beli hewan kurban terbaik. Tunjukkan kepada Allah bahwa harta ini tidak ada artinya dibandingkan cinta kita kepada-Nya. Jadikan tetesan darah pertama hewan kurban itu sebagai penggugur dosa-dosa kita.

Semoga Allah subhanahu wata’ala melembutkan hati kita, mengaruniakan kita keikhlasan ala Nabi Ibrahim, dan menerima segala amal ibadah kita di sepuluh hari pertama Zulhijjah ini.

أَقُوْلُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ اُوْصِيْنِيْ نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللَّهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah dan Makna Kurban
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading