Gambar Featured dakwah.id Menjaga Rasa Malu di Era Media Sosial

Materi Khutbah Jumat: Menjaga Rasa Malu di Era Media Sosial

Terakhir diperbarui pada ·

Materi Khutbah Jumat:
Menjaga Rasa Malu di Era Media Sosial

Pemateri: Ustadz Fairuz An Nafidz

Mukadimah Khutbah Jumat

الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، جَعَلَ الْحَيَاءَ شُعْبَةً مِنْ شُعَبِ الْإِيْمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، أَمَرَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَجَعَلَهَا مِنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْإِيْمَانِ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ رَبُّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَإِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ،

صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dengan fitrah rasa malu, sebuah anugerah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman.

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab hanya dengan takwa itulah, kita bisa menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan murka Allah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Hari ini kita akan membahas satu perkara yang sering terlupakan di tengah kemudahan hidup kita, yaitu tentang menjaga malu. Rasa malu ibarat pakaian batin yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia, sesuatu yang seharusnya kita rawat baik-baik, bukan sesuatu yang kita tanggalkan begitu saja hanya demi sebuah pengakuan atau perhatian dari orang lain.

Dahulu, banyak hal dalam kehidupan seseorang dijaga rapat-rapat sebagai sesuatu yang bersifat pribadi. Persoalan rumah tangga, kesedihan yang mendalam, bahkan kebahagiaan yang sederhana, semuanya disimpan sebagai bagian dari kehormatan diri. Namun kini, media sosial telah mengubah banyak hal.

Apa yang dahulu dijaga sebagai rahasia, kini dengan mudah terpampang untuk dilihat siapa saja, hanya dengan sekali ketuk di layar ponsel. Dari sinilah kita perlu merenung kembali, bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga malu di tengah keterbukaan zaman seperti sekarang ini.

Rasa Malu Adalah Bagian dari Iman

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam ajaran Islam, malu atau haya bukanlah sekadar sifat sopan santun biasa, melainkan karakter yang harus dipegang teguh oleh setiap muslim, karena ia adalah bagian dari iman.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 9 dan Imam Muslim hadits nomor 35, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”

Hadits ini menegaskan kepada kita, bahwa seseorang yang menjaga malu sesungguhnya sedang menjaga salah satu bagian penting dari keimanannya sendiri.

Rasa malu inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Seseorang yang memiliki malu akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang tidak pantas, sebab ia merasa ada yang mengawasi, baik itu Allah, dirinya sendiri, maupun orang-orang di sekitarnya.

Malu menjadi penjaga hati, penjaga kehormatan, dan penjaga akhlak seorang muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, ketika rasa malu mulai hilang dari diri seseorang, ia akan semakin mudah menganggap ringan perbuatan maksiat. Sesuatu yang dahulu terasa tabu untuk dilakukan atau ditampilkan, lambat laun terasa biasa saja.

Dari sinilah kita memahami, bahwa menjaga malu bukan perkara sepele, melainkan benteng pertama yang menentukan sejauh mana seseorang masih memiliki kepekaan terhadap batas-batas yang telah Allah tetapkan.

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat Lima Dasar Akhlak Mulia

Menjaga Rasa Malu kepada Allah, Bukan Hanya kepada Manusia

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Ukuran malu yang sesungguhnya bukanlah malu karena dilihat manusia, melainkan malu karena Allah senantiasa melihat kita.

Manusia mungkin tidak melihat apa yang kita lakukan ketika sendirian, namun Allah subhanahu wata’ala mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang kita perlihatkan maupun yang kita sembunyikan rapat-rapat.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi hadits nomor 2458, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya:

اسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”

Para sahabat berkata:

قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا لَنَسْتَحْيِيْ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ

“Wahai Rasulullah, sungguh kami benar-benar malu kepada Allah, walhamdulillah.”

Maka beliau bersabda:

لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bukan demikian maksudnya. Akan tetapi, malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dipahaminya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, serta mengingat kematian dan kebinasaan. Barang siapa yang menghendaki akhirat, niscaya ia akan meninggalkan perhiasan dunia. Siapa saja yang telah melakukan hal tersebut, maka sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”

Malu kepada Allah inilah yang seharusnya terlihat dalam setiap perilaku kita, baik ketika sedang sendirian maupun ketika berada di tengah keramaian manusia. Dalam kehidupan digital saat ini, hal ini menjadi semakin relevan untuk kita renungkan. Ketika tidak ada seorang pun di samping kita, saat kita hanya berdua dengan layar ponsel, bukan berarti tidak ada yang melihat kita.

Menjaga malu berarti tetap menjaga diri, sikap, dan apa yang kita perlihatkan, bahkan ketika kita merasa sendirian di balik layar, jauh dari pandangan siapa pun kecuali Allah subhanahu wata’ala.

Ketika Media Sosial Membuat Rasa Malu Semakin Mudah Hilang

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dahulu sesuatu yang memalukan mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang saja di sekitar kita. Sekarang, sebuah foto, video, atau tulisan dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Semua orang berpotensi menjadi penonton atas kehidupan kita, kapan saja, tanpa kita bisa mengendalikannya lagi begitu sesuatu diunggah.

Fenomena ini membuat batas antara yang privat dan yang publik menjadi kabur. Persoalan rumah tangga dibagikan agar mendapat simpati. Kehidupan keluarga ditampilkan demi tontonan. Sesuatu yang semestinya menjadi rahasia justru dijadikan bahan untuk mendapatkan perhatian dari orang banyak.

Tanpa disadari, sebagian orang mulai menjadikan keluarga dan kehidupan pribadinya sebagai komoditas, hanya demi validasi dari layar kaca.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian orang menjadi terikat dengan jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut. Keinginan untuk terus mendapatkan perhatian ini dapat membuat seseorang perlahan mengabaikan batas-batas kepantasan yang dahulu ia jaga.

Ketika sesuatu yang awalnya membuat malu terus-menerus dipertontonkan, lama-kelamaan hal itu dianggap biasa saja.

Kepekaan hati terhadap kemungkaran pun ikut melemah. Di sinilah pentingnya kita kembali menjaga malu, agar kita tidak larut dalam arus yang perlahan menggerus rasa malu itu sendiri.

Baca artikel terkait: Bahaya Toxic Dopamine Terhadap Sifat Mujahadah

Menjaga Malu Bukan Berarti Menutup Diri dari Dunia

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Meskipun demikian, menjaga malu bukan berarti kita harus menjauhi media sosial sepenuhnya. Media sosial sesungguhnya hanyalah sarana. Ia bisa digunakan untuk kebaikan, seperti menyebarkan ilmu dan nasihat yang bermanfaat, namun ia juga bisa digunakan untuk keburukan.

Persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada bagaimana seorang muslim menggunakannya.

Sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:

Apakah ini benar?

Apakah ini bermanfaat?

Apakah ini pantas diketahui oleh orang lain?

Dan yang terpenting, apakah saya rela jika kelak hal ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?

Menjaga malu berarti memiliki batas dalam diri, bahkan ketika teknologi memberi kita kebebasan untuk melakukan apa saja tanpa ada yang mengawasi secara langsung.

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Singkat: Bijak dalam Bermedsos

Bagaimana Menjaga Rasa Malu di Era Media Sosial?

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar tetap dapat menjaga malu di tengah derasnya arus media sosial.

Pertama, menghadirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Apa yang kita lihat, kita tulis, dan kita bagikan, semuanya diketahui oleh Allah subhanahu wata’ala. Kesadaran inilah yang menjadi pondasi bagi seseorang untuk tetap menjaga malu, bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang melihatnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah al-Hadid ayat 4:

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Kedua, menjaga pandangan, pendengaran, dan lisan kita.

Tidak semua yang muncul di layar harus kita lihat, tidak semua yang terlintas di pikiran harus kita tuliskan, dan tidak semua yang kita dengar harus kita teruskan kepada orang lain.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُوْلًا

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Menjaga Lisan di Era Digital

Ketiga, memilih lingkungan pertemanan, sebab teman sangat memengaruhi kebiasaan dan akhlak seseorang.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud hadits nomor 4833 dan Imam at-Tirmidzi hadits nomor 2378, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.”

Di era digital, hal ini bukan hanya berlaku pada teman yang kita temui langsung, tetapi juga akun yang kita ikuti, konten yang kita konsumsi setiap hari, dan tokoh yang kita jadikan panutan.

Keempat, bagi para orang tua, mendidik anak tentang malu juga menjadi tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Nasihat dan larangan saja tidak cukup, sebab anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Orang tua perlu menjadi teladan dalam menjaga ucapan, pandangan, privasi keluarga, dan cara menggunakan media sosial dengan bijak.

Kelima, biasakanlah untuk berpikir sejenak sebelum membagikan sesuatu, baik itu foto, video, cerita keluarga, komentar, maupun informasi pribadi.

Tanyakan pada diri sendiri, apakah yang hendak kita bagikan justru akan membuka aib atau merendahkan kehormatan diri sendiri dan orang lain. Menjaga malu di media sosial berarti belajar menahan diri sejenak, sebelum jari kita menekan tombol unggah.

Rasa Malu Adalah Penjaga Kehormatan

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Malu bukanlah sebuah kelemahan, dan malu juga bukan penghalang bagi kemajuan seseorang. Malu adalah bagian dari iman, sekaligus penghias akhlak seorang muslim.

Dunia digital boleh saja terus berkembang dengan segala kemudahannya, namun akhlak seorang muslim tidak boleh ikut kehilangan batas hanya karena mengikuti arus zaman.

Menjaga malu pada hakikatnya adalah menjaga kehormatan diri kita sendiri, kehormatan keluarga, dan kehormatan masyarakat secara keseluruhan.

Marilah kita jadikan rasa malu ini menyertai kita bukan hanya ketika berada di dalam masjid, tetapi juga ketika kita sedang memegang ponsel dan merasa sendirian, jauh dari pandangan siapa pun kecuali Allah subhanahu wata’ala.

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Akhlak Mulia Jalan Terdekat Menuju Surga

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjaga Rasa Malu di Era Media Sosial
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading