Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Jauhi Riba Perbanyak Sedekah Harta

587

Jauhi Riba Perbanyak Sedekah Harta

Oleh: Shodiq Alislami

 

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالصِّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kita ke hadirat Allah ‘azza wajalla yang telah menganugerahi kita berbagai macam nikmat, terutama nikmat iman, nikmat bertauhid, dan nikmat Islam.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umat yang mengikuti jejak langkahnya hingga hari kiamat kelak.

Kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah shalat Jumat untuk senantiasa memperbanyak aktivitas yang memompa bertambahnya derajat iman dan takwa kita, memperbanyak muhasabah diri, dan memperbanyak istighfar di setiap waktu dan tempat.

Mari bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab takwa adalah jalan kemenangan. Takwa adalah satu-satunya jalan yang dapat membahagiakan jiwa-jiwa manusia di dunia fana ini. Hanya dengan takwa, kemenangan akan dapat diraih oleh manusia di akhirat kelak.

Tidaklah Allah ‘azza wajalla menurunkan kitab suci al-Quran melainkan sebagai petunjuk bagi hamba-hambanya dalam rangka meraih kebahagiaan dunia dan kemenangan di akhirat.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)

Maka, setiap jalan dan petunjuk yang mengeluarkan manusia dari tuntunan al-Quran dan as-Sunnah, itu adalah jalan dan petunjuk menuju kesengsaraan.

Namun sayang sekali, ternyata banyak hamba-hamba Allah ‘azza wajalla yang terjebak pada jalan dan petunjuk semu itu. Orang-orang yang terjerumus itu hanya akan menyadari ketika telah tiba waktu merasakan akibatnya.

Syaikh Khalid al-Mushlih mengatakan,

أَنَّ الْعَوَاقِبَ يَتَبَيَّنُ بِهَا خَطَأَ الْبِدَايَاتِ

“Hanya akibatlah yang mampu menjelaskan kelirunya sebuah permulaan.”

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Banyak sekali manusia yang menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi menyimpang dan melanggar aturan-aturan yang telah Allah ‘azza wajalla tetapkan, hanya karena ingin menuruti dan memenuhi kepentingan hawa nafsunya.

Dengan mudahnya berbagai macam bentuk penyimpangan dan pelanggaran syariat bersarang dalam diri manusia layaknya kayu kering yang dilalap api.

Itulah sebabnya mengapa dalam syariat Islam Allah ‘azza wajalla menetapkan salah satu kewajiban hamba Allah ‘azza wajalla yang bertakwa adalah saling menyeru kepada perintah Allah ‘azza wajalla dan saling mencegah dari perbuatan mungkar; Amar makruf nahi mungkar. Dengan harapan, tegaknya keselamatan antar sesama manusia dan keharmonisan kehidupan seluruh umat.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Sungguh, sikap menyimpang dari perintah Allah ‘azza wajalla telah menjadikan manusia lemah. Sikap pelanggaran terhadap syariat Allah ‘azza wajalla telah menciptakan kabut hitam dalam diri manusia, pengelihatan manusia menjadi semu, sehingga kelemahan itu menjadikan dirinya tak mampu lagi membedakan mana al-Haq dan mana al-Bathil.

Seiring dengan berjalannya waktu, manusia baru akan menyadari betapa buruknya dampak pelanggaran terhadap perintah dan syariat Allah ‘azza wajalla.

Zina, dalam pengelihatan sepintas mata manusia, perbuatan ini akan terlihat memberikan kenikmatan kepada pelakunya. Kemudian ia mencoba untuk memberikan ruang kepada perbuatan ini dalam hatinya. Sampai pada tingkatan ia anggap zina adalah suatu hal yang wajar, legal, bahkan menjadikannya sebuah tradisi.

Namun, setelah ia merasakan betapa zina adalah perbuatan yang biadab, mendatangkan penyakit, merusak moral generasi bangsa, dan menghancurkan ekosistem kehidupan antar nasab manusia sebagai saudara, kerabat, dan tetangga, barulah pelakunya menyadari bahwa zina itu haram untuk dilakukan.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Selain zina, ada satu perbuatan biadab yang berada di tengah-tengah kita. Karena saking merebaknya perbuatan keji tersebut, manusia menganggapnya sebagai sebuah tradisi yang biasa dan wajar. Perbuatan itu adalah riba. Bertransaksi dengan sistem riba. Memakan harta riba.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Perlu kita pahami baik-baik, bahwa riba adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah ‘azza wajalla secara jelas dengan dalil qath’i dalam al-Quran.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Allah ‘azza wajalla menyebut orang yang memakan harta riba ia akan berdiri seperti orang yang kesurupan. Ini adalah akibat yang akan didapat oleh pelaku riba.

