Materi Khutbah Jumat
Pelajaran dari Musibah Banjir
Pemateri: Ustaz Irfandi Al-Indragiri
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القَائِلِ فِيْ حَدِيْثِهِ الشَّرِيْفِ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِم، وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتِكَى مِنْهُ عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اَلْمُصَلُّونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah
Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, yakni takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah dan menjalankan perintah-Nya.
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah
Kita berkumpul hari ini, bukan hanya untuk melaksanakan kewajiban ibadah shalat Jumat, tetapi juga untuk menyatukan hati dalam rasa duka yang mendalam. Jauh di luar sana; Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, saudara-saudara kita baru saja melewati malam-malam mencekam, di mana air mata langit bertemu dengan kemarahan bumi.
Air, yang seharusnya menjadi rahmat, berubah menjadi genangan dahsyat yang meluluhlantakkan. Tanah, yang seharusnya menjadi pijakan kokoh, tiba-tiba runtuh dan menelan segalanya.
Musibah banjir bandang dan longsor di tempat tersebut telah merenggut nyawa, memisahkan keluarga, melenyapkan harta, dan meninggalkan luka yang menganga di hati kita semua.
Setiap butir air mata yang tumpah, setiap reruntuhan yang tersisa, adalah pesan langsung dari Allah kepada hati yang beriman. Pesan itu bernama muhasabah atau introspeksi.
Saudaraku, mari kita bertanya: Mengapa air yang lembut bisa berubah menjadi ganas?
Dalam al-Quran, Surat asy-Syura ayat 30, Allah subhanahu wata’ala mengingatkan bahwa segala bencana datang sebagai akibat dari ulah tangan manusia,
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).”
Ayat ini tidak bermaksud menuduh korban, melainkan mengajak kita, sebagai satu umat, untuk bercermin.
Apakah kita telah mencintai pohon lebih dari kepentingan sesaat?
Apakah kita telah menghargai sungai sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar tempat membuang sampah?
Apakah kita lalai dalam peran kita sebagai khalifah yang diperintahkan untuk memakmurkan, bukan merusak bumi?
Materi Khutbah Jumat: Sabar ketika Tertimpa Musibah
Bencana ini adalah tamparan lembut dari Allah, mengingatkan kita bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan diambil sama yang punya.
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah
Di saat seperti ini, keimanan kita diuji, bukan hanya dengan kesabaran atas takdir, tetapi juga dengan kasih sayang dan ukhuwah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa iman tidak akan sempurna jika kita tidak mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri sendiri.
Air mata yang membanjiri rumah-rumah saudara-saudara kita adalah cerminan air mata yang harusnya menetes dari mata kita, karena
- Iman menuntut kita merasakan sakit yang sama.
- Islam menuntut kita berbagi beban yang sama.
Bayangkanlah seorang ibu yang kehilangan anaknya, seorang ayah yang kehilangan rumahnya, atau anak-anak yang kini tidak punya tempat berlindung. Rasa sakit ini harus menggerakkan hati kita.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, al-Quran Surat al-Hujurat ayat 10,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.”
Oleh karena itu, mari kita sambut panggilan ukhuwah ini dengan
- Doa tulus: Memohon rahmat dan maghfirah bagi yang meninggal dan kekuatan bagi yang ditinggalkan.
- Bantuan nyata: Menyisihkan sebagian rezeki untuk pemulihan dan kebutuhan pokok mereka. Karena sesungguhnya, harta yang kita berikan tidak akan pernah berkurang, justru bertambah keberkahannya di sisi Allah.
- Tekad perbaikan: Berjanji untuk lebih bijak dalam mengelola lingkungan, agar rahmat Allah tidak berubah menjadi adzab (siksa) bagi kita.
Pelajaran dari Musibah Banjir
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah
Kehilangan dalam musibah banjir bukanlah akhir, tetapi awal dari kembalinya sesuatu kepada Sang Pemilik Sejati. Inilah puncak hikmah dari setiap musibah.
Pertama: Nilai Mati Syahid
Bagi saudara-saudara kita yang wafat tertimpa reruntuhan atau tenggelam dalam musibah banjir, kita berharap mereka mendapatkan kemuliaan syahid akhirat atau biasa dikenal dengan istilah mati syahid hukmi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa orang yang mati tenggelam atau tertimpa runtuhan termasuk syahid. Ini adalah hadiah terindah dari Allah untuk mengakhiri penderitaan mereka dengan kemuliaan yang abadi.
Kedua: Pelajaran Menghargai Waktu dan Kesempatan
Musibah banjir kali ini mengajarkan kita tentang kecepatan waktu. Dalam sekejap, kehidupan bisa berakhir, dan harta bisa lenyap. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan sisa umur kita untuk amal saleh dan berhenti menunda tobat.
Jika Anda memiliki kesempatan untuk membantu, bantulah sekarang. Jika Anda memiliki kesempatan untuk beristigfar, lakukanlah sekarang. Jangan biarkan hati kita mengeras dan lalai hingga peringatan berikutnya datang kepada kita sendiri.
Ketiga: Menguatkan Jati Diri Bangsa dan Umat
Di tengah puing-puing, kita melihat cahaya kemanusiaan dan solidaritas bersinar terang. Inilah jati diri kita sebagai bangsa Indonesia dan sebagai muslim.
Musibah banjir ini menyatukan kita, meleburkan perbedaan suku dan status sosial, menjadikan kita satu barisan yang saling menopang.
Inilah momen untuk membuktikan bahwa ukhwah islamiyah atau persaudaraan Islam bukanlah sekadar slogan di mimbar, tetapi kekuatan sejati yang mampu membangun kembali apa yang telah dihancurkan oleh air dan tanah.
Ma’asyiral muslimin
Marilah kita iringi duka ini dengan amal saleh, istigfar, dan doa yang tulus. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni kelalaian kita, merahmati korban yang meninggal, dan memberi kekuatan kepada mereka yang berjuang untuk bangkit kembali di kampung mereka masing-masing.
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبر.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
يَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيْمُ، يَا وَاحِدُ يَا قَهَّارُ، نَرْفَعُ أَكُفَّ الضَّرَاعَةِ إِلَيْكَ بِقُلُوْبٍ مَوْجُوْعَةٍ، فَزَعاً وَخَوْفاً مِمَّا نَزَلَ بِإِخْوَانِنَا وَأَهْلِيْنَا فِي سُوْمَطْرَا الْغَرْبِيَّةِ مِنَ الْفَيَضَانَاتِ الْعَاتِيَةِ وَالِانْهِيَارَاتِ الْمُرَوِّعَةِ.
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الْكُرُوْبِ شُهَدَاءَ، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ شَبِيْبَ رَحْمَتِكَ وَمَغْفِرَتِكَ.
اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ كَسْرَ قُلُوْبِ مَنْ فَقَدَ عِزِيْزاً، وَعَوِّضْهُمْ خَيْراً فِيْ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ. وَأَلْبِسْهُمْ لِبَاسَ الصَّبْرِ الْجَمِيلِ وَالْيَقِيْنِ.
اَللّٰهُمَّ يَا مُغِيْثَ الضُّعَفَاءِ، كُنْ لَهُمْ عَوْناً وَنَصِيْراً، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاكْسُ عَارِيَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْحَمْ ضَعْفَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ رُدَّ عَلَيْهِمْ ضَائِعَهُمْ، وَأَصْلِحْ لَهُمْ دِيَارَهُمْ وَمُمْتَلَكَاتِهِمْ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَاءَ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِهِمْ وَرَفْعاً لِدَرَجَاتِهِمْ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ، وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Pelajaran dari Musibah Banjir
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?