Materi Khutbah Jumat ini membahas keutamaan shaf pertama shalat berjamaah. Khutbah singkat ini menegaskan bahwa Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada mereka yang berada di barisan terdepan, menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan. Selain itu, materi ini menyoroti hikmah di balik shaf pertama, seperti mengajarkan disiplin dan kesungguhan dalam beribadah.
Khutbah Jumat ini juga menyajikan sebuah kisah inspiratif dari Sahabat Ali bin Abi Thalib yang menerima pertolongan luar biasa dari para malaikat agar tidak tertinggal rukuk pertama, meskipun ia sempat meninggalkan barisan karena keraguan wudhu.
Secara keseluruhan, khutbah ini mendorong jamaah untuk bersegera menuju shaf pertama dalam shalat berjamaah sebagai cerminan kesungguhan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Materi Khutbah Jumat
Keutamaan Shaf Pertama Shalat Berjamaah
Pemateri: Ustadz Muhammad Faishal Fadhli
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Khutbah Pertama
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Shalat berjamaah adalah kesempatan emas untuk mendapatkan ridha Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan kita tentang pentingnya shalat, tetapi juga mengingatkan: siapa yang bersegera mendapatkan shaf pertama shalat berjamaah, siapa yang tidak terlambat dari takbir pertama, maka Allah lipatgandakan pahalanya.
Hadits Keutamaan Shaf Pertama Shalat Berjamaah
Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 590 dan Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 437 meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا.
“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada azan dan pada shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan cara lain untuk memperolehnya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.
Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada pergi lebih awal (ke masjid untuk shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”
Betapa besar pahala yang Allah janjikan bagi mereka yang menempati shaf pertama shalat berjamaah. Bahkan jika manusia harus mengundi untuk mendapatkannya, mereka rela melakukannya.
Baca juga: Inilah 3 Kelebihan Seorang Muadzin
Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 22263 juga meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada mereka yang berada di shaf pertama.”
Bayangkan, wahai jamaah sekalian, siapa pun yang berada di barisan pertama, Allah dan malaikat yang langsung mendoakannya. Betapa mulianya posisi ini, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara ruhani. Doa para malaikat, rahmat dari Allah, menyertai setiap gerakan dan sujud kita di shaf itu.
Perhatikan pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membedakan antara shaf laki-laki dan perempuan,
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim no. 440)
Bagi laki-laki, shaf pertama shalat berjamaah adalah kedekatan dengan imam, pahala yang berlimpah, keberkahan shalat. Bagi perempuan yang shalat berjamaah bersama laki-laki, shaf belakang menjadi pelindung dari fitnah, menjaga khusyuk dan kesucian ibadah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan,
لَا تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ
“Janganlah kalian berselisih (dalam barisan), karena hal itu akan menyebabkan hati kalian berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada shaf pertama.” (HR. Ahmad No. 18517)
Hikmah Shaf Pertama Shalat Berjamaah
Setelah menyimak hadits-hadits tentang keutamaan shaf pertama tersebut, marilah kita memetik hikmahnya. Ada dua faedah yang penting untuk digarisbahwahi:
Hikmah Pertama
Pertama adalah shaf awal atau barisan pertama dalam shalat merupakan tempat keberkahan. Tempat ini amat dicintai Allah dan para malaikat.
Hikmah Kedua
Kemudian yang kedua,menempati shaf pertama shalat berjamaah mengajarkan kita tentang disiplin, ketepatan waktu, dan kesungguhan dalam ibadah.
Shaf pertama adalah tanda kesungguhan. Orang yang bergegas ke shaf pertama shalat berjamaah menunjukkan bahwa ia tidak menunda untuk mendekatkan diri kepada Allah, ia menempatkan shalat di posisi utama dalam hidupnya. Hal ini mengajarkan kita untuk menyiapkan hati dan diri sebelum shalat, agar tidak hanya mengikuti jamaah, tapi benar-benar hadir secara spiritual.
Kisah Sahabat Ali bin Abi Thalib Tentang Keutamaan Shaf Pertama Shalat Berjamaah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Berkaitan dengan shaf awal, ada sebuah kisah indah yang layak untuk kita renungkan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, suatu ketika para sahabat shalat Asar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pada rakaat pertama, beliau rukuk cukup lama. Begitu lamanya, hingga kami menyangka beliau tidak akan bangkit lagi dari rukuk itu. Namun akhirnya beliau bertakbir, mengangkat kepala, dan melanjutkan shalat sampai selesai.
Selesai salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari mihrab imam. Beliau segera mencari, “Di mana saudaraku, putra pamanku, Ali bin Abi Thalib?”
Mendengar panggilan itu, Ali yang berada di shaf terakhir menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah.”
Ia pun segera maju ke depan hingga duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu bertanya, “Wahai Abul Hasan, tidakkah engkau pernah mendengar apa yang diturunkan Allah kepadaku tentang keutamaan shaf pertama dan takbir pertama dalam shalat?”
Ali menjawab, “Iya, wahai Rasulullah, aku sudah mendengarnya.”
Beliau bertanya lagi, “Kalau begitu, apa yang membuatmu terlambat mendapatkan shaf pertama dan takbir pertama? Apakah kecintaanmu kepada Hasan dan Husain menyibukkanmu?”
