Setiap kali tahun Hijriah berganti, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada seorang Muslim. Ia bukan sekadar penanda bahwa waktu telah bergeser atau angka tahun telah bertambah, melainkan sebuah alarm sunyi yang mengingatkan bahwa jatah usia kita di bumi semakin berkurang.
Menghadapi bentangan hari di awal tahun Hijriah ini, kita sering kali diliputi kecemasan sekaligus harapan. Bagaimana jika tahun ini penuh ujian? Bagaimana agar lembaran baru ini tidak berakhir sia-sia seperti tahun lalu?
Kesadaran tentang waktu yang terus menyusut ini mengingatkan kita pada pesan mendalam dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang diabadikan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Ḥilyatul Auliyâ`,
“Sesungguhnya dunia ini bukanlah negeri tempat tinggal tetap kalian …. Maka, perbaikilah perjalanan kalian di dalamnya dengan membawa sebaik-baik barang pindahan (amal) yang kalian miliki. Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Abu Nu’aim, Ḥilyatul Auliyâ`, 5/292)
Perjalanan satu tahun ke depan adalah bagian dari safar panjang menuju keabadian yang digambarkan oleh sang Khalifah. Kita tidak bisa melangkah dengan tangan kosong melewati bulan demi bulan ke depan.
Layaknya seorang musafir yang hendak berpindah tempat, kita tidak boleh salah dalam mengepak barang bawaan. Kita butuh “barang pindahan” dan persiapan yang matang agar tidak merugi di akhir tujuan.
Lalu, sudahkah kita memeriksa kembali isi “ransel” spiritual kita di awal tahun ini?
Berikut adalah empat bekal utama yang harus kita bawa di awal tahun Hijriah ini. Tujuannya, agar setiap detik yang kita lalui menjelma menjadi aliran keberkahan yang tak terputus hingga akhir tahun nanti.
Empat Bekal di Awal Tahun Hijriah
Bekal 1: Muhasabah dan Tobat
Sebuah perjalanan yang matang tidak pernah melompat maju begitu saja. Ia selalu bermula dari sebuah jeda untuk melihat ke belakang.
Sebelum kita sibuk merancang tumpukan target baru untuk satu tahun ke depan, setiap Muslim dituntut untuk menengok kembali rekam jejak hidupnya sepanjang tahun lalu.
Mari tanyakan pada hati kecil kita: Bagaimana kualitas sujud dan shalat kita selama ini? Apakah lisan kita lebih sering basah oleh zikir atau justru kerap menggores luka lewat gibah dan dusta?
Sudahkah hak-hak orang tua, pasangan, anak, serta hak sesama Muslim kita penuhi dengan penuh rasa tanggung jawab?
Kesadaran untuk bercermin inilah yang ditegaskan oleh sahabat Nabi, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal itu ditimbang atas kalian.” (Ibnul Jauzi, al-Mawâ’izh, 83)
Khutbah Jumat Singkat: Hikmah Sejarah Penetapan Tahun Baru Hijriyah
Muhasabah yang jujur akan melahirkan kesadaran jiwa untuk segera bertobat.
Kita tahu tak ada manusia yang luput dari khilaf. Namun, pembeda sejati antara hamba yang dicintai Allah dan yang terasing dari rahmat-Nya adalah kecepatan mereka untuk kembali pulang, bukan mereka yang justru asyik menunda-nunda tobatnya.
Sebab, membiarkan satu maksiat tanpa tobat adalah lingkaran setan yang berbahaya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan kita,
أَنَّ الْمَعَاصِيَ تَزْرَعُ أَمْثَالَهَا، وَتُولِدُ بَعْضَهَا بَعْضًا، حَتَّى يَعِزَّ عَلَى الْعَبْدِ مُفَارَقَتُهَا وَالْخُرُوجُ مِنْهَا.
“Bahwasanya maksiat-maksiat itu menanamkan (kemaksiatan) yang seumpamanya, dan sebagian maksiat akan melahirkan sebagian yang lain. Sampai akhirnya, terasa sangat berat bagi seorang hamba untuk meninggalkannya dan keluar darinya.” (Ibnul Qayyim, al-Jawâbu al-Kâfi, 55)
Hikmah dari Imam Ibnul Qayyim ini menjadi peringatan keras bagi jiwa kita. Dosa yang dibiarkan tanpa tobat tidak akan hilang sendiri. Ia justru mengakar, beranak pinak, dan perlahan merenggut kemerdekaan hati kita untuk kembali taat.
Maka, mengakhiri tahun lalu dengan tobat yang tulus bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan darurat. Hanya dengan cara inilah, kita bisa memastikan bahwa lembaran baru yang mulai kita tulis hari ini tidak lagi terbebani oleh belenggu kelam masa lalu.
Bekal 2: Kedekatan dengan Allah
Segala bentuk keberkahan hidup bermula dari seberapa kokoh hubungan seorang hamba dengan Penciptanya.
Di tengah riuh dan cepatnya laju waktu, manusia sering kali lelah berburu ketenangan. Namun nyata, ketenangan sejati tidak akan pernah bersua tanpa menempuh jalan mendekat kepada Allah.
Al-Quran telah mengunci hakikat ini dengan sangat lugas,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Sebab, ada ruang kosong dan retakan tersembunyi di dalam dada yang tidak akan pernah bisa ditambal oleh kesenangan duniawi mana pun. Mengenai hal ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan solusinya yang sangat melegenda,
فَفِي الْقَلْبِ شَعَثٌ لَا يَلُمُّهُ إِلَّا الْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ، وَفِيْهِ وَحْشَةٌ لَا يُزِيْلُهَا إِلَّا الْأُنْسُ بِهِ فِيْ خَلْوَتِهِ.
“Sebab di dalam hati terdapat kegelisahan yang tidak akan dapat dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah. Selain itu, di dalam hati juga terdapat rasa sepi yang mencekam, yang tidak akan dapat dihilangkan kecuali dengan merasa dekat bersama-Nya saat bersunyi-sunyi dengan-Nya.” (Ibnul Qayyim, Madârijus Sâlikîn, 4/17)
Maka, bekal paling krusial untuk mengarungi bentangan tahun yang baru adalah memperbaiki kualitas ibadah kita. Tahun baru harus menjadi panggung bagi kedisiplinan shalat tepat waktu, kebiasaan baru membersamai al-Quran, serta lisan yang lebih karib dengan zikir dan istigfar.
Ketika kita mengawali tahun dengan mengetuk pintu langit melalui doa yang melekat, ketahuilah bahwa ujian hidup tidak akan mengecil, namun mentalitas iman kitalah yang membesar.
Sungguh, siapa saja yang menaruh hatinya di dekat Allah, ia akan berdiri paling tegak saat badai kehidupan datang menerpa.
Bekal 3: Menghias Diri dengan Akhlak Mulia dan Menjaga Lisan
Banyak orang begitu bersemangat membenahi ritual ibadahnya di awal tahun, namun luput memperindah akhlaknya. Padahal, tujuan utama diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke muka bumi ini tidak lain adalah demi menyempurnakan keagungan akhlak.
Di era digital sekarang ini, retaknya hubungan antarmanusia sering kali dipicu oleh ego yang meninggi serta jemari dan lisan yang tidak berpagar. Betapa mudahnya hari ini seseorang menggoreskan luka di hati sesamanya, baik lewat ucapan langsung maupun ketikan di layar gawai.
Materi Khutbah Jumat: Menjaga Lisan di Era Digital
Menghadapi tantangan zaman ini, dalam kitab Ihyâ` Ulûmiddîn termaktub sebuah untaian hikmah mendalam yang menjelaskan bagaimana seorang Muslim seharusnya menjaga lisan dan jemarinya,
إِنَّ لِسَانَ الْمُؤْمِنِ وَرَاءَ قَلْبِهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِشَيْءٍ تَدَبَّرَهُ بِقَلْبِهِ ثُمَّ أَمْضَاهُ بِلِسَانِهِ.
“Sesungguhnya lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya. Maka apabila ia hendak membicarakan sesuatu, ia akan merenungkan dan mempertimbangkannya terlebih dahulu dengan hatinya, kemudian barulah ia mengutarakannya melalui lisannya.” (Al-Ghazali, Ihyâ` Ulûmiddîn, 3/110)
Nasihat ini menjadi tamparan keras di tengah riuh media sosial hari ini. Kita diingatkan bahwa tidak semua yang terlintas di kepala harus diutarakan, dan tidak semua hal yang kita ketahui harus diumbar ke ruang publik.
Jika kita merindukan tahun baru yang diliputi keberkahan, langkah yang tepat adalah merajut kembali benang-benang akhlak yang sempat renggang.
Mulailah mengetuk pintu keberkahan itu lewat tutur kata yang lembut kepada orang tua, tatapan penuh kasih pada pasangan dan anak-anak, serta sikap santun kepada tetangga maupun sesama Muslim.
Sebab sering kali, restu dan berkah dari langit mengalir turun melalui indahnya hubungan yang kita bangun di bumi.
Bekal 4: Memperkokoh Fondasi Ilmu dan Menata Target Amal Saleh
Puncak dari segala persiapan batin ini harus dikunci dengan dua pilar utama kehidupan seorang Muslim, yaitu ilmu yang menuntun dan amal saleh yang membuktikan.
Banyak orang memiliki letupan semangat yang menggebu-gebu untuk beribadah di awal tahun, namun tidak sedikit yang layu di tengah jalan atau bahkan kehilangan arah karena rapuhnya fondasi ilmu.
Menyadari krusialnya hal ini, Imam al-Bukhari rahimahullah sampai meletakkan sebuah judul bab yang sangat monumental dalam kitab sahihnya,
بَابٌ: الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
“Bab: Ilmu itu mendahului ucapan dan perbuatan.” (Shahih Al-Bukhari, “Kitab Al-‘Ilm”,1/59)
Ilmu adalah kompas, sedangkan amal adalah kapalnya. Tanpa kompas yang jelas, kapal amal kita rawan tersesat atau karam diterpa badai syubhat dan syahwat sepanjang tahun ke depan.
Oleh karena itu, manifestasi konkret dari ilmu yang kita miliki adalah dengan mulai menyusun target-target spiritual yang terukur untuk setahun ke depan.
Kita perlu merancang peta dakwah dan peta sosial pribadi. Mulai dari komitmen menghadiri majelis ilmu secara konsisten, mengkhatamkan kitab-kitab pilihan, menambah hafalan al-Quran, hingga memperluas jangkauan sedekah.
Baca juga: Menghafal Al-Quran dan Murajaah Hingga Tingkatan Mutqin? Begini Trik dari Imam Masjid Nabawi
Sebab, hidup tanpa perencanaan yang matang hanya akan membuang umur tanpa makna.
Terkait pentingnya visi dan target hidup ini, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah memberikan petuah emasnya,
يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَعْرِفَ شَرَفَ زَمَانِهِ، وَقَدْرَ وَقْتِهِ، فَلَا يُضَيِّعَ مِنْهُ لَحْظَةً فِي غَيْرِ قُرْبَةٍ، وَيُقَدِّمَ الْأَفْضَلَ فَالْأَفْضَلَ مِنَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
“Sudah sepatutnya bagi manusia untuk mengetahui kemuliaan zamannya dan berharganya waktu yang ia miliki. Dengan demikian, ia tidak menyia-nyiakan satu detik pun darinya untuk selain pendekatan diri (kepada Allah), serta senantiasa mendahulukan hal yang paling utama, lalu yang utama, baik dalam ucapan maupun perbuatan.” (Ibnul Jauzi, Shaidul Khâthir, 33)
Melalui target yang presisi, waktu kita di tahun yang baru tidak akan habis menguap dalam kesia-siaan. Kita tidak lagi sekadar menghabiskan hari, melainkan sedang berinvestasi untuk memanen pahala yang abadi.
Penutup
Tahun baru Hijriah adalah alarm sunyi yang mengingatkan bahwa umur kita terus terkikis, dan hari yang telah lalu tidak akan pernah kembali.
Agar pergantian tahun Hijriah ini tidak menguap sebagai rutinitas belaka, sang ulama tabi’in, al-Hasan al-Bashri rahimahullah menitipkan sebuah renungan mendalam,
ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ.
“Sesungguhnya engkau (wahai manusia) hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pula sebagian dari dirimu.” (Abu Nu’aim, Ḥilyatul Auliyâ`, 2/148)
Maka, mari kita melangkah di awal tahun baru Hijriah ini dengan menggenggam erat empat bekal utama yang telah kita ulas: (1) Muhasabah dan Tobat, (2) Kedekatan dengan Allah, (3) Menghias Diri dengan Akhlak Mulia dan Menjaga Lisan, serta (4) Memperkokoh Fondasi Ilmu dan Menata Target Amal Saleh.
Dengan empat pilar bekal inilah, insyaallah lembaran baru kehidupan kita setahun ke depan akan terisi dengan catatan yang jauh lebih bermakna, produktif, dan diliputi keberkahan dari langit. Wallahu a’lam bish-shawab. (Zaki Abu Barbarosa/dakwah.id)