Pada saat ini, perekonomian dunia dibangun di atas sistem ribawi. Seluruh aktivitas perekonomian dikendalikan dengan cara riba. Dan sekarang kita lihat dampaknya; persoalan hutang semakin membengkak, sulit untuk dilunasi. Kekayaan menumpuk pada pihak-pihak yang memiliki modal. Rakyat kecil semakin miskin. Krisis terjadi di mana-mana. Tindakan kriminal pun akhirnya merebak ke seluruh negeri akibat ketidakselarasan perekonomian sebuah daerah.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Setiap hari kita mendengar dengan telinga kita kabar tentang krisis ekonomi. Setiap hari kita baca berita tentang kemiskinan. Setiap hari kita disuguhi dengan informasi-informasi kasus kriminal yang dilakukan karena motif persoalan harta.

Tidakkah kita sadari bahwa semua itu adalah akibat dari meluasnya praktik riba dalam perekonomian.

Para pemilik harta menawarkan dengan kalimat-kalimat indah, para pengusaha menawarkan produknya dengan iklan kredit yang menawan. Seolah-olah mereka benar-benar menjadikan calon konsumen mereka sebagai seorang yang terhormat.

Padahal, ternyata di balik semua itu mereka menyisipkan praktik riba dalam muamalah mereka. Kredit dan pinjaman dengan bunga, kredit rumah dengan bunga, penjualan barang dengan riba. Sistem leasing, dan sebagainya… Tidakkah kita sadari bahwa itu semua akan mengantarkan kehidupan manusia pada kehancuran ekonomi?

Banyak sekali hadits yang mengabarkan betapa buruknya dampak praktek riba jika dikerjakan oleh manusia.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim No. 2995)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“Riba itu ada tujuh puluh tingkatan dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah No. 2265. Hadits ini derajatnya hasan)

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Orang mukmin itu melihat sesuatu dengan sudut pandang syariah. Dengan sudut pandang syariah, seorang mukmin tidak akan mudah terkagum-kagum dengan persoalan-persoalan yang menggiurkan.

Dengan kacamata syariah, seorang mukmin tidak akan mudah terpengaruh oleh tawaran-tawaran yang bertentangan dengan syariat Allah ‘azza wajalla. Sebab, melalui sudut pandang syariah, seorang mukmin akan melihat landasan hukum suatu perkara terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

Maka, marilah kita bersama-sama membangun tradisi saling menasehati, saling mengingatkan akan wajibnya melaksanakan perintah Allah ‘azza wajalla, saling mengingatkan akan wajibnya meninggalkan seluruh apa yang dilarang oleh Allah ‘azza wajalla. Dengan begitu, suasana masyarakat islami yang taat pada hukum Allah ‘azza wajalla terwujud dengan baik.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَأَسْتَغْفِرُهُ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالصِّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Pada khutbah kedua ini, khatib mengingatkan kembali kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Mari kita sama-sama jauhi praktik riba dalam transaksi muamalah keseharian kita. Bagi saudara-saudara sekalian yang “terlanjur” terjebak dalam praktik transaksi riba, mari segera bertaubat, dan segera mencari solusi paling tepat untuk keluar dari lingkaran ribawi tersebut.

Khatib nasehatkan pula kepada jamaah sekalian untuk memperbanyak sedekah. Sebab, sedekah itu membawa pahala dan menambah berkah. Harta yang ada pada kita adalah titipan Allah ‘azza wajalla, bukan milik kita. Mari kita tunaikan hak atas harta yang dititipkan ke dalam kantong saku kita masing-masing. Mari lihat saudara-saudara di sekeliling kita, bantulah mereka yang membutuhkan bantuan harta.

Mari kita infakkan sebagian harta kita kepada kaum muslimin yang saat ini sedang ditindas oleh rezim Syiah Nushairiyah di negara Suriah sana. Mereka saudara Muslim kita. Mereka butuh uluran tangan kita.

Dengan banyak berinfak dan sedekah, semoga Allah ‘azza wajalla ringankan beban hidup kita, semoga Allah ‘azza wajalla mudahkan segala permasalahan kita.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ‘azza wajalla

Tentang infaq dan sedekah, khatib mengingatkan kepada jamaah sekalian akan firman Allah ‘azza wajalla,

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ ۖ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Demikian khutbah yang bisa kami sampaikan. Kita akhiri dengan doa:

اِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ.

اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ

نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ

اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَك نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ

نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَك وَنَخْشَى عَذَابَكَ إنَّ عَذَابَك الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللّهُمَّ أَنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الْغَوْطَةَ خَاصَّةً، وَفِي أَنْحَاءِ بِلَادِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَامَّةً،

اَللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْكُفَّارِ وَالْمُحَارِبِيْنَ وَشُرَكَاؤَهُمْ، وَاشْطِطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ،

اَللّهُمَّ اهْزِمْ وَزَلْزِلْهُمْ!

رَبّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.