Ali menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah. Kecintaanku kepada keduanya tidak akan memalingkanku dari kecintaanku kepada Allah.”
Baca juga: Shalat Jamaah Selain di Masjid Apakah Sama Nilainya dengan Shalat Jamaah di Masjid?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi, “Kalau begitu, apa yang menyibukkanmu, wahai Ali?”
Ali kemudian menjelaskan dengan tenang, “Wahai Rasulullah, ketika Bilal mengumandangkan azan, aku sudah berada di masjid dan melaksanakan shalat dua rakaat.
Ketika Bilal mengumandangkan iqamah, aku pun sudah berdiri dalam shaf bersama jamaah. Bahkan ketika engkau bertakbir pertama, aku juga ikut bertakbir bersama engkau. Tetapi kemudian aku merasa ragu terhadap wudhuku.
Aku keluar dari masjid, lalu pergi ke rumah Fatimah. Aku memanggil Hasan dan Husain, tapi keduanya tidak ada.
Ketika aku sedang kebingungan mencari air, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah kananku. Aku menoleh, dan kulihat sebuah bejana dari emas, ditutupi dengan kain berwarna hijau.
Aku mendekatinya, lalu membuka kain tersebut. Ternyata di dalam bejana itu ada air yang sangat putih, lebih putih daripada susu. Rasanya manis, lembut, dan sejuk. Aku pun berwudhu dengan air itu. Lalu aku mengusap tubuhku dengan kain hijau tersebut.
Setelah itu, aku kembalikan kain itu ke atas bejana. Namun ketika pandanganku berpaling sekejap, bejana dan kain hijau itu lenyap, aku tidak tahu siapa yang meletakkannya dan siapa yang mengambilnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan cerita itu. Lalu beliau tersenyum dan berdecak kagum, “Wahai Abul Hasan, tahukah engkau siapa yang mendatangkan bejana dan kain hijau itu kepadamu?”
Ali menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Yang datang menyediakan bejana itu adalah Jibril. Air di dalamnya adalah air dari telaga yang suci. Kain hijau itu disediakan oleh Mikail. Sedangkan yang menahan kedua tanganku dan lututku saat rukuk tadi adalah Israfil, hingga engkau sempat kembali dan ikut rukuk bersamaku pada rakaat pertama.”
Kemudian beliau menutup sabdanya dengan kalimat yang agung, “Wahai Abul Hasan, barang siapa mencintaimu, niscaya Allah akan mencintainya. Dan barang siapa membuatmu marah, niscaya Allah akan murka kepadanya.”
Kisah ini diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya yang berjudul Bahrud Dumu’.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman Sayidini Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang sangat inspiratif.
Hikmah Pertama
Kisah ini menegaskan bahwa shaf pertama shalat berjamaah bukan sekadar soal tempat, melainkan simbol kesungguhan hati dalam mendekatkan diri kepada Rabbul Izzati.
Ali bin Abi Thalib, meski akhirnya berada di shaf terakhir karena uzur syar’i, namun sebenarnya ia telah berusaha untuk mendapatkan shaf pertama shalat berjamaah.
Hikmah Kedua
Shaf pertama shalat berjamaah mendapatkan perhatian khusus dari Allah dan Rasul-Nya.
Dalam riwayat ini, Allah bahkan menyiapkan pertolongan khusus bagi Ali agar ia dapat kembali dan tidak masbuq satu rakaat pun. Ini menunjukkan bahwa berada di shaf awal membawa keberkahan dan pertolongan, karena Allah subhanahu wata’ala mencintai hamba-hamba-Nya yang bermujahadah.
Hikmah Ketiga
Shaf pertama shalat berjamaah menjadi simbol kesatuan dan disiplin jamaah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan bahwa shaf pertama shalat berjamaah adalah yang paling utama. Karena dari shaf ini, shalat berjamaah berjalan dengan teratur dan rapi. Disiplin ini melatih hati untuk senantiasa mengutamakan Allah dan menata kehidupan sehari-hari dengan tertib.
Khutbah Jumat Singkat: Akibat Meninggalkan Shalat Jumat
Hikmah Keempat
Terakhir, hikmah terbesar yang bisa kita ambil adalah: keutamaan shaf awal bukan hanya pahala tambahan, tapi kesempatan untuk merasakan kedekatan dengan Allah, ketenangan dalam shalat, dan pertolongan-Nya yang tersembunyi.
Maka bersegeralah untuk menempati shaf pertama shalat berjamaah, dan jadikan ia sebagai cermin kesungguhan dalam beribadah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Demikianlah khutbah Jumat pada siang hari ini. Mudah-mudahan materi yang telah disampaikan bisa menjadi bekal kita semua untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُخْتَارُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ.
Ma’asyiral muslimin
Taqwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal hidup. Mari kita hiasi diri kita dengan shalat berjamaah, mari kita jaga langkah kita agar selalu bersegera menuju masjid. Jadilah kita orang-orang yang dicintai Allah karena cinta kepada shaf pertama dan takbir pertama.
Doa Penutup Khutbah Jumat
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُسْتَقِيْمِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالشَّهَادَةِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِين، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا، وَمُؤَيِّدًا وَظَهِيرًا، اللَّهُمَّ فَرِّجْ كُرُوبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Keutamaan Shaf Pertama Shalat Berjamaah
